Perubahan itu benar-benar terjadi. Selama hampir dua bulan, Andi berusaha mengembalikan kebiasaan-kebiasaan yang dulu pernah mereka miliki.
Ia pulang sebelum malam terlalu larut. Setiap pagi mereka minum kopi bersama. Sesekali ia ikut mengantar Icha ke sanggar. Bahkan beberapa kali Andi menolak undangan diskusi politik yang selama ini selalu ia prioritaskan.
Orang-orang di kantor mulai menyadarinya.
“Pak Andi sekarang sering menghilang habis Magrib.”
“Ada yang lebih penting,” jawabnya suatu sore sambil menutup laptop.
Ia mengatakannya sambil tersenyum. Senyum itu bukan karena sebuah pencapaian. Melainkan karena ia benar-benar ingin pulang.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Icha memang tersenyum lebih sering. Mereka lebih banyak berbincang. Makan malam kembali menjadi kebiasaan. Tetapi ada jarak yang tidak ikut mengecil. Bukan jarak di antara kursi makan. Bukan jarak di tempat tidur. Melainkan jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah.
Suatu malam, Andi melihat Icha melukis sambil mendengarkan lagu lama yang dulu sering mereka putar di kontrakan.
“Masih suka lagu itu?”
Icha mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa baru diputar lagi?”
Icha meletakkan kuasnya.
“Dulu aku berhenti memutarnya.”
“Kenapa?”
“Karena setiap mendengarnya…”
Ia tersenyum kecil.
“…aku terlalu merindukan orang yang sebenarnya masih tinggal serumah denganku.”
Andi menunduk. Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Justru karena diucapkan dengan tenang, ia terasa jauh lebih menyakitkan.
Malam berikutnya, hujan turun sejak selepas Isya. Andi pulang lebih cepat. Ia membawa dua bungkus martabak.
“Mumpung hujan,” katanya sambil mengangkat kantong plastik.
“Dulu kita suka makan ini.”
Icha menyambutnya dengan senyum.
“Iya.”
Mereka duduk di teras. Lampu yang selama bertahun-tahun menjadi penanda kepulangan Andi menyala hangat. Hujan turun lurus. Sesekali angin membawa aroma tanah basah ke halaman.
Andi memandang istrinya.
“Cha.”
“Hm?”
“Aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar pulang.”
Icha tersenyum.
“Aku tahu.”
“Aku terlambat, ya?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menggigit kecil martabak yang mulai dingin.
“Lambat bukan berarti gagal, kak.”
“Lalu?”
“Kadang…”
Ia memandang hujan.
“…orang yang menunggu sudah selesai belajar menunggu.”
Kalimat itu menggantung lama. Andi tidak sanggup menyela.
Beberapa hari kemudian, Icha mengajak Andi membereskan gudang kecil di belakang rumah. Banyak kardus lama yang belum pernah dibuka sejak mereka pindah.
Di salah satu sudut, Andi menemukan sebuah kotak sepatu. Di dalamnya tersimpan puluhan amplop. Semuanya ditujukan kepadanya. Tulisan tangan Icha. Tanggal-tanggalnya berurutan.
“Tahun pertama pernikahan.”
“Tahun kedua.”
“Tahun ketiga.”
Andi membuka salah satunya.
Isinya hanya dua halaman.
Kak,
Hari ini kakak pulang jam sebelas malam.
Aku sengaja tidak tidur karena ingin cerita kalau bunga melati yang kita tanam akhirnya berbunga.
Waktu kakak masuk rumah, kakak kelihatan capek sekali.
Aku jadi tidak tega membangunkan.
Besok saja, pikirku.Ternyata besok kakak pulang lebih malam lagi.
Andi membuka surat berikutnya.
Kak,
Tadi dokter bilang aku cuma kecapekan.
Tidak apa-apa.
Aku pulang sendiri.
Jangan merasa bersalah kalau nanti membaca surat ini.
Surat berikutnya.
Kak,
Hari ini aku diterima ikut pameran bersama.
Aku ingin sekali cerita.
Tapi kakak sedang di luar kota.
Tidak apa-apa.
Nanti saja kalau kakak sudah ada waktu.
Tidak satu pun surat itu pernah diberikan. Andi memandang Icha.
“Kenapa tidak pernah kamu kasih?”
Icha duduk di lantai gudang. Karung-karung lama menjadi sandarannya.
“Aku selalu berpikir…”
“…besok kakak akan punya waktu.”
“Lalu?”
“Besoknya lagi aku berpikir hal yang sama.”
Andi menggenggam surat-surat itu erat. Kertasnya sudah mulai menguning. Beberapa bagian tintanya memudar. Empat belas tahun. Begitu banyak percakapan yang tidak pernah terjadi.
Malam itu mereka tidak langsung masuk ke rumah. Gudang masih terbuka. Angin membawa bau hujan yang akan segera turun.
Andi duduk di anak tangga. Surat-surat itu masih ada di pangkuannya.
“Aku jahat ya, Cha?”
Icha menggeleng pelan.
“Kakak bukan jahat.”
“Lalu?”
“Kakak terlalu sibuk mengejar masa depan.”
Ia berhenti.
“Sampai lupa bahwa waktu selalu berjalan ke depan.”
Andi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku bisa berubah.”
“Aku tahu.”
“Aku benar-benar bisa berubah.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa…”
Suara Andi pecah.
“…kenapa rasanya kamu semakin jauh?”
Icha memandang halaman yang mulai basah oleh gerimis. Lama sekali. Sangat lama. Ketika akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik.
“Karena perubahanmu datang…”
Ia menelan ludah.
“…setelah aku selesai berduka.”
Andi mengangkat kepala. Ia tidak mengerti.
“Berduka?”
Icha mengangguk.
“Selama bertahun-tahun, Kakak perlahan menghilang dari hidupku, sedikit demi sedikit.”
“Bukan karena kakak meninggal.”
“Bukan karena kamu pergi.”
“Tetapi karena setiap hari ada sedikit bagian darimu yang lebih dulu diberikan kepada pekerjaan, kepada rapat, kepada mimpi-mimpi besar.”
“Aku menangisinya.”
“Aku marah.”
“Aku berharap.”
“Aku menunggu.”
“Sampai akhirnya…”
Suara Icha tercekat. Ia tidak sanggup melanjutkan, membiarkan air mata jatuh perlahan mengalir di pipinya.
“…sampai akhirnya aku belajar menerima bahwa mungkin beginilah hidupku.”
Ia tersenyum. Senyum yang membuat dada Andi terasa remuk.
“Aku sudah melewati semua tahap itu sendirian, kak.”
“Aku sudah selesai berduka.”
Hening. Hanya suara hujan yang kini mulai memenuhi halaman.
Andi ingin memegang tangan istrinya. Namun tangannya berhenti di tengah jalan. Ada rasa takut yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Takut terlambat.
Icha mengusap air matanya sendiri. Lalu menatap Andi dengan mata yang tidak lagi dipenuhi amarah. Hanya kelelahan.
“Aku menyerah, kak.”
Dua kata. Tidak keras. Tidak dramatis. Namun di telinga Andi, kalimat itu terdengar lebih nyaring daripada hujan yang menghantam atap rumah.
Kali ini, ia sadar bahwa ada permintaan maaf yang mungkin tidak lagi cukup untuk mengembalikan seseorang yang selama ini ia yakini akan selalu menunggunya pulang.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.