SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Aurel pernah mendengar seseorang berkata, kalau patah hati terlalu sakit untuk ditangisi di kamar sendiri, pergilah ke gunung.

Sebab gunung tidak banyak bertanya. Ia hanya menyediakan jalan panjang untuk manusia yang ingin berdamai dengan dirinya sendiri.

Katanya lagi, tinggalkan semua kenanganmu di setiap langkah pendakian. Biarkan rasa sakit itu jatuh bersama peluh, bersama napas yang memburu, bersama kaki yang mulai gemetar menahan lelah. Maka saat sampai di puncak, yang tersisa hanyalah langit baru dan hati yang baru.

Aurel menggenggam kalimat itu seperti orang tenggelam menggenggam kayu terakhir. Karena ia benar-benar hampir tenggelam.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Tujuh tahun adalah ratusan pesan selamat pagi. Ribuan panggilan yang diakhiri suara mengantuk. Rencana-rencana kecil tentang rumah sederhana, dapur mungil, dan anak-anak yang bahkan namanya sudah mereka siapkan diam-diam.

Dan semuanya hancur dalam satu malam. Bukan karena orang asing. Tetapi karena perempuan yang selama ini ia panggil sahabat.

Aurel masih ingat bagaimana tubuhnya gemetar saat membuka media sosial malam itu. Foto lelaki yang dia cintai sedang duduk berdampingan dengan sahabatnya sendiri. Terlihat biasa saja bagi orang lain. Tetapi tatapan mata mereka terlalu mudah dibaca oleh seseorang yang sudah mencintai selama tujuh tahun.

Ada cinta di sana. Cinta yang bukan lagi miliknya.

Malam itu Aurel tidak menangis histeris. Justru itu yang paling menyakitkan. Ia hanya duduk diam di lantai kamar sambil menatap layar ponselnya terlalu lama, sampai akhirnya ia sadar bahwa beberapa kehilangan memang datang tanpa suara.

Sejak hari itu, Aurel kehilangan banyak hal sekaligus. Bukan hanya kekasih. Tetapi juga kepercayaan.

Ia mulai takut pada perhatian. Takut pada janji. Takut pada kalimat “aku tidak akan meninggalkanmu,” karena orang yang paling sering mengucapkannya justru pergi lebih dulu.

Dan sekarang, ia berdiri di kaki Gunung Rinjani dengan carrier seadanya dan hati yang bahkan belum sempat sembuh.

Tidak ada persiapan matang. Semua serba mendadak. Semalam ia memesan open trip, pagi ini ia sudah berada di Sembalun.

Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari kenangan.

Langit pagi di sana cerah. Gunung berdiri megah seperti seseorang yang diam-diam tahu bahwa manusia sering datang membawa luka.

Aurel menarik napas panjang.

“Mudah-mudahan setelah ini aku bisa pulang sebagai orang baru,” bisiknya pelan.

Pendakian dimulai. Padang savana membentang luas seperti hamparan hijau yang tidak ada ujungnya. Angin berembus pelan. Langit biru begitu bersih, tetapi isi kepala Aurel tetap penuh.

Ia berjalan sambil menunduk, membiarkan rombongan lain saling bercanda tanpa ikut terlibat. Sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Hai… Aurel?”

Aurel menoleh. Dan waktu seolah mundur beberapa tahun.

“Andi?”

Lelaki itu tertawa kecil. Masih dengan senyum yang sama. Senyum yang dulu sering membuat Aurel salah fokus saat guru sedang menerangkan pelajaran di kelas.

“Ya ampun,” ucap Andi.

“Ternyata benar kamu,” lanjutnya.

Aurel masih tampak terkejut.

“Hai… kebetulan sekali kita bertemu di sini. Mau muncak juga?”

“Iya. Dan lebih kebetulan lagi, ternyata kita satu rombongan,” jawab Andi santai.

Semesta memang aneh. Saat Aurel sedang ingin menghindari semua orang, justru masa lalunya datang berjalan pelan menghampiri.

Andi adalah cinta pertama Aurel saat SMA.

Cinta sederhana yang dipenuhi hal-hal kecil. Berbagi headset saat jam istirahat. Bertengkar karena cemburu hal sepele. Saling menunggu di gerbang sekolah. Hubungan mereka tidak berakhir karena saling membenci, melainkan karena jarak dan waktu yang perlahan mengubah segalanya.

Lima tahun berlalu tanpa kabar berarti. Dan sekarang mereka bertemu di Rinjani.

