SimpulRakyat.co.id, Novela – Pukul dua lewat tiga belas menit dini hari ketika mobil Andi berhenti di depan rumah.
Mesinnya dimatikan, tetapi ia tidak segera turun. Di dashboard, lampu indikator ponselnya berkedip tanpa henti. Tiga puluh tujuh pesan belum dibaca. Belasan Surel baru masuk sejak pukul sembilan malam. Grup redaksi masih memperdebatkan judul berita utama.
Di grup lain, seorang koordinator lapangan mengirim foto kegiatan pemberdayaan masyarakat di sebuah desa terpencil yang harus ia evaluasi besok pagi.
Andi mengembuskan napas panjang. Ia menutup layar ponselnya. Malam ini ia tidak ingin menjadi pemimpin redaksi. Tidak ingin menjadi konsultan. Tidak ingin membahas strategi politik yang dua jam lalu masih memenuhi ruang rapat.
Malam ini ia hanya ingin menjadi suami. Ia turun dari mobil sambil meraih ransel kerja yang terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena isinya bertambah, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk membawanya.
Udara setelah hujan masih menyisakan aroma tanah basah. Di kejauhan terdengar suara anjing menggonggong sesekali. Gang tempat mereka tinggal sudah sepi.
Hanya satu rumah yang masih menyalakan lampu teras. Rumahnya. Andi tersenyum kecil.
“Icha belum tidur,” gumamnya.
Sudah empat belas tahun lampu itu selalu menyala jika ia pulang malam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan alasannya. Lampu itu hanya menjadi bagian dari rumah, seperti pagar putih yang mulai kusam atau pohon mangga yang tumbuh miring di halaman.
Ia membuka pagar pelan-pelan agar engselnya tidak berderit. Pintu depan ternyata tidak dikunci. Seperti biasa.
Icha selalu meninggalkan kunci di lubangnya setiap kali Andi memberi kabar akan pulang larut. Katanya, ia takut suara kunci membangunkan tetangga.
Padahal Andi tahu, tetangga mereka tidur seperti batu. Yang sebenarnya dijaga Icha adalah agar Andi tidak merasa pulang ke rumah yang asing.
Ruang tamu gelap. Hanya cahaya lampu teras yang masuk melalui jendela. Di meja makan ada tudung saji berwarna bening. Andi membukanya. Semangkuk sop ayam. Telur dadar iris. Sambal tomat kesukaannya.
Ia menyentuh pinggir mangkuk. Masih hangat. Dadanya mendadak dipenuhi rasa bersalah. Pukul dua dini hari.
Perempuan itu masih memanaskan makanan untuknya.
Ia mengambil sendok. Menyuapkan satu sendok sop ke mulut. Hangat. Rasanya sama seperti empat belas tahun lalu ketika mereka masih tinggal di rumah kontrakan berukuran enam kali delapan meter.
Tidak pernah berubah. Yang berubah hanya jam kepulangannya. Dulu pukul enam sore. Lalu delapan malam. Lalu sepuluh. Kini… kadang menjelang subuh.
Andi menghabiskan makan malamnya sendirian dalam keheningan. Sesekali ia melirik ke arah lorong menuju kamar. Tak terdengar suara apa pun. Mungkin Icha benar-benar sudah tidur.
Setelah mencuci piringnya sendiri, ia berjalan perlahan menuju kamar. Pintu tidak tertutup rapat. Dari celahnya terlihat cahaya lampu tidur berwarna kekuningan.
Icha meringkuk menghadap dinding. Rambutnya yang mulai memanjang menutupi sebagian wajah.
Andi berdiri cukup lama di ambang pintu. Ada sesuatu yang selalu membuatnya tenang setiap kali melihat perempuan itu tertidur. Seolah semua kebisingan dunia berhenti tepat di depan kamar mereka.
Ia mendekat. Pelan sekali. Menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah istrinya. Lalu mengecup keningnya.
“Maaf ya…” suaranya nyaris tak terdengar.
“…sebentar lagi semua ini selesai.”
Icha tidak bergerak. Napasnya terdengar teratur.
Andi tersenyum tipis. Ia mematikan lampu tidur. Tidak pernah tahu bahwa sesaat setelah pintu kamar tertutup, mata Icha perlahan terbuka.
