SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Risma sebenarnya tidak ingin datang ke pesta itu.

Sejak pagi kepalanya sudah terasa berat. Anak bungsunya minta diantar membeli sepatu, dua kakaknya ribut soal kamar mandi, sementara pekerjaan rumah belum juga selesai.

“Datang sebentar saja,” kata ibunya lewat telepon. “Masa kondangan saudara sendiri tidak datang?”

Risma akhirnya menyerah.

Menjelang magrib ia sudah berada di rumah pengantin, mengenakan gamis cokelat muda yang sudah beberapa kali dipakainya.

Malam itu ia bahkan sempat tertawa. Sampai suara itu terdengar.

“Risma!”

Seketika tubuhnya kaku. Ia mengenali suara itu bahkan di tengah ratusan orang.

Suaminya datang.

Tidak butuh waktu lama sampai keributan terjadi. Ia dimaki. Ditarik.

Dan di depan banyak orang, sebuah tamparan mendarat di wajahnya.

Tidak ada yang lebih sakit daripada tamparan itu.

Yang lebih sakit adalah ketika Risma melihat orang-orang yang mengenalnya menunduk, pura-pura tidak melihat.

Malam itu, sesuatu di dalam dirinya selesai.

Pagi berikutnya Risma menemui ayahnya, Daeng Roa.

“Aku mau cerai.”

Ayahnya meletakkan cangkir kopi.

“Jangan terburu-buru, Nak,” ujar Daeng Roa.

“Aku sudah lama berpikir.”

“Dia bisa berubah,” lanjut ayahnya.

Risma tersenyum tipis.

“Kalau dia berubah, saya senang, Etta.”

“Lalu?”

“Saya tidak mau menunggu perubahan itu sambil terus dipukul.”

Daeng Roa terdiam cukup lama setelah mendengar perkataan anaknya.

Ia sebenarnya menyukai menantunya.

Di hadapan orang tua, lelaki itu pandai bersikap.

Bicaranya tentang agama.

Sopan.

Tahu bagaimana mengambil hati keluarga.

Bahkan beberapa kali ayah Risma menasihati anaknya agar lebih banyak bersabar.

Tetapi kali ini Risma tidak mau lagi menjelaskan.

Dia mengajukan gugatan.

Dan akhirnya putusan itu keluar.

Mereka resmi bercerai.

Risma membawa pulang surat putusan dengan tangan yang dingin.

Ia pikir setelah itu hidupnya akan lebih tenang.

Ternyata tidak.

Mantan suaminya datang tiga hari kemudian.

Risma sedang menyapu halaman ketika suara motor berhenti di depan rumah.

Dia tidak perlu melihat untuk tahu siapa.

“Anak-anak di mana?”

“Di dalam.”

“Aku mau ketemu.”

Risma tetap menyapu.

“Silakan.”

Lelaki itu turun.

Kemudian berdiri di depan pintu.

“Kamu sekarang merasa bebas?”

Risma berhenti menyapu.

“Aku memang sudah bebas.”

“Jangan merasa begitu.”

Risma menatapnya.

“Kita sudah resmi bercerai.”

“Cerai di pengadilan bukan berarti kamu bisa seenaknya.”

Risma menarik napas.

Dulu kalimat seperti itu bisa membuatnya gemetar.

Hari itu tidak.

Sedikit takut masih ada.

Tetapi di balik rasa takut itu muncul sesuatu yang baru.

Jengkel.

“Sekarang kamu tidak punya hak mengatur saya.”

Wajah lelaki itu berubah.

“Kamu berani melawan saya?”

Risma menggenggam gagang sapu lebih kuat.

“Bukan melawan.”

Dia menatap mata lelaki itu.

“Sudah selesai.”

Dua kata itu membuat lelaki itu pergi.

Tetapi bukan berarti masalah selesai.

Setelah perceraian, anak-anak justru menjadi alasan mereka terus berhubungan.

Awalnya Risma mencoba bersikap baik.

Ia tidak pernah melarang anak-anak bertemu ayahnya.

Tetapi mantan suaminya mulai menggunakan anak-anak sebagai jalan untuk masuk kembali ke kehidupan Risma.

Ia bertanya siapa yang datang ke rumah.

Dengan siapa Risma pergi.

Kenapa Risma pulang terlambat.

Siapa yang mengantar anak-anak.

Bahkan pernah suatu malam ia menelepon hanya untuk bertanya: “Kamu sama siapa?”

Risma menjawab datar.

“Tidak perlu tahu.”

“Kamu masih istriku.”

Risma terdiam.

Lalu menjawab: “Tidak.”

“Apa?”

“Kita sudah bercerai.”

Telepon ditutup.

Malam itu Risma menangis. Bukan karena rindu. Bukan karena menyesal.

Ia menangis karena baru sadar betapa lama dirinya hidup dalam ketakutan.

Bahkan setelah perceraian pun, ketakutan itu masih ikut pulang bersamanya.

Masalah menjadi lebih rumit ketika keluarga ikut campur.

Ayah Risma beberapa kali meminta agar ia tidak memperbesar masalah.

“Bagaimanapun dia ayah anak-anakmu.”

“Aku tidak pernah melarang dia bertemu anak-anak.”

“Jangan terlalu keras.”

Risma menatap ayahnya.

“Etta, dulu waktu dia pukul saya, saya diminta sabar.”

Ayahnya diam.

“Sekarang setelah saya cerai, saya masih diminta sabar.”

Risma mengusap wajah.

“Sampai kapan saya harus sabar?”

Daeng Roa tidak menjawab.

Itu pertama kalinya Risma sadar bahwa kadang-kadang orang tua pun bisa salah.

Bukan karena mereka tidak sayang.

Tetapi karena mereka lebih takut melihat keluarga berantakan daripada melihat seorang perempuan perlahan hancur di dalamnya.

Beberapa bulan kemudian, Hery muncul.

Awalnya hanya sebagai teman.

Risma sengaja menjaga jarak.

Ia tidak mau mengulangi kesalahan.

Tidak mau kembali menikah hanya karena membutuhkan seseorang.

Apalagi anak-anak masih membutuhkan waktu untuk pulih.

Hery memahami itu.

Tetapi keberadaan Hery akhirnya diketahui mantan suaminya.

Sejak saat itu masalah baru dimulai.

Suatu sore, mantan suaminya datang ketika Hery sedang berada di rumah.

Ia turun dari mobil dengan wajah keras.

“Kamu?”

Hery berdiri.

“Iya.”

“Apa urusanmu di sini?”

Hery tidak menjawab.

Risma maju.

“Dia teman saya.”

Mantan suaminya tertawa pendek.

“Teman?”

“Jangan mulai.”

“Jadi selama ini?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Jangan bohong!”

Anak-anak yang berada di dalam rumah mulai keluar.

Risma langsung menoleh.

“Masuk!”

Anak-anak diam.

Hery mendekati Risma.

“Sudah.”

Mantan suaminya menatap Hery.

“Kamu jangan ikut campur.”

Hery tetap tenang.

“Saya tidak ingin bertengkar.”

“Ini urusan rumah tangga saya.”

Hery menatapnya beberapa detik.

“Bukankah kalian sudah bercerai?”

Kalimat itu membuat suasana semakin panas.

Mantan suami Risma maju.

“Jangan sok tahu!”

Hery tidak mundur.

Tetapi ia juga tidak membalas.

Risma melihat itu.

Ia melihat seorang lelaki yang sebenarnya bisa membalas, tetapi memilih tidak melakukannya.

Kali ini ia merasakan perbedaan yang sangat sederhana.

Ada lelaki yang ketika marah ingin membuat orang lain takut.

Ada lelaki yang ketika marah justru berusaha agar tidak menyakiti siapa pun.

Anehnya, keluarga mantan suami Risma justru membela lelaki itu.

Mereka mengatakan Risma terlalu cepat mencari pengganti.

Mereka menyebut Hery sebagai penyebab keretakan.

Padahal saat itu perceraian sudah lama diputuskan.

Bahkan ayah Risma sendiri sempat meminta Risma berhati-hati.

“Jangan sampai orang-orang bilang kamu cerai karena lelaki lain.”

Risma tertawa getir.

“Jadi saya harus tetap sendiri supaya orang lain tidak ngomong?”

Tidak ada yang menjawab.

Hery pun tidak meminta Risma memilih dirinya.

Itulah yang membuat Risma semakin yakin.

“Aku tidak mau kamu bertengkar dengan keluargamu karena aku,” kata Hery suatu malam.

“Terus?”

“Kalau kamu merasa belum siap, saya bisa menunggu.”

“Kalau aku tidak pernah siap?”

“Ya saya tetap menghormati.”

Risma memandangnya.

“Kamu tidak capek?”

“Capek.”

“Lalu?”

Hery tersenyum.

“Saya capek mengejar. Tapi saya lebih capek kalau harus memaksa.”

Risma tertawa kecil.

Entah kenapa, ia merasa sebuah hubungan tidak harus dibangun dengan ketakutan akan kehilangan.

Hery melamarnya.

Risma menolak.

Untuk kedua kalinya, Hery datang.

Risma menolak lagi.

Pada lamaran ketiga, Risma bahkan berkata: “Jangan datang lagi.”

Hery mengangguk.

“Baik.”

Ia benar-benar berhenti.

Tidak mengancam. Tidak menyalahkan. Tidak membuat Risma merasa bersalah.

Justru setelah Hery berhenti mengejar, Risma mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Kalau bukan karena takut sendirian, apakah aku sebenarnya ingin bersamanya?

Jawabannya ternyata iya.

Tetapi sebelum mengatakan iya, Risma membuat satu syarat.

“Aku punya tiga anak.”

“Aku tahu.”

“Jangan cuma bilang tahu.”

Hery diam.

“Kalau nanti kamu marah kepada mereka?”

Hery mengangguk pelan.

“Itu mungkin terjadi.”

Risma terkejut.

“Jujur sekali.”

“Saya bukan malaikat.”

Risma tersenyum.

“Tapi kalau kamu marah?”

“Kita bicara.”

“Kalau mereka salah?”

“Saya tegur.”

“Kalau saya salah?”

“Saya tegur juga.”

Risma tertawa.

“Berarti saya juga?”

“Ya.”

“Tidak takut saya pergi?”

Hery menatapnya.

“Kalau setiap kali berbeda pendapat kita takut ditinggalkan, kapan kita bisa belajar hidup bersama?”

Risma terdiam.

Itu jawaban yang sederhana.

Tetapi justru itu yang selama ini ia cari.

Mereka akhirnya menikah.

Pernikahan itu bukan akhir dari masalah.

Mantan suaminya masih beberapa kali datang.

Masih membuat keributan.

Masih merasa dirinya punya tempat di dalam kehidupan Risma.

Bahkan pernah suatu ketika ia mencoba memengaruhi anak-anak.

“Kalau kalian tinggal sama ayah, hidup kalian lebih enak.”

Anak laki-laki Risma hanya diam.

Beberapa hari kemudian ia bertanya kepada ibunya: “Ma, kenapa Ayah selalu marah sama Om Hery?”

Risma tidak langsung menjawab.

“Karena orang dewasa kadang belum selesai dengan masalahnya sendiri.”

“Om Hery takut sama Ayah?”

Risma tersenyum.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Om Hery tidak perlu membuktikan apa-apa.”

Hubungan Hery dengan ketiga anak itu juga tidak langsung sempurna.

Pernah anak sulung Risma membanting pintu.

Pernah anak keduanya marah karena merasa Hery terlalu ikut campur.

Pernah juga Hery dan Risma bertengkar karena cara mereka mendidik anak berbeda.

Tetapi setiap masalah memiliki satu hal yang sama: Mereka tidak saling memukul. Tidak saling mengancam. Tidak membawa-bawa perceraian setiap kali marah.

Mereka bisa tidur dengan hati kesal, tetapi pagi harinya masih bisa berkata: “Bicarakan nanti, ya.”

Bagi Risma, itu sudah seperti dunia yang berbeda.

Tahun-tahun berlalu. Usaha mereka berkembang.

Dari yang awalnya kecil, perlahan mereka masuk ke bisnis properti dan usaha sumber daya alam.

Ada masa mereka untung besar.

Ada masa mereka hampir kehilangan banyak hal.

Hery pernah salah mengambil keputusan.

Risma pernah kecewa.

Mereka pernah bertengkar soal uang.

Tetapi setelah pertengkaran itu selesai, mereka tetap duduk bersama menghitung ulang.

Tidak ada yang pergi sambil membanting pintu.

Tidak ada yang membuat yang lain merasa tidak berharga.

Mereka belajar. Pelan-pelan. Bersama-sama. Anak-anak pun tumbuh.

Dan suatu malam, ketika rumah sudah sepi, Risma duduk di teras bersama Hery.

“Kamu pernah menyesal menikah denganku?” tanya Risma tiba-tiba.

Hery menoleh.

“Kenapa tanya begitu?”

“Tidak tahu.”

Hery menyeruput kopi.

“Kalau menyesal, dari dulu saya sudah pergi.”

Risma tersenyum.

Kemudian ia menyandarkan kepala ke bahunya.

Ia teringat masa lalu. Tentang pesta itu. Tentang tamparan di depan orang-orang. Tentang pengadilan. Tentang keluarganya yang dulu memintanya bertahan. Tentang mantan suami yang bahkan setelah perceraian masih berusaha menguasai hidupnya.

Semua itu masih menjadi bagian dari dirinya.

Tetapi bukan lagi tempat tinggalnya.

Risma menutup mata.

Dulu ia mengira cinta adalah ketika seorang lelaki tidak mau kehilangan dirinya.

Sekarang ia tahu, cinta justru ketika seorang lelaki tidak membuatnya kehilangan dirinya sendiri.

Hery tidak menyelamatkan Risma.

Risma menyelamatkan dirinya sendiri.

Hery hanya datang setelah itu dan menunjukkan bahwa hidup yang tenang ternyata benar-benar ada.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ketika pintu rumah terbuka pada malam hari, Risma tidak merasa takut.

Ia justru tersenyum. Karena ia tahu siapa yang pulang.