Setengah lima sore. Hujan turun sejak selepas Asar. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat halaman rumah berkilau seperti baru dipoles. Icha menutup jendela ruang tamu satu per satu, lalu kembali ke dapur.

Di atas meja sudah tersusun dua piring. Dua gelas. Dua sendok. Kebiasaan itu tidak pernah berubah. Meski beberapa tahun terakhir, lebih sering hanya satu piring yang benar-benar dipakai.

Ia mengeluarkan ikan tuna yang sudah dimarinasi sejak siang. Minyak di wajan mulai mengeluarkan suara berdesis ketika ikan pertama menyentuh permukaannya. Aroma bawang putih dan kunyit memenuhi dapur.

Ponselnya bergetar. Nama Andi muncul. Icha mengusap tangannya dengan lap, lalu mengangkat panggilan.

“Halo, kak.”

“Maaf.”

Belum apa-apa, Andi sudah meminta maaf.

“Ada rapat tambahan. Mungkin agak malam.”

Icha memejamkan mata sesaat.

“Jam berapa?”

“Aku usahakan sebelum sembilan.”

“Usahakan?”

“Iya.”

Beberapa detik mereka sama-sama diam. Andi yang pertama berbicara lagi.

“Besok kita makan malam di luar, ya?”

Icha tersenyum kecil. Kalimat itu terasa akrab. Bahkan terlalu akrab karena sudah berkali-kali ia dengar.

“Besok hari apa, kak?”

Andi berpikir.

“Selasa?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Hari ulang tahun Mama.”

Andi langsung menepuk dahinya pelan.

“Ya Allah… aku lupa.”

“Aku tahu.”

Suara Icha tetap lembut.

“Nanti kalau sempat, telepon beliau.”

“Iya.”

“Kali ini jangan lupa.”

“Aku pasti telepon.”

Mereka mengakhiri panggilan.

Icha menaruh ponsel di atas meja. Ikan di wajan sudah mulai kecokelatan. Ia membaliknya perlahan. Di luar, hujan semakin rapat.

Di ruang rapat, Andi duduk di ujung meja. Belasan orang mengelilinginya. Di layar proyektor terpampang rancangan program pemberdayaan untuk tahun berikutnya.

“Kita jangan hanya membangun usaha,” kata Andi sambil menunjuk grafik di layar.

“Kita harus memastikan usaha itu bisa bertahan setelah pendampingan selesai.”

Semua mengangguk.

Seorang peserta mengangkat tangan.

“Pak Andi, menurut Bapak, apa yang paling penting dalam pendampingan?”

Andi tidak langsung menjawab.

Ia mengambil spidol. Lalu menulis satu kalimat di papan tulis “Keberlanjutan”.

“Program yang baik bukan yang selesai saat anggaran habis.”

Ia berhenti sejenak.

“Program yang baik adalah program yang tetap hidup meski kita sudah tidak ada.”

Ruangan menjadi hening. Semua mencatat. Andi melanjutkan penjelasannya. Tak seorang pun menyadari bahwa ponsel di sakunya bergetar dua kali.

Pesan dari ibunya. Lalu pesan dari Icha. Ia baru membacanya hampir dua jam kemudian.

Pesan pertama.

“Mama sudah menelepon. Beliau kira kak Andi sedang sangat sibuk.”

Pesan kedua.

“Aku sudah makan duluan. Hati-hati di jalan kalau pulang nanti.”

Andi menatap dua pesan itu cukup lama. Ia mengetik balasan.

“Maaf.”

Lalu menghapusnya. Mengetik lagi.

“Sebentar lagi selesai.”

Ia kembali menghapusnya. Entah mengapa, kalimat itu tiba-tiba terasa sangat melelahkan. Akhirnya ia hanya menulis.

“Iya.”

Ia menekan tombol kirim. Malam itu, Andi benar-benar pulang sebelum pukul sembilan. Rumah sudah sepi. Lampu teras tetap menyala. Ia membuka pintu perlahan.

Di meja makan tidak ada makanan. Hanya ada tudung saji yang menutupi dua potong ikan goreng dan semangkuk sayur kambu paria.

Di samping piringnya terdapat secarik kertas kecil. Tulisan tangan Icha masih sama seperti dulu. Rapi. Sedikit miring ke kanan.

Nasinya di rice cooker.
Jangan lupa dihangatkan sayurnya.
Selamat makan, kak.

Tidak ada gambar hati. Tidak ada wajah tersenyum kecil seperti yang dulu sering ia gambar di ujung catatan.

Andi memandang kertas itu beberapa saat. Ia tersenyum tipis. Mungkin Icha sedang lelah. Ia tidak memikirkan hal lain.

Setelah makan, ia berjalan ke ruang kerja kecil di samping dapur untuk mengambil sebuah map yang pernah ia simpan di sana.

Ruangan itu sudah lama tidak ia masuki. Saat membuka pintu, ia berhenti. Di sudut ruangan berdiri sebuah kanvas di atas penyangga kayu. Di atasnya hanya ada satu sapuan warna biru yang belum selesai.

Cat di palet sudah mengeras. Kuas-kuas tertata rapi dalam sebuah gelas kaca. Semuanya bersih. Terlalu bersih. Seperti sudah lama tidak disentuh.

Andi mengernyit. Ia baru sadar. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah melihat Icha melukis. Padahal dulu, hampir setiap akhir pekan, perempuan itu selalu memenuhi rumah dengan aroma cat akrilik dan musik yang diputar pelan.

Ia berdiri cukup lama di depan kanvas itu. Berusaha mengingat. Kapan terakhir kali ia bertanya kepada istrinya,

“Lukisanmu sudah sampai mana?”

Ia tidak menemukan jawabannya. Mungkin karena pertanyaan itu memang tidak pernah lagi ia ucapkan.