Sejak ulang tahun Icha, ada satu kebiasaan baru yang diam-diam dilakukan Andi.
Setiap pagi, sebelum membuka Surel kantor atau membaca laporan redaksi, ia lebih dulu membuka percakapan dengan istrinya.
Pagi itu, pukul 05.42 Wita.
Rumah masih sunyi. Icha belum bangun. Andi duduk sendiri di meja makan sambil menyesap kopi.
Ia menggulir layar ponselnya ke atas. Semakin atas. Semakin atas lagi.
Percakapan mereka ternyata tidak pernah panjang. Lebih banyak pesan dari Icha.
“Kak, jangan lupa sarapan.”
“Hujan. Bawa payung.”
“Kalau pulang jangan terlalu malam.”
“Mama titip salam.”
“Aku masak sayur kambu paria hari ini.”
Di sela-sela puluhan pesan itu, balasannya hampir selalu sama.
“Oke.”
“Siap.”
“Iya.”
“Nanti.”
Ada juga yang tidak dibalas sama sekali. Andi berhenti menggulir. Dadanya terasa sesak. Ia baru sadar, selama ini istrinya bukan sedang mengirim pesan. Ia sedang mengetuk pintu. Dan pintu itu terlalu sering ia biarkan tertutup.
Pukul enam tepat, Icha keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia mengenakan kaus hitam longgar dan celana jeans biru.”
“Bangun cepat?”
Andi mengangguk.
“Tidak bisa tidur lagi.”
Icha menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri. Mereka duduk berhadapan. Tak ada yang berbicara. Suasana itu tidak canggung. Tetapi juga tidak hangat.
Seperti dua orang yang sudah sangat mengenal satu sama lain, namun mulai kehilangan kebiasaan saling bercerita.
Andi ingin mengatakan sesuatu. Tentang ulang tahun yang ia lupakan. Tentang pesan-pesan yang baru ia baca kembali. Tentang rasa bersalah yang sejak beberapa hari terakhir tidak mau pergi. Namun semua kalimat terasa terlambat.
Akhirnya ia hanya bertanya,
“Hari ini ada rencana ke mana?”
Icha menggeleng.
“Mau menyelesaikan lukisan.”
“Lukisan yang biru itu?”
“Iya.”
“Boleh nanti aku lihat?”
Icha menatap suaminya beberapa detik.
“Boleh.”
Jawaban itu sederhana. Tetapi entah mengapa Andi merasa sedang diberi kesempatan yang sudah lama hilang.
Siang harinya, rapat redaksi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Seorang investor membahas rencana pengembangan perusahaan.
“Kalau semua berjalan sesuai target,” katanya sambil menunjuk grafik di layar.
“Dua tahun lagi jaringan media kita bisa bertambah dua kali lipat,” lanjutnya.
Semua orang tampak antusias. Kecuali Andi. Pikirannya justru melayang pada kanvas biru di rumah. Pada buku sketsa baru yang dibeli Icha. Pada pertanyaan sederhana yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ajukan.
“Apa yang sebenarnya sedang kamu impikan sekarang?”
Teleponnya bergetar. Seorang kolega politik mengirim pesan.
“Besok malam kumpul. Kita mulai menyusun tim kecil. Waktunya sudah dekat.”
Andi membaca pesan itu lama. Lalu mengunci layar ponselnya tanpa membalas.
Menjelang Magrib, ia benar-benar pulang lebih awal. Bahkan matahari belum sepenuhnya tenggelam. Mobilnya berhenti di halaman rumah. Lampu teras belum menyala.
Andi tersenyum.
“Berarti aku memang pulang lebih cepat.”
Ia masuk ke rumah. Tidak terdengar suara televisi. Tidak terdengar suara musik. Hanya bunyi kuas yang sesekali menyentuh kanvas. Ia mengikuti suara itu sampai ke ruang kerja kecil.
Pintu terbuka setengah. Icha sedang berdiri membelakanginya. Tangannya bergerak pelan di atas kanvas. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Andi melihat istrinya melukis lagi.
Ia tidak langsung masuk. Andi hanya berdiri di ambang pintu. Memperhatikan. Kanvas yang dulu hanya berisi warna biru kini mulai memperlihatkan bentuk. Sebuah rumah. Dengan sebuah teras kecil. Dan sebuah lampu yang menyala.
Andi mengerutkan dahi.
“Rumah kita?”
Icha menoleh.
“Iya.”
“Kenapa lampu terasnya paling terang?”
Icha tersenyum tipis. Karena… dulu itu bagian favoritku.
“Dulu?”
Icha tidak menjawab. Ia kembali menggerakkan kuasnya.
Andi memperhatikan lukisan itu lebih saksama. Baru sekarang ia menyadari sesuatu.
Di depan rumah yang dilukis Icha… tidak ada seorang pun. Lampu teras tetap menyala. Tetapi jalannya kosong. Halaman itu kosong. Seolah seseorang yang ditunggu tidak pernah benar-benar sampai.
Andi merasakan tenggorokannya mengering.
Ia ingin berkata, “Aku akan pulang lebih sering.”
Ia ingin berkata, “Aku akan mengurangi semua kesibukan ini.”
Ia ingin berkata banyak hal. Namun sebelum sempat mengucapkannya, ponselnya kembali berdering. Nama seorang pemimpin redaksi muncul di layar. Disusul panggilan kedua dari ketua tim pendampingan. Lalu pesan ketiga dari sahabat politiknya.
Andi memandang layar itu, lalu beralih menatap Icha. Untuk pertama kali dalam hidup, ia merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan Bukan antara dua pekerjaan. Melainkan antara semua yang sedang ia bangun di luar rumah… dan seseorang yang selama ini diam-diam menjaga rumah itu tetap menjadi tempat yang ingin ia pulangi.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.