Sepanjang perjalanan Andi tidak berhenti bercerita. Tentang pekerjaannya. Tentang hidupnya sekarang. Tentang bagaimana ia beberapa kali hampir menghubungi Aurel tetapi selalu mengurungkan niat.

“Kalau dipikir-pikir, aku bodoh juga dulu ngelepasin kamu,” katanya sambil tertawa kecil.

Aurel hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin membuka hati lagi. Hatinya terlalu lelah untuk mengulang luka yang sama.

Tetapi Andi seperti matahari kecil di tengah dinginnya pendakian. Hangat. Ringan. Dan membuat Aurel perlahan lupa bagaimana rasanya curiga pada seseorang.

Saat jalur mulai menanjak curam, Andi tanpa banyak bicara mengambil carrier Aurel.

“Sini.”

“Enggak usah, berat.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu berat kenapa dibawa?”

Andi menoleh sambil tersenyum jahil.

“Karena aku enggak suka lihat kamu capek.”

Kalimat sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sudah terlalu lama merasa sendirian, perhatian kecil bisa terdengar seperti rumah. Dan tanpa sadar, Aurel mulai menikmati kebersamaan itu.

Mereka berjalan berdampingan melewati savana, pos demi pos, tanjakan demi tanjakan. Kabut turun perlahan ketika mereka tiba di Plawangan Sembalun.

Pemandangan Danau Segara Anak terlihat begitu tenang dari atas sana. Langit mulai dipenuhi bintang. Udara dingin menusuk sampai ke tulang.

Rombongan mulai mendirikan tenda. Andi membantu Aurel dalam segala hal. Mengambilkan air. Membuatkan minuman hangat. Bahkan diam-diam menaruh penghangat tangan di saku jaket Aurel.

Hal-hal kecil yang membuat hati perempuan sering kali kalah.

Malam itu mereka duduk di depan tenda. Angin gunung bertiup pelan. Langit Rinjani seperti lautan bintang yang jatuh tepat di atas kepala mereka.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Sampai akhirnya Andi berbicara pelan.

“Aurel…”

“Hm?”

“Kalau dikasih kesempatan… Apa kita bisa mulai lagi?”

Aurel menatap lelaki itu. Tatapan Andi terlalu tulus untuk diragukan.

“Aku masih cinta sama kamu,” lanjutnya lirih.

“Enggak pernah benar-benar hilang.”

Hati Aurel bergetar. Ia tahu dirinya rapuh. Sangat rapuh. Dan mungkin manusia memang paling mudah jatuh saat sedang hancur-hancurnya.

Aurel menunduk kecil sambil tersenyum tipis.

“Kalau begitu… Apa sebaiknya kita mulai lagi dari sini?” suaranya hampir berbisik.

“Dari Plawangan Sembalun?”

Andi terlihat terkejut sesaat sebelum akhirnya tertawa bahagia.

Lelaki itu langsung memeluk Aurel erat.

“Terima kasih, sayang…”

Sayang.

Sudah lama sekali Aurel tidak dipanggil seperti itu. Dan anehnya, satu kata sederhana mampu membuat matanya panas.

Malam itu mereka berbicara sampai larut. Mengenang masa SMA. Hal-hal kecil yang dulu mereka sukai. Mimpi-mimpi yang pernah mereka simpan diam-diam.

Aurel tertawa lagi malam itu. Tertawa tanpa beban untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dan ia pikir mungkin Tuhan benar-benar sedang mengembalikan seseorang yang dulu hilang darinya.

Mereka hanya tidur sebentar sebelum summit attack dimulai. Perjalanan menuju puncak begitu berat. Angin dingin menghantam wajah. Jalur pasir membuat langkah terasa mundur setiap kali kaki berpijak. Beberapa pendaki mulai menyerah.

Tetapi Andi terus menggenggam tangan Aurel.

“Sedikit lagi.”

“Ayo.”

“Kamu pasti bisa.”

Dan di tengah gelap menjelang subuh itu, Aurel merasa seperti sedang berjalan menuju kehidupan baru.

Saat akhirnya mereka tiba di puncak, matahari perlahan muncul dari balik cakrawala. Langit berubah jingga. Indah sekali.

Aurel berdiri mematung sambil menahan air mata. Bukan karena lelah. Tetapi karena bahagia. Ia pikir akhirnya semesta berhenti menyakitinya.

Mereka mengambil banyak foto bersama. Tertawa. Berpelukan. Saling mencuri pandang seperti dua orang yang sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya.

Dan di sana, di atas puncak Rinjani, Aurel benar-benar lupa pada niat awalnya datang. Ia lupa bahwa dirinya sedang mencoba sembuh. Karena ia pikir Andi adalah kesembuhannya. Padahal tidak semua yang menemani sampai puncak pantas dibawa pulang.

Setelah turun gunung dan tiba di basecamp, sesuatu berubah. Andi mendadak dingin. Ia lebih banyak memainkan ponselnya. Jawabannya mulai pendek-pendek. Tatapannya tidak lagi sama.

Aurel mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman itu. Mungkin hanya lelah, pikirnya. Sampai akhirnya Andi mengenakan helm motornya.

“Sayang, aku pulang duluan ya, Nanti aku hubungi,” katanya cepat.

Aurel mengangguk pelan.

“Oke… hati-hati.”

Motor itu melaju menjauh. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak di Rinjani, hati Aurel terasa jatuh.

Hari pertama ia masih menunggu. Hari ketiga ia mulai gelisah. Hari ketujuh ia mulai takut. Tidak ada kabar sama sekali. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon.

Dan bodohnya, Aurel tidak menyimpan nomor Andi. Selama pendakian lelaki itu selalu lebih dulu menghubunginya.

Dengan tangan gemetar Aurel mulai mencari nama Andi di media sosial. Dan dunia kembali runtuh.

Di layar ponselnya terpampang foto Andi bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil yang belum genap dua tahun. Istrinya. Anaknya.

Napas Aurel tercekat. Tangannya dingin. Ia membuka foto demi foto dengan mata kabur oleh air mata. Ada foto ulang tahun pernikahan. Ada video anak kecil memanggil Andi “Ayah”. Ada caption-caption penuh cinta.

Dan tiba-tiba semua kenangan di Rinjani berubah menjadi sesuatu yang memuakkan. Aurel menangis sejadi-jadinya malam itu. Bukan hanya karena dibohongi. Tetapi karena tanpa sadar ia telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseorang.

“Ya Allah…”

Dadanya sesak sampai sulit bernapas. Ia membayangkan perempuan yang menjadi istri Andi. Membayangkan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dan untuk pertama kalinya, Aurel merasa dirinya begitu hina. Padahal ia juga korban.

Tetapi rasa bersalah tetap menghancurkannya perlahan. Ia teringat pelukan di Plawangan. Pegangan tangan menuju puncak. Kata sayang. Janji-janji kecil. Dan semuanya tiba-tiba terasa kotor.

Malam itu Aurel menghapus semua foto mereka di Rinjani. Satu per satu. Dengan tangan gemetar dan tangis yang tidak berhenti. Karena ternyata tidak semua kenangan pantas disimpan. Beberapa memang harus dikubur dalam-dalam agar tidak terus melukai.

Hari-hari setelah itu menjadi sangat berat. Aurel mulai menutup diri dari semua orang.

Ia jarang keluar rumah. Jarang berbicara. Bahkan cermin pun terasa menakutkan karena ia tidak tahan melihat wajah perempuan yang pernah menjadi pelarian lelaki beristri.

Sampai akhirnya ia memutuskan pergi. Bukan ke gunung. Tetapi ke sebuah pesantren kecil di pinggir kota. Di sana hidup berjalan sederhana. Bangun sebelum subuh, mengaji, belajar, membantu memasak di dapur, hingga menyapu halaman.

Dan perlahan, di tempat yang sunyi itu, Aurel mulai memahami sesuatu. Bahwa selama ini ia terlalu berharap pada manusia. Padahal manusia adalah makhluk yang paling mudah berubah.

Ada hari-hari ketika ia masih menangis saat selesai salat. Ada malam-malam ketika kenangan di Rinjani datang begitu saja. Tetapi kini ia tidak lagi melarikan diri dari luka itu. Ia belajar menatapnya pelan-pelan. Belajar memaafkan dirinya sendiri. Belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus dibalas dengan kebencian.

Suatu sore setelah mengaji, Aurel duduk sendiri di beranda pesantren. Langit perlahan berubah jingga. Angin bertiup lembut menerbangkan ujung kerudungnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa tenang. Bukan bahagia yang meledak-ledak. Bukan perasaan jatuh cinta yang menggebu. Hanya tenang. Tenang yang sederhana. Tenang yang tidak ia temukan bahkan di puncak gunung tertinggi sekalipun.

Saat itulah Aurel akhirnya mengerti. Gunung tidak pernah benar-benar menyembuhkan patah hati. Gunung hanya mengajarkan bahwa sejauh apa pun manusia berlari, luka tetap harus dihadapi. Dan ternyata, rumah terbaik bagi hati yang hancur bukanlah pelukan manusia. Melainkan tempat saat ia kembali pulang kepada Tuhan.

Penulis: El Az-Zahra