Pukul delapan lewat dua belas menit. Kantor redaksi mulai ramai. Satu per satu wartawan datang membawa cerita dari lapangan. Ada yang baru pulang meliput kasus korupsi, ada yang semalaman menunggu konferensi pers, ada pula yang mengeluh karena kopi di pantry habis sebelum matahari terbit.
Andi sudah berada di ruang kerjanya. Di depan meja terbentang tiga layar komputer. Satu menampilkan naskah berita. Satu lagi berisi laporan keuangan perusahaan.
Yang terakhir memperlihatkan jadwal kegiatan selama dua minggu ke depan. Hampir setiap kotak penuh. Ia menarik napas.
“Pak,” pintu diketuk pelan.
Seorang wartawan muda masuk sambil membawa map.
“Berita investigasi yang Bapak minta.”
Andi menerimanya, membaca cepat beberapa halaman, lalu mengembalikannya.
“Bagus. Tapi bagian ini jangan pakai dugaan kalau belum ada data pendukung.”
“Siap.”
“Jangan buru-buru menjadi yang pertama kalau akhirnya salah.”
Pemuda itu mengangguk.
“Saya mengerti.”
Setelah pintu tertutup, Andi kembali menatap layar. Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat sudut bibirnya terangkat. Icha.
Ia membuka pesannya.
“Sudah sarapan?”
Andi tersenyum. Ia mengetik cepat.
“Sudah.”
Belum sempat menekan tombol kirim, telepon dari direktur utama masuk. Jarinya beralih menekan ikon hijau. Pesan itu tetap menggantung di kolom balasan. Belum terkirim.
Di rumah, Icha sedang menyiram tanaman di halaman. Ada delapan pot bunga yang selalu ia rawat sendiri. Bukan karena ia gemar berkebun. Melainkan karena tanaman tidak pernah bertanya kapan seseorang pulang. Mereka hanya membutuhkan air, cahaya, dan sedikit perhatian.
Hal-hal sederhana yang ternyata jauh lebih mudah diberikan kepada bunga daripada kepada manusia yang sama-sama sibuk.
Selesai menyiram, ia masuk ke ruang kerja kecil di samping dapur. Di sana berdiri sebuah rak kayu berisi puluhan kanvas. Semuanya kosong. Di sudut ruangan tersimpan kotak cat air yang mulai mengering. Sudah hampir lima tahun tidak dipakai.
Icha pernah bercita-cita mengadakan pameran lukisan kecil. Bukan untuk terkenal. Ia hanya ingin melihat orang lain berhenti beberapa menit di depan karya yang dibuat dengan sepenuh hati.
Ketika perusahaan Andi mulai berkembang, ruangan itu berubah fungsi. Sesekali dipakai menyimpan dokumen. Sesekali menjadi tempat rapat kecil. Sesekali menjadi gudang.
Mimpinya pelan-pelan bergeser ke rak paling atas.
Ia tidak pernah memprotes. Ia selalu berpikir, nanti kalau keadaan sudah lebih tenang. Nanti. Kata itu kembali muncul. Dan tanpa sadar, ia tersenyum pahit.
Menjelang siang, Andi berangkat ke kantor BUMN tempat ia menjadi tenaga ahli pendamping program pemberdayaan.
Dalam perjalanan, ia membuka kembali percakapan dengan Icha. Pesan tadi pagi masih ada.
“Sudah sarapan?”
Di bawahnya masih tampak balasan yang belum sempat dikirim.
“Sudah.”
Ia menghapusnya. Rasanya aneh membalas pertanyaan yang dikirim hampir empat jam lalu hanya dengan satu kata.
Ia memilih menelepon. Nada sambung terdengar cukup lama. Lalu berhenti. Tidak diangkat.
Andi tersenyum kecil.
“Mungkin lagi sibuk.”
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berlari kecil menuju ruang rapat. Andi tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Icha sedang berada di ruang kerjanya.
Ponselnya berbunyi. Icha melihat nama suaminya muncul. Tangannya sempat bergerak hendak menjawab. Namun seseorang mengetuk pintu depan. Kurir datang membawa paket.
Ketika ia kembali mengambil ponselnya, panggilan itu sudah berakhir. Layar kembali gelap. Mereka hanya terpaut beberapa detik.
Seperti banyak hal lain dalam empat belas tahun terakhir. Selalu hampir bertemu. Namun tidak pernah benar-benar pada waktu yang sama.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.