Perempuan itu tidak tidur. Ia hanya terlalu lelah untuk kembali berpura-pura menunggu.
Pukul enam pagi. Alarm ponsel Andi berbunyi. Ia baru tidur tiga jam. Belum sempat membuka mata, tangannya sudah meraba ponsel di meja samping tempat tidur.
Delapan belas notifikasi baru. Seorang wartawan mengirim draf berita. Direktur perusahaan meminta rapat dipercepat. Ketua kelompok binaan mengabarkan satu mesin pengering rusak.
Seorang sahabat mengirim pesan singkat.
“Kita harus mulai turun ke masyarakat lebih sering. Tahun 2029 tidak sejauh yang kita kira.”
Andi mengusap wajah. Belum sempat membalas satu pun pesan, aroma kopi memenuhi kamar. Icha masuk sambil membawa dua cangkir.
“Bangun,” suaranya lembut seperti biasa.
Andi duduk.
“Jam berapa kamu tidur semalam?”
“Seperti biasa.”
Jawaban itu terlalu singkat.
Andi tidak menyadarinya. Ia menerima kopi. Meneguknya cepat-cepat.
“Enak.”
Icha hanya tersenyum. Sudah bertahun-tahun ia membuat kopi dengan takaran yang sama. Dua sendok kopi. Satu sendok gula. Sedikit susu. Tidak pernah meleset.
“Kak, pulang jam berapa?”
“Dua lewat.”
“Aku dengar.”
Andi tertawa kecil.
“Kirain kamu sudah tidur.”
Icha menatap uap kopi yang perlahan menghilang.
“Aku memang sedang belajar tidur lebih cepat.”
Andi mengangguk tanpa benar-benar memahami maksud kalimat itu. Pikirannya sudah berlari ke jadwal hari ini. Rapat redaksi pukul delapan. Presentasi pemberdayaan pukul sebelas. Wawancara investor setelah zuhur.
Malamnya menghadiri diskusi kecil tentang pendidikan politik. Ia meraih kemeja yang tergantung di lemari.
“Icha.”
“Hm?”
“Nanti malam jangan tunggu aku makan.”
Icha diam beberapa detik.
“Lembur lagi?”
“Mungkin.”
“Mungkin jam berapa pulang?”
Andi sedang memasang jam tangan.
“Belum tahu.”
“Lagi-lagi belum tahu.”
Ia mengatakannya pelan. Nyaris seperti bicara kepada dirinya sendiri. Andi tidak mendengar. Ia sudah sibuk mencari berkas yang semalam lupa dimasukkan ke dalam Ransel.
Ketika akhirnya menemukan map biru itu, wajahnya kembali cerah.
“Untung ketemu.”
Icha memperhatikan suaminya dari ambang pintu. Empat belas tahun hidup bersama membuatnya hafal. Andi selalu panik kalau berkas tertinggal. Tetapi tidak pernah panik kalau janji makan malam dibatalkan.
“Kak.”
“Iya?”
“Hati-hati di jalan.”
Andi tersenyum. Kalimat itu yang selalu ia dengar setiap pagi selama empat belas tahun.
“Hati-hati ya.”
“Insyaallah.”
Ia mencium kening istrinya sekilas. Lalu bergegas keluar. Suara mesin mobil menghilang di ujung gang. Rumah kembali sunyi.
Icha berdiri cukup lama di depan pintu. Sampai suara kendaraan itu benar-benar lenyap. Barulah ia menutup pintu perlahan.
Di meja makan masih ada secangkir kopi miliknya yang belum disentuh. Uapnya sudah hilang. Ia duduk. Membuka ponsel. Layar percakapan dengan Andi masih berada di paling atas. Pesan terakhir yang ia kirim kemarin sore belum berubah warna.
“Kak, pulang jam berapa? Aku masak sop ayam.”
Sudah terbaca. Belum dibalas. Icha tidak mengirim pesan lagi. Ia mengunci layar ponselnya. Lalu tanpa sadar menoleh ke arah lampu teras yang masih menyala.
Ia berjalan ke sana. Mematikan saklarnya. Rumah itu mendadak terasa lebih sepi daripada biasanya.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.