Hari Sabtu biasanya menjadi hari yang paling sibuk bagi Andi.

Sejak pukul tujuh pagi, halaman kantor medianya sudah dipenuhi kendaraan. Ruang rapat di lantai dua dipakai untuk evaluasi pemberitaan sepekan terakhir.

Setelah itu ia harus menghadiri pelatihan bagi kelompok usaha binaan di sebuah desa yang berjarak hampir dua jam perjalanan.

Sebelum berangkat, ia melihat kalender di dinding ruang kerja. Tanggal itu dilingkari bentuk hati dengan pulpen hitam

Andi mengernyit.

“Ada apa hari ini?”

Sekretarisnya menoleh.

“Bapak lupa?”

“Lupa apa?”

“Hari ini ulang tahun Ibu.”

Andi terdiam. Bukan ulang tahun pernikahan. Bukan ulang tahun ibunya. Hari itu ulang tahun Icha.

Ia segera mengambil ponsel. Belum sempat membuka aplikasi pesan, telepon dari lokasi pelatihan masuk.

“Pak, peserta sudah datang semua.”

“Saya berangkat sekarang.”

Andi memejamkan mata sejenak. Ia mengetik cepat.

“Selamat ulang tahun, Cha. Maaf, aku harus ke luar kota dulu. Nanti malam kita rayakan, ya.”

Ia membaca ulang pesannya. Terasa terlalu pendek. Terlalu biasa. Ia menghapus semuanya.

“Aku telepon saja nanti di jalan,” gumamnya.

Ponsel dimasukkan kembali ke saku. Ia bergegas keluar.

Di rumah, Icha membuka pintu ketika kurir mengantarkan sebuah paket. Isinya sederhana. Satu buku sketsa baru yang ia pesan seminggu lalu.

Ia mengusap sampulnya perlahan. Sudah lama sekali ia tidak membeli perlengkapan melukis. Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena ia selalu merasa akan mulai lagi “nanti”.

Ia meletakkan buku itu di meja. Ponselnya tetap sunyi. Sesekali ia melirik layar. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.

Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

“Dia pasti lupa.”

Kalimat itu keluar tanpa nada kecewa. Lebih mirip sebuah kesimpulan.

Empat belas tahun hidup bersama membuatnya tahu bahwa Andi tidak pernah sengaja melupakan hal-hal penting. Ia hanya terlalu sering mendahulukan hal lain.

Menjelang siang, pelatihan berlangsung lancar. Andi berdiri di depan puluhan peserta. Di belakangnya terpampang layar bertuliskan:

“Membangun Usaha yang Bertahan.”

“Usaha tidak cukup dibangun dengan modal,” kata Andi.

Ia berjalan perlahan di depan peserta.

“Usaha bertahan karena ada orang yang merawatnya setiap hari.”

Beberapa peserta mengangguk.

“Kalau ditinggalkan terlalu lama, usaha yang paling bagus pun bisa runtuh.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Baru setelah selesai berbicara, Andi terdiam beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa sedang mendengar ucapannya sendiri dari sudut ruangan.

Sore itu, ketika acara berakhir, ia akhirnya membuka ponsel. Belasan pesan memenuhi layar. Ucapan terima kasih dari peserta. Laporan redaksi. Undangan rapat.

Di antara semuanya, ada satu notifikasi dari media sosial. Hari ini ulang tahun Icha Amatta. Ucapkan selamat.

Andi membeku. Dadanya seperti ditarik seseorang. Ia melihat jam. Pukul lima lewat dua puluh.

“Astaga…”

Ia langsung menelepon. Nada sambung terdengar cukup lama. Tidak diangkat. Andi mencoba lagi. Tetap sama.

Icha sedang berada di belakang rumah. Tangannya kotor oleh tanah. Sejak siang ia memindahkan beberapa tanaman ke pot yang lebih besar. Ponselnya tertinggal di ruang tamu.

Ketika ia masuk ke dalam rumah, layar ponsel sudah kembali gelap. Tiga panggilan tidak terjawab. Semua dari Andi.

Icha menatapnya beberapa saat. Lalu mengembalikan ponsel ke meja. Bukan karena ingin menghukum. Ia hanya tiba-tiba merasa terlalu lelah untuk berpura-pura bahwa satu ucapan yang datang menjelang malam mampu menggantikan satu hari yang telah berlalu.

Malam itu Andi pulang lebih cepat. Di tangannya ada sebuah kotak kue kecil dan sebuket bunga lili putih.

Ia membuka pintu dengan napas masih memburu. Rumah sunyi. Lampu ruang tamu menyala.

Icha sedang duduk di sofa sambil menggambar sesuatu di buku sketsa barunya.

Andi tersenyum lega.

“Selamat ulang tahun.”

Ia menyerahkan bunga itu. Icha menerimanya.

“Makasih.”

Hanya itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada wajah cemberut. Tidak ada air mata.

Andi justru lebih takut melihat ketenangan itu.

“Aku benar-benar lupa.”

“Iya.”

“Maaf.”

“Iya.”

Andi duduk di sampingnya.

“Marah?”

Icha menggeleng.

“Dulu mungkin.”

“Dulu?”

“Dulu aku akan menunggu seharian.”

Ia menutup buku sketsanya perlahan.

“Sekarang aku belajar merayakan hal-hal kecil sendirian.”

Andi menelan ludah.

“Siang tadi aku beli makan siang favoritku.”

Icha tersenyum tipis.

“Lalu aku mampir ke toko alat lukis.”

“Setelah itu aku beli sepotong kue.”

Ia menatap Andi.

“Lilin ulang tahunnya cuma satu.”

“Kenapa satu?”

“Supaya cepat padam.”

Andi tidak menemukan jawaban. Ruangan menjadi sangat sunyi. Di atas meja, kue yang dibawa Andi masih utuh. Kotaknya bahkan belum dibuka.

Sementara di tempat sampah dapur, tanpa diketahui Andi, sudah ada kotak kue lain yang lebih kecil. Di dalamnya masih menempel sedikit krim putih dan bekas lilin yang telah habis terbakar.

Kali ini Andi benar-benar melihat sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Bukan bahwa Icha bisa merayakan ulang tahunnya sendiri. Melainkan bahwa ia sudah terbiasa melakukannya.