Malam itu tidak ada lagi percakapan panjang.

Andi dan Icha tetap duduk di anak tangga gudang, ditemani suara hujan yang belum juga reda.

Surat-surat yang ditulis Icha masih berada di pangkuan Andi. Ia membaca satu per satu.

Ada surat tentang bunga melati yang akhirnya mekar. Ada surat tentang kucing liar yang setiap sore datang ke teras. Ada surat tentang resep baru yang berhasil dicoba Icha setelah tiga kali gagal. Hal-hal kecil. Sangat kecil.

Namun justru karena kecil, Andi menyadari betapa banyak kehidupan istrinya yang tidak pernah benar-benar ia kenal.

Ia selalu hadir saat keputusan-keputusan besar harus diambil. Tetapi absen dari ribuan peristiwa sederhana yang sesungguhnya membangun sebuah pernikahan.

Keesokan paginya, Andi datang ke kantor lebih lambat dari biasanya. Ia meminta seluruh kepala divisi berkumpul. Semua mengira ada persoalan besar. Mereka duduk mengelilingi meja rapat.

Andi berdiri di depan.

“Mulai bulan depan, struktur kerja kita berubah,” katanya pelan.

Beberapa orang saling berpandangan.

“Semua keputusan tidak lagi harus menunggu saya.”

“Pak… maksudnya?”

“Saya terlalu lama membangun perusahaan yang bergantung pada satu orang.”

Ia menarik napas.

“Itu bukan kepemimpinan yang baik.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Kalau suatu hari saya tidak ada, perusahaan ini harus tetap berjalan.”

Kalimat itu terdengar seperti pembahasan bisnis. Padahal sebenarnya, Andi sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya tidak boleh berhenti. Tidak boleh melambat. Tidak boleh melewatkan satu rapat pun.

Kini ia sadar, dunia tidak berhenti ketika seseorang pulang lebih cepat. Yang selama ini berhenti justru rumahnya.

Siang harinya, Andi menghubungi koordinator tim pendampingan.

“Ada yang ingin saya sampaikan.”

“Siap, Pak.”

“Mulai semester depan saya mengurangi jadwal lapangan.”

“Tapi desa-desa binaan bagaimana?”

“Kita siapkan pendamping baru.”

“Kalau Bapak mundur, mereka pasti kecewa.”

Andi tersenyum tipis.

“Jangan pernah membangun sistem yang bergantung pada satu nama.”

Ia menutup telepon. Ada rasa lega. Sekaligus kehilangan. Sebagian hidup yang selama ini ia bangun perlahan ia lepaskan. Bukan karena berhenti peduli. Melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak harus dibayar dengan kehilangan keluarga.

Sore itu ia pulang membawa sesuatu. Bukan bunga. Bukan hadiah. Melainkan sebuah bingkai kayu sederhana.

Ia mengetuk pintu ruang kerja Icha.

“Boleh masuk?”

“Boleh.”

Andi masuk sambil membawa bingkai itu.

“Aku menemukan sesuatu.”

“Apa?”

Ia mengeluarkan lukisan pertama yang pernah dibuat Icha setelah mereka menikah. Lukisan itu selama ini tersimpan di gudang kantor medianya. Berdebu. Sudut bingkainya mulai rusak.

“Aku menemukannya kemarin.”

Icha memandang lukisan itu cukup lama. Di dalamnya tergambar dua cangkir kopi di atas meja kayu. Di balik jendela tampak hujan turun. Di pojok kiri bawah tertulis tanggal. Tahun pertama pernikahan mereka.

“Aku pikir lukisan ini hilang.”

“Aku juga.”

Andi tersenyum pahit.

“Ternyata bukan hilang.”

“Lalu?”

“Aku yang lupa menyimpannya di mana.”

Kalimat itu terdengar seperti sedang membicarakan lukisan. Padahal mereka sama-sama tahu, yang sedang dibicarakan bukan hanya sebuah kanvas.

Malam menjelang. Andi berdiri di teras rumah. Kali ini, ia tidak memegang ponsel. Ia hanya memandangi jalan di depan rumah. Beberapa anak bersepeda melintas. Seorang pedagang bakso mendorong gerobaknya.

Langit mulai berubah jingga. Icha keluar membawa dua cangkir kopi.

“Dingin.”

“Iya.”

Mereka duduk berdampingan. Tidak ada yang berbicara. Keheningan kali ini berbeda. Tidak lagi terasa seperti jarak. Lebih mirip dua orang yang sama-sama sedang belajar mengucapkan sesuatu yang sulit.

Setelah beberapa menit, Andi membuka suara.

“Kalau waktu bisa diputar…”

Icha langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena kita tidak hidup di sana.”

Andi menatap wajah istrinya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

Icha memegang cangkirnya dengan kedua tangan.

“Jangan habiskan hidupmu menyesali kemarin.”

Ia memandang lurus ke jalan.

“Tapi jangan juga menganggap besok selalu memberi kesempatan.”

Angin sore bertiup pelan. Daun-daun mangga bergesekan. Untuk pertama kalinya, Andi tidak mendengar nasihat itu sebagai harapan. Melainkan sebagai kenyataan. Bahwa waktu tidak pernah berjanji menunggu siapa pun.

Malam itu, sebelum tidur, Andi membuka kembali percakapan dengan Icha. Ia menggulir pesan-pesan lama. Pesan tentang hujan. Tentang makan malam. Tentang obat yang jangan lupa diminum.

Tentang pertanyaan sederhana, “Kak, pulang jam berapa?”

Ia tidak lagi merasa sedang membaca riwayat percakapan. Ia merasa sedang membaca sejarah tentang seorang perempuan yang selama bertahun-tahun berusaha mempertahankan sebuah rumah.

Perlahan ia mengetik satu kalimat. Bukan untuk meminta maaf. Bukan pula untuk membujuk. Hanya sebuah pengakuan yang terlambat.

Selama ini aku mengira alasan aku pulang adalah rumah ini.

Jarinya berhenti. Ia menambahkan satu kalimat lagi.

Ternyata alasan aku ingin pulang selalu adalah kamu.

Pesan itu belum ia kirim. Ia memandang layar cukup lama. Lalu mengangkat kepala. Di sisi lain tempat tidur, Icha sudah tertidur lebih dulu.

Andi mematikan layar ponselnya, ia memilih menyimpan kata-kata itu bukan di dalam aplikasi pesan. Melainkan untuk diucapkan langsung esok pagi. Karena akhirnya ia belajar bahwa ada kalimat-kalimat yang terlalu berharga jika hanya dikirim sebagai notifikasi di layar ponsel.