SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Hujan turun sejak dini hari. Bukan hujan deras yang gaduh. Hanya rintik kecil yang jatuh di atap seng rumah sederhana itu. Bunyinya teratur. Pelan. Seperti hitungan waktu yang tidak bisa dihentikan.
Di rumah kecil bercat biru yang mulai pudar itu, seorang perempuan terbaring.
Namanya Bunga.
Tubuhnya sudah kaku ketika matahari mulai merayap naik. Wajahnya pucat. Bibirnya tipis. Rambutnya tergerai menutup sebagian pipi yang cekung.
Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun duduk bersandar pada lengannya.
“Ibu… bangun…”
Suaranya serak.
Ia mengguncang pelan bahu ibunya. Lalu lebih keras.
“Ibu… aku lapar…”
Biasanya, kalimat itu akan disambut senyum dan kecupan di kening. Hari ini tidak.
Anak kecil itu akhirnya meletakkan kepalanya di dada ibunya. Mencari detak yang sudah tidak ada.
Ia tidak mengerti kematian. Ia hanya tahu, ibunya dingin. Dan dunia tiba-tiba terasa asing.
Tidak ada perempuan yang menikah untuk kemudian dihancurkan.
Bunga dulu percaya pada cinta. Percaya bahwa rumah tangga adalah tempat paling aman untuk kembali.
Awal pernikahannya seperti musim semi. Rumah kontrakan kecil, tapi penuh tawa. Makan nasi dengan telur dadar dibagi dua, tapi terasa nikmat.
Suaminya sering memeluknya dari belakang saat ia memasak.
“Kamu itu rumahku,” bisiknya.
Bunga menyimpan kalimat itu dalam hatinya.
Ketika ia hamil, suaminya lebih perhatian. Mengantar kontrol. Mengelus perutnya sambil tersenyum.
“Kamu ratu di rumah ini.”
Bunga percaya.
Ia tidak tahu, sebagian janji hanya kuat saat keadaan masih mudah.
Setelah anak mereka lahir, segalanya berubah. Tidak tiba-tiba. Tapi perlahan. Seperti dinding yang retaknya makin panjang setiap hari. Suaminya mulai sering pulang larut.
“Ada kerjaan.”
Bunga tidak pernah bertanya panjang. Ia menyusui anaknya sendirian. Terjaga saat demam. Menangis diam-diam saat tubuhnya lelah.
Ekonomi mereka runtuh. Dengan hati yang tetap ingin menjaga harga diri suaminya, Bunga berkata pelan:
“Daeng… aku dan bayi kita tinggal dulu di rumah orang tuaku ya, supaya Daeng fokus kerja.”
Ia pikir itu pengorbanan. Ia tidak tahu, itu awal perpisahan. Bulan pertama masih ada kabar. Bulan kedua mulai jarang. Bulan ketiga hanya jawaban singkat.
“Maaf. Sibuk.”
Panggilan terputus sebelum ia sempat berkata rindu.
Setiap malam Bunga berbisik pada bayinya: “Ayah lagi berjuang, Nak…”
Ia membela lelaki yang perlahan menjauh.
Sampai suatu hari, ia tak sanggup lagi menunggu.
Tanpa memberi kabar, Bunga datang ke kota tempat suaminya tinggal.
Perjalanan panjang itu diisi harapan yang gemetar.
Mungkin ia hanya salah paham. Mungkin ia akan dipeluk. Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Pintu rumah kontrakan itu terbuka.
Suaminya berdiri di sana. Wajahnya datar.
Ia memeluk anaknya. Singkat. Tanpa menatap Bunga lama.
Rumah itu berantakan. Bau rokok menyengat. Tirai kusam. Lantai lengket. Bunga membersihkan dalam diam.
Ia masih ingin menjadi istri. Lalu bunyi notifikasi itu terdengar. Satu pesan.
“Kak, nanti jadi ketemuan di café?”
Tubuh Bunga membeku. Tangannya gemetar membuka layar. Dan dunia runtuh dalam satu tarikan napas.
Percakapan tengah malam. Foto tertawa bersama. Video di meja café. Kalimat manis yang tak pernah lagi ia dengar.
“Aku tenang kalau sama kamu.”
Tenang.
Kata yang tidak lagi ditujukan padanya.
“Daeng … ini siapa?”
“Teman.”
Jawaban singkat. Dingin.
“Kenapa sering telepon tengah malam? Kenapa aku yang istrimu seperti orang asing?”
Suaminya bangkit, marah.
“Kamu tidak berhak pegang HP-ku!”
“Aku istrimu!”
“Kamu penuh drama! Tidak menenangkan! Tidak produktif!”
Setiap kata seperti palu.
“Dia wanita cerdas. Kariernya bagus. Kalau bersamanya aku tenang. Kamu? Kamu hanya ibu rumah tangga.”
Hening.
Bunga menatap lelaki yang dulu memanggilnya ratu.
“Jadi aku ini apa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya asap rokok. Tas dilemparkan.
“Kemasi barangmu. Aku ceraikan kamu. Dia yang akan tinggal di sini.”
Saat itu, air mata Bunga tidak jatuh.
Karena ada bagian dalam dirinya yang patah… dan tidak berbunyi.
Setelah resmi berpisah, Bunga kembali ke kota kecil itu.
Ia bekerja menjahit. Menjual kue. Membersihkan rumah orang. Tubuhnya makin kurus.
Tetangga berkata, “Kamu kuat sekali.”
Bunga tersenyum.
Mereka tidak tahu setiap malam ia duduk sendirian di teras. Menatap langit.
“Kenapa aku tidak cukup baginya?” bisiknya dalam hati.
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Luka batin tidak berdarah. Tapi ia memakan perlahan. Ia membuat tubuh lelah. Membuat jiwa hampa.
Dan suatu malam, listrik padam. Hujan turun lebih deras dari biasanya. Anaknya menangis karena lapar. Beras tinggal segenggam. Bunga memeluknya.
“Maaf ya, Nak…”
Anak itu tertidur di pangkuannya. Bunga menatap wajah kecil itu lama sekali.
Ia mencium keningnya. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Air matanya jatuh mengenai pipi anak itu.
Ia mengambil kertas. Menulis surat terakhirnya. Tangannya gemetar. Di akhir kalimat ia menulis:
“Aku tidak membencimu. Tapi aku akan meminta keadilan.”
Lalu ia duduk kembali. Menatap hujan. Mengingat satu kalimat yang paling menghancurkan:
“Kamu kalah sebelum memulai.”
Bunga tersenyum kecil.
“Tidak, Daeng … aku hanya salah memilih tempat pulang.”
Dan malam itu, dalam sunyi yang panjang, napasnya berhenti.
Tanpa saksi. Tanpa pelukan. Selain anak kecil yang tertidur memeluk lengannya.
Pagi itu warga menemukan mereka.
Anak kecil itu masih mengguncang tubuh ibunya.
“Ibu bangun… aku mau cerita…”
Tidak ada jawaban. Kabar kematian itu akhirnya sampai pada lelaki yang dulu memanggilnya ratu.
Ia terdiam lama. Tangannya gemetar membaca pesan itu. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa sesak. Ia datang terlambat.
Di depan jenazah Bunga, ia tidak berani mendekat. Ia hanya berdiri jauh. Karena tiba-tiba semua kata-katanya terdengar kembali di telinganya.
“Kamu tidak setara.”
“Kamu kalah.”
“Kamu hanya ibu rumah tangga.”
Dan kali ini, ia sadar, dia bukan kehilangan istri. Namun kehilangan satu-satunya orang yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Tapi kesadaran selalu datang paling akhir. Dan tidak ada yang bisa dikembalikan.
Anak kecil itu kini berusia tiga belas tahun. Ia duduk di kamar sederhana, memegang surat yang mulai menguning.
Ia membacanya perlahan. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh mengenai kalimat:
“Tumbuhlah jadi lelaki kuat.”
Ia menutup mata. Ia akhirnya mengerti. Ibunya bukan lemah. Ibunya terlalu lama menahan luka sendirian.
Ia berdiri. Menatap langit sore.
“Ibu… aku akan jadi lelaki yang tidak menyakiti perempuan.”
Angin berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, ia tidak menangis.
Karena ia tahu, ada Pengadilan yang tidak pernah salah.
Di sana, tidak ada status. Tidak ada karier. Tidak ada perbandingan. Yang ada hanya pertanggungjawaban.
Dan setiap air mata perempuan… tidak pernah jatuh sia-sia.
Tenanglah, Bunga. Namamu mungkin dilupakan manusia. Tapi lukamu tercatat. Dan di akhir segalanya, keadilan selalu menemukan jalannya.


9 Komentar
Cerpen ini bukan tentang kematian, tapi tentang luka yang terlalu lama disimpan sendirian.
Seorang ibu bisa bertahan dari lapar. Tapi tidak selalu dari penghinaan
Bunga tidak kalah. Ia hanya terlalu lama mencintai orang yang salah.
Ibu rumah tangga disebut tidak produktif. Padahal seorang ibu sedang membangun manusia
Aku lebih baik pisah dri PDA berbagi tiap hari terluka fisik dn mental,,masalah ank biarlah berjalan seperti biasa agar mereka tidak kekurangan cinta kedua orang tuanya
nyesek
ini cerita sama seperti yng ku alami.. dunia rasanya hancur.. dan aku lebih baik mundur
menunggu kisah2 lainnya kak. please info jika sudah terbit novel terbarunya ya
wow… unsur intrinsik cerpennya bikin takjub. Salam hormatku