Pagi itu datang seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari terbit dari balik pepohonan. Burung gereja hinggap di pagar. Tetangga sebelah menyapu halaman sambil menyenandungkan lagu Bugis.

Andi bangun lebih awal. Ia memasak telur dadar. Rotinya sedikit gosong. Kopi yang dibuatnya masih terlalu manis.

Ketika Icha keluar dari kamar, Andi tersenyum canggung.

“Aku sedang belajar.”

Icha menatap meja makan. Lalu tersenyum.

“Kelihatannya masih perlu banyak belajar.”

Mereka tertawa. Tawa yang sederhana. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.

Sesudah sarapan, Andi mengambil napas panjang.

“Cha.”

“Iya?”

“Ada yang ingin aku katakan.”

Icha meletakkan cangkirnya.

Andi menatap wajah perempuan yang telah menemaninya selama empat belas tahun. Perempuan yang selalu menyalakan lampu teras. Perempuan yang mengirim pesan setiap pagi. Perempuan yang diam-diam mengubur mimpinya agar mimpi suaminya bisa tumbuh.

“Aku sudah memutuskan.”

“Apa?”

“Aku mengurangi pekerjaanku.”

Icha diam.

“Aku juga membatalkan semua pembicaraan tentang Pemilu.”

“Aku menyerahkan sebagian perusahaan kepada tim.”

“Aku ingin pulang.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku ingin kembali menjadi suamimu.”

Keheningan total mendadak memenuhi ruang makan. Detik demi detik merayap lambat. Di antara sunyi itu, Icha memandang Andi cukup lama.

Andai percakapan itu terjadi setahun lalu… Mungkin jawabannya akan berbeda. Andai percakapan itu terjadi ketika ia masih menunggu hingga larut malam… Mungkin ia akan menangis, lalu memeluk Andi. Andai.

Sayangnya hidup tidak pernah dibangun oleh kata andai. Icha menarik napas pelan.

“Kak.”

“Hm?”

“Aku percaya.”

Andi mengangkat kepala.

“Benarkah?”

“Aku percaya kakak bisa berubah.”

Kalimat itu sempat memberi harapan. Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik.

“Tapi…”

Satu kata itu kembali datang. Tenang. Pelan. Dan menghancurkan.

“…aku sudah berubah lebih dulu.”

Andi tidak memahami maksudnya.

Icha berdiri. Berjalan menuju ruang kerja kecil. Ia kembali membawa sebuah map berwarna cokelat. Map yang dulu berisi proposal pameran lukisan. Kini di dalamnya hanya ada beberapa lembar kertas.

Ia menyerahkannya kepada Andi. Tangan lelaki itu bergetar ketika menerimanya.

Di halaman paling depan tertulis: Permohonan Cerai

Dunia seakan kehilangan suara. Yang terdengar hanya detak jam dinding.

Andi membaca halaman pertama. Lalu kedua. Huruf-huruf di atas kertas mulai kabur. Bukan karena tinta. Melainkan karena matanya dipenuhi air.

“Cha…”

Suaranya pecah.

“Jangan.”

Icha memejamkan mata.

“Aku menunda keputusan ini hampir satu tahun.”

“Satu tahun?”

“Aku berharap kakak menyadarinya.”

“Aku menyadari sekarang.”

“Iya.”

Air