Beberapa hari setelah mereka pulang dari pantai, hujan turun hampir setiap sore.

Rumah itu menjadi lebih sering dipenuhi suara air yang menetes dari talang dibanding suara percakapan.

Andi mulai pulang lebih awal. Tidak setiap hari. Tetapi lebih sering daripada biasanya.

Pukul delapan malam kini terasa terlambat baginya, padahal dulu jam itu baru dianggap awal malam.

Ia mulai membiasakan diri makan di rumah. Membantu mengangkat piring ke dapur. Sesekali menyapu halaman ketika Sabtu pagi.

Perubahan-perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Icha. Namun perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Ia menerima semuanya seperti menerima hujan. Datang. Lalu pergi.

Suatu malam listrik padam. Seluruh kompleks tenggelam dalam gelap. Andi baru saja memarkir mobil ketika lampu-lampu rumah mendadak mati.

“Hah…”

Ia menghela napas sambil meraba senter di dalam mobil. Begitu membuka pagar, ia melihat cahaya kecil berpendar dari teras. Bukan lampu. Melainkan lilin.

Icha duduk di kursi rotan sambil memegang secangkir kopi hangat.

“Kirain kakak belum sampai.”

Andi duduk di sampingnya.

“Sudah lama mati listrik?”

“Hampir setengah jam.”

Angin bertiup pelan. Nyala lilin bergoyang-goyang, membuat bayangan mereka menari di dinding.

Sudah lama sekali mereka duduk seperti ini. Tanpa televisi. Tanpa ponsel. Tanpa suara notifikasi. Hanya ada hujan. Dan dua cangkir kopi.

“Aneh ya,” kata Andi.

“Apa?”

“Waktu kita belum punya apa-apa, mati listrik begini malah terasa menyenangkan.”

Icha tersenyum.

“Dulu kita bercerita sampai tengah malam.”

“Iya.”

“Dulu kakak hafal semua cerita yang kuceritakan.”

Andi tertawa kecil.

“Masih hafal kok.”

“Oh ya?”

“Coba.”

Icha menatap hujan sebentar.

“Lukisan pertama yang kubuat setelah menikah judulnya apa?”

Andi terdiam. Ia mencoba mengingat. Tidak berhasil.

“Lupa?”

Icha mengangguk pelan.

“Kalau lagu yang sering kita putar di kontrakan?”

Andi kembali diam.

“Yang penyanyinya suka kakak tirukan sambil nyapu lantai.”

Andi tersenyum kikuk.

“Aku benar-benar lupa.”

Icha tidak tampak kecewa.

Ia hanya mengangguk pelan.

“Justru itu.”

“Maksudnya?”

“Dulu kita saling hafal.”

Ia memutar cangkir kopinya perlahan.

“Sekarang kita lebih hafal jadwal rapat, jadwal penerbangan, atau agenda orang lain.”

“Daripada kebiasaan masing-masing.”

Kalimat itu tidak diucapkan untuk menyalahkan. Lebih seperti seseorang yang sedang menceritakan cuaca. Tenang. Tetapi dingin.

Keesokan harinya Andi sengaja membatalkan satu pertemuan. Ia mampir ke toko alat lukis. Sudah bertahun-tahun ia tidak masuk ke tempat seperti itu. Rak-raknya penuh warna. Kuas berbagai ukuran. Cat minyak. Cat akrilik. Kanvas.

Seorang pegawai menghampirinya.

“Selamat siang, Pak. Bisa saya bantu?”

“Saya…”

Andi memandang rak-rak itu dengan bingung.

“Istri saya suka melukis.”

“Baik.”

“Belikan yang paling bagus.”

Pegawai itu tersenyum.

“Maaf, Pak.”

“Cat yang paling bagus belum tentu cocok.”

“Boleh tahu Ibu biasanya melukis pakai media apa?”

Andi terdiam. Akrilik, cat minyak, atau cat air? Ia tidak tahu.

“Ukuran kuas favoritnya?”

Andi menggeleng.

“Jenis kanvas yang biasa dipakai?”

Ia kembali menggeleng.

Untuk pertama kalinya, Andi merasa seperti orang asing saat berbicara tentang perempuan yang telah menemaninya selama empat belas tahun.

Pegawai itu menangkap kebingungannya.

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk sebuah kartu hadiah.

“Mungkin Bapak bisa memberikan ini. Biar Ibu sendiri yang memilih.”

Andi tersenyum hambar.

“Iya.”

Mungkin itu memang lebih jujur.

Sore harinya, Andi pulang membawa kartu hadiah itu. Icha sedang duduk di ruang kerja kecilnya. Lukisan rumah dengan lampu teras kini hampir selesai.

“Aku mampir ke toko alat lukis.”

Icha menoleh.

“Benarkah?”

Andi menyerahkan amplop kecil.

“Aku mau membelikan cat.”

“Tapi ternyata…”

Ia tertawa pelan.

“… aku tidak tahu apa pun tentang hobi istriku.”

Icha menerima amplop itu. Tidak langsung membukanya. Ia hanya memandang wajah Andi beberapa detik.

“Lima belas tahun lalu…”

Andi mengernyit.

“Kita belum lima belas tahun.”

“Hampir.”

Icha tersenyum tipis.

“Hampir lima belas tahun lalu, kakak pernah hafal warna favoritku.”

Andi mencoba mengingat. Tetap gagal.

“Warna apa?”

“Biru tua.”

“Makanya semua hadiahku waktu itu selalu ada warna birunya.”

Andi memejamkan mata. Sedikit demi sedikit ingatan itu kembali. Dompet. Kerudung. Mug. Buku harian. Bahkan bingkai foto pertama mereka. Semuanya memang berwarna biru tua.

“Maaf…”

Suara Andi hampir tak terdengar.

“Aku lupa.”

Icha menggeleng.

“Yang membuatku sedih bukan karena kakak lupa warna favoritku.”

“Lalu?”

“Karena aku tidak ingat kapan tepatnya kakak mulai berhenti ingin mengenalku.”

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. Di luar, listrik akhirnya menyala kembali. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Namun entah mengapa, Andi merasa ada bagian dari rumah itu yang masih gelap.

Malam itu, setelah Icha tertidur, ia masuk ke ruang kerja kecil. Ia duduk di depan lukisan yang belum sepenuhnya kering. Di sudut kanan bawah, dengan huruf-huruf kecil yang nyaris tak terlihat, Icha menuliskan sebuah judul.

“Menunggu Pulang.”

Andi menatap judul itu lama sekali. Lalu tanpa sadar, ia mengingat sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari kebiasaannya.

Ia mengambil ponsel. Membuka percakapan dengan Icha. Tidak ada yang perlu dikirim. Perempuan itu sedang tidur di kamar sebelah.

Namun, untuk pertama kali setelah sekian lama, Andi mengetik sebuah kalimat yang sangat sederhana.

Terima kasih sudah menungguku selama ini.

Ia tidak menekan tombol kirim. Ia hanya memandang layar itu, sementara di ruang sebelah, perempuan yang selama empat belas tahun menjadi rumah baginya masih terlelap, tanpa tahu bahwa suaminya baru saja mulai memahami sesuatu yang seharusnya ia pelajari jauh lebih awal.