SimpulRakyat.co.id, Cerpen –  “Aku ingin cerai.” Andira mengatakannya sambil berdiri di depan kulkas. Tidak dramatis. Tidak menangis. Tidak marah.

Ia bahkan masih memegang botol air minum yang baru diambilnya dari dalam kulkas.

Amar yang sedang duduk di meja makan tidak langsung menjawab. Bukan karena terkejut. Justru karena kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.

Ia hanya memandang pisang goreng yang tinggal setengah di piring. Sudah dingin. Minyaknya mulai mengeras di pinggir.

Entah kenapa, hal itu terlihat lebih menarik daripada kalimat yang baru saja diucapkan istrinya.

“Aku ingin cerai,” Andira mengulang.

Amar mengangkat kepala.

“Oh.”

Hanya itu. Lalu ia kembali melihat piring.

Di luar rumah, ada suara anak-anak bermain bola di ujung gang. Seseorang berteriak meminta operan. Seekor ayam milik tetangga masuk ke halaman lalu keluar lagi.

Sore berjalan seperti biasa. Padahal mungkin pernikahannya baru saja selesai. Atau sedang menuju ke sana. Ia tidak tahu.

Andira menunggu. Amar tahu itu. Ia menunggu respons. Menunggu bantahan. Menunggu permohonan. Menunggu sesuatu.

Biasanya memang begitu. Setiap kali kata cerai muncul, Amar akan berubah menjadi orang lain. Lebih banyak bicara. Lebih banyak meminta maaf. Lebih banyak mengalah.

Tetapi hari itu tidak. Hari itu ia malah teringat sesuatu yang aneh. Sebuah struk belanja. Struk minimarket yang sudah lama tersimpan di dompetnya. Sudah kusam. Tulisannya hampir hilang. Ia bahkan tidak tahu kenapa masih menyimpannya.

Mungkin karena struk itu berasal dari malam ketika Andira ngidam es krim jam setengah sebelas malam. Mereka berkeliling hampir satu jam. Tiga minimarket tutup. Satu minimarket kehabisan stok. Andira kesal sepanjang jalan. Lalu tertawa ketika akhirnya menemukan es krim yang dicari.

Waktu itu mereka belum punya banyak uang. Tapi entah kenapa rasanya hidup jauh lebih ringan.

Amar baru sadar ia sudah lama tidak memikirkan kenangan itu. Sangat lama.

“Kamu dengar nggak sih?” kata Andira.

“Dengar,” jawab Amar.

“Terus?” lanjut Andira.

Amar mengangkat bahu. “Terus apa?”

Andira mengerutkan dahi. Ekspresi itu masih sama seperti tujuh tahun lalu. Sedikit kesal. Sedikit bingung. Sedikit ingin menang. Amar hafal. Mungkin terlalu hafal.

Ada banyak hal tentang Andira yang masih ia ingat. Andira tidak suka makan kuning telur rebus. Andira selalu tidur menghadap dinding. Andira tidak bisa tidur kalau kipas angin mati. Andira suka membeli buku lalu lupa membacanya. Rak ruang tamu masih penuh buku yang sampulnya nyaris tidak pernah dibuka.

Lucunya, ada masa ketika mengetahui hal-hal kecil seperti itu membuat Amar merasa dicintai. Sekarang ia tidak tahu perasaan itu pergi ke mana. Mungkin masih ada. Hanya tersimpan di tempat yang sulit dijangkau.

“Aku serius.”

“Iya.”

“Aku benar-benar serius.”

“Iya.”

“Kamu kenapa sih?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Amar hampir tertawa. Hampir. Tetapi yang muncul hanya napas panjang.

Ia sebenarnya lelah. Bukan lelah karena pembicaraan ini. Bukan juga lelah karena Andira. Kalau dipikir-pikir, ia bahkan tidak tahu persis apa yang membuatnya lelah.

Mungkin semuanya. Mungkin akumulasi dari banyak hal kecil yang tidak pernah selesai. Tagihan. Pekerjaan. Pertengkaran. Permintaan maaf. Ancaman pergi. Lalu mengulang lagi dari awal.

Seperti lagu yang rusak dan terus memainkan bagian yang sama.

“Kamu tidak takut aku tinggalin?”

Nah. Pertanyaan itu. Akhirnya muncul juga.

Amar menatap istrinya beberapa saat. Lalu pandangannya beralih ke jam dinding. Jam itu terlambat tujuh menit.

Sudah hampir dua bulan. Belum diganti baterainya. Setiap hari ia melihatnya. Setiap hari juga lupa membeli baterai.

Kadang hidup memang berubah karena hal-hal besar. Tapi lebih sering hidup berubah karena hal-hal kecil yang terus ditunda. Seperti baterai jam. Seperti percakapan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Seperti permintaan maaf yang diucapkan hanya agar pertengkaran berhenti.

“Dulu aku takut,” akhirnya Amar menjawab.

“Dulu banget.”

“Nah sekarang?” tanya Andira.

Amar tidak langsung menjawab. Karena sebenarnya pertanyaan itu lebih sulit daripada yang terlihat.

Apakah ia masih takut?

Mungkin.

Kalau Andira benar-benar pergi hari ini, Amar pasti sedih. Pasti. Ia tidak sedang berpura-pura kuat. Tidak juga sedang ingin terlihat keren.

Amar hanya sedang jujur. Dan kejujuran sering kali membingungkan. Karena ternyata ia masih sayang. Tapi sudah tidak takut. Atau mungkin lebih tepatnya, tidak setakut dulu.

Ia teringat suatu malam beberapa tahun lalu. Andira marah besar. Alasannya bahkan sudah tidak ia ingat. Yang ia ingat hanya dirinya duduk sendirian di ruang tamu sampai jam dua pagi.

Ponsel di tangan. Menunggu balasan pesan. Menunggu telepon. Menunggu apa saja. Sementara Andira mengunci diri di kamar.

Malam itu Amar bahkan sempat mencari artikel di internet. Cara mempertahankan rumah tangga. Cara menghadapi pasangan yang ingin berpisah. Cara menjadi suami yang lebih baik.

Lucu.

Sekarang mengingatnya membuat Amar ingin kasihan pada dirinya sendiri. Bukan karena bodoh. Melainkan karena ia begitu ketakutan.

“Aku cuma mau tahu,” suara Andira lebih pelan sekarang.

“Mau tahu apa?” jawab Amar.

“Kamu masih sayang atau tidak,” lanjut Andira.

Amar menunduk. Ada remah pisang goreng di meja. Kecil sekali. Entah kenapa ia membersihkannya dengan ujung jari.

Lalu teringat sesuatu. Andira selalu marah kalau meja makan kotor.

Dulu setiap pulang kerja, sebelum membuka sepatu, Amar akan mengelap meja lebih dulu. Karena ia tahu Andira suka meja yang bersih.

Aneh.

Orang bisa lupa tanggal pertengkaran terakhir. Tapi masih ingat kebiasaan membersihkan remah makanan.

“Kamu masih sayang atau nggak?” Andira mengulang.

Amar memandang perempuan itu. Lama. Lalu lebih lama lagi.

Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Tapi tidak ada yang terasa cukup. Karena masalah mereka sebenarnya bukan soal cinta.

Kalau soal cinta, mungkin semuanya lebih mudah.

Yang rumit adalah apa yang terjadi setelah cinta hidup bertahun-tahun. Saat cinta bercampur kecewa. Bercampur takut. Bercampur ego. Bercampur kebiasaan. Bercampur luka yang tidak pernah dibicarakan.

“Aku rasa itu pertanyaan yang salah,” tandas Amar.

Andira terdiam.

“Maksudnya?”

“Aku sudah bertahun-tahun membuktikan kalau aku sayang,” lanjut Amar.

Ruangan mendadak sepi.

Suara anak-anak di luar sudah hilang. Mungkin mereka pulang. Langit mulai gelap. Lampu teras otomatis menyala. Lampu yang redup itu. Lampu yang seharusnya sudah diganti sejak lama.

Andira menangis. Pelan. Tidak seperti biasanya.

Biasanya ia menangis sambil menjelaskan banyak hal.

Hari itu tidak.

Air matanya jatuh begitu saja.

Amar memperhatikannya. Lalu tiba-tiba teringat hari ketika Andira keguguran. Sudah lima tahun berlalu.

Mereka duduk berdampingan di rumah sakit. Tidak banyak bicara. Andira memegang tangannya sangat erat. Sampai sekarang Amar masih ingat rasa dingin jari-jari itu.

Mungkin karena pada hari-hari paling menyakitkan, manusia selalu mengingat detail yang aneh. Bukan kata-kata. Bukan nasihat. Melainkan suhu tangan. Bau ruangan. Atau warna kursi rumah sakit.

“Aku cuma takut kamu berhenti sayang,” suara Andira pecah.

Amar mengangguk pelan.

Untuk kali pertama sore itu, ia mengerti sesuatu.

Barangkali selama ini mereka sama-sama takut. Hanya cara menunjukkannya yang berbeda.

Amar takut kehilangan. Andira takut ditinggalkan.

Amar memohon. Andira menguji.

Tidak ada yang menang. Tidak ada yang benar-benar bahagia.

Matahari hampir hilang. Bayangan di ruang makan semakin panjang.

Pisang goreng itu masih ada di meja. Belum disentuh lagi.

Amar berdiri.

Andira langsung menggenggam pergelangan tangannya.

Refleks.

Seperti orang yang baru sadar sesuatu akan benar-benar pergi.

“Jangan.”

Amar menatap tangan itu.

Tangan yang pernah digenggamnya saat akad. Tangan yang pernah ia pegang ketika menyeberang jalan. Tangan yang pernah menggenggam lengannya sepanjang perjalanan pulang setelah mereka kehilangan anak pertama.

Ada begitu banyak hidup di tangan itu.

Terlalu banyak.

Mungkin itulah sebabnya melepaskannya terasa sulit. Sangat sulit.

“Tolong…” suara Andira hampir tidak terdengar.

Amar menghela napas.

Lalu memandang sekeliling rumah.

Rak buku. Jam dinding yang terlambat tujuh menit. Kulkas dengan magnet stroberi dari Malang. Lampu teras yang redup. Meja makan yang mulai kusam.

Rumah ini penuh kenangan.

Penuh cinta juga.

Tetapi entah sejak kapan, ia berhenti merasa pulang di dalamnya.

Dan kesadaran itu jauh lebih menyedihkan daripada ancaman perceraian apa pun.

“Aku tidak pergi karena tidak sayang,” suara Amar pelan.

Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Lalu kenapa?” tanya Andira.

Kali ini Amar tidak langsung menjawab. Karena jawabannya baru saja ia temukan beberapa detik lalu. Di tengah rumah yang mereka bangun bersama. Di tengah benda-benda yang menyimpan begitu banyak cerita.

“Aku cuma…”

Ia berhenti. Mencari kata yang tepat.

“…Aku cuma kangen jadi diriku sendiri,” kata Amar.

Andira menangis.

Amar menutup mata sesaat. Lalu membuka pintu.

Udara sore masuk perlahan.

Tidak dingin. Tidak hangat. Biasa saja.

Seperti kebanyakan perpisahan.

Tidak selalu meledak-ledak.

Kadang justru datang dengan tenang. Lalu mengubah hidup seseorang untuk waktu yang sangat lama.

Dan ketika akhirnya melangkah keluar, Amar menyadari sesuatu yang tidak sempat ia pahami selama bertahun-tahun.

Ternyata orang yang paling dulu pergi dari pernikahan itu bukan Andira. Bukan juga dirinya.

Melainkan ketenangan yang dulu mereka miliki bersama.

Catatan Penulis:

Cerita ini hanyalah fiksi yang lahir dari secangkir kopi dan kebosanan yang berlebihan. Segala kemiripan tokoh, peristiwa, maupun dialog dengan kehidupan nyata adalah kebetulan yang tidak direncanakan, mohon jangan salahkan penulis.