Sejak malam melihat lukisan itu, Andi membuat satu keputusan kecil.
Hari Sabtu ini, apa pun yang terjadi, ia tidak akan menerima jadwal apa pun setelah pukul sepuluh pagi.
Ia ingin mengajak Icha keluar. Bukan ke restoran mahal. Bukan ke hotel.
Ia hanya ingin mengajaknya ke pantai tempat mereka dulu sering duduk ketika masih menjadi pasangan yang belum memiliki apa-apa.
Tempat mereka makan es pisang ijo sambil menghitung kapal yang melintas. Tempat Andi pertama kali berkata,
“Kalau nanti hidup kita berubah, jangan biarkan kita berubah.”
Kalimat itu tiba-tiba datang begitu saja dalam ingatannya.
Ia bahkan masih ingat angin sore yang membuat kerudung Icha berkibar dan suara tawa perempuan itu ketika seekor anak anjing mengejar sandal mereka.
Sudah empat belas tahun. Dan ia baru menyadari betapa sedikit kenangan baru yang mereka buat setelah kehidupan menjadi lebih baik.
Jumat malam, sebelum tidur, Andi masuk ke dapur. Icha sedang memasukkan beras ke dalam wadah bening.
“Besok.”
Andi bersandar di kusen pintu.
“Kita pergi, ya.”
Icha menoleh.
“Ke mana?”
“Ke pantai.”
Icha tersenyum kecil.
“Pantai yang dulu?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Pagi.”
“Kakak yakin tidak ada rapat?”
“Aku sudah kosongkan jadwal.”
Icha memandang wajah suaminya lebih lama daripada biasanya.
“Lama sekali aku tidak mendengar kalimat itu.”
“Kalimat apa?”
“‘Aku sudah kosongkan jadwal.'”
Andi tertawa pelan.
“Mulai sekarang akan lebih sering.”
Icha tidak menjawab. Ia hanya menutup wadah beras itu rapat-rapat.
Sabtu pagi.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya pagi ini Andi terbangun tanpa interupsi suara alarm. Ia bahkan sempat membuat kopi.
Ketika Icha keluar dari kamar, dua cangkir sudah menunggu di meja.
“Kakak yang bikin?”
Andi mengangguk bangga. Icha mencicipinya. Lalu tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Gulanya dua kali.”
“Serius?”
“Iya.”
Andi ikut tertawa.
“Ternyata aku memang lebih cocok bikin berita.”
“Daripada kopi?”
“Jauh.”
Suasana pagi itu terasa ringan. Mereka sarapan bersama. Andi membantu mencuci piring. Hal yang dulu sering ia lakukan, lalu entah sejak kapan berhenti.
Saat hendak berangkat, Icha mengambil tas kecil berwarna cokelat. Tas yang sama yang ia pakai ketika mereka pertama kali ke pantai itu.
Andi mengenalinya.
“Masih disimpan?”
“Masih.”
“Padahal sudah lama.”
“Ada beberapa barang yang sayang dibuang.”
Jawaban itu sederhana. Namun entah mengapa membuat Andi berpikir tentang banyak hal lain yang hampir mereka buang tanpa sadar.
Mobil baru berjalan sekitar dua puluh menit ketika ponsel Andi berdering. Ia melirik layarnya. Ketua dewan redaksi. Andi membiarkannya berbunyi sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, panggilan lain masuk. Direktur program. Kemudian sekretarisnya. Lalu pesan bertubi-tubi.
Icha menoleh.
“Angkat saja.”
“Nanti.”
“Kalau penting?”
“Aku sedang sama kamu.”
Icha tersenyum. Kalimat itu sudah lama tidak ia dengar. Namun belum sempat senyum itu benar-benar tumbuh, ponsel kembali berdering.
Kali ini nama yang muncul membuat wajah Andi berubah. Pak Jufri Rahman. Pemimpin perusahaan yang selama ini menjadi mitra terbesar media mereka.
Andi menggenggam kemudi lebih erat.
“Kak…”
“Iya.”
“Kalau memang penting, angkat.”
Andi menghela napas.
“Sebentar saja.”
Ia menekan tombol penerima.
“Halo, Pak.”
Suara di seberang terdengar tergesa-gesa. Andi hanya sesekali menjawab.
“Iya, Pak.”
“Baik.”
“Saya mengerti.”
Telepon itu selesai dalam tiga menit. Tetapi tiga menit berubah menjadi lima belas. Lima belas berubah menjadi tiga puluh. Karena setelah telepon pertama, muncul telepon kedua. Disusul panggilan konferensi. Lalu diskusi singkat dengan redaksi.
Mobil tetap melaju. Namun percakapan di dalamnya berhenti. Icha memandang keluar jendela. Sawah-sawah mulai berganti dengan deretan pohon kelapa. Langit cerah. Cuaca yang dulu selalu mereka tunggu.
Andi masih berbicara.
“…iya, berita itu jangan naik dulu.”
“…pastikan datanya lengkap.”
“…saya tiba sekitar satu jam lagi.”
Ketika telepon terakhir akhirnya berakhir, ia menoleh.
“Maaf.”
Icha masih melihat ke luar.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Mau kita lanjut?”
Icha mengangguk.
“Boleh.”
Tetapi suara itu tidak lagi sama seperti satu jam sebelumnya. Mereka tiba di pantai menjelang siang.
Laut masih seperti dulu. Angin masih membawa aroma garam. Beberapa anak berlari mengejar ombak. Seorang penjual jagung bakar mendorong gerobaknya pelan.
Andi tersenyum.
“Ingat?”
Icha mengangguk.
“Ingat.”
Mereka berjalan berdampingan di pasir. Tidak saling menyentuh. Tidak saling menjauh. Hanya berjalan. Sesampainya di batu besar tempat mereka dulu sering duduk, Andi berhenti.
“Cha…”
“Hm?”
“Aku mau minta maaf.”
Icha memungut sebuah kerang kecil.
“Untuk yang mana?”
Pertanyaan itu membuat Andi terdiam. Karena ternyata ia tidak hanya perlu meminta maaf untuk satu kejadian. Ada terlalu banyak “maaf” yang tertunda. Ia memandang laut yang bergulung pelan.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Icha menggenggam kerang itu di telapak tangannya.
“Kak…”
Ia berbicara tanpa menoleh.
“Apa yang ingin Kakak perbaiki?”
“Kita.”
“Kita yang sekarang…”
Ia akhirnya menatap Andi.
“…atau kita yang sudah lama hilang?”
Angin bertiup lebih kencang. Tak ada yang langsung menjawab.
Di kejauhan, seorang anak kecil berlari memanggil ayahnya yang sedang berdiri di bibir pantai. Lelaki itu segera menghampiri, mengangkat anaknya ke pundak, lalu tertawa bersama.
Andi memperhatikan mereka tanpa sadar. Icha juga. Lalu, hampir bersamaan, mereka kembali memandang laut.
Sejak menikah, baru kali ini mereka berdiri di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Namun, mereka justru sadar, hal paling sulit dikejar bukanlah ombak yang datang dan pergi, melainkan waktu yang telah lewat tanpa pernah bisa dipanggil pulang.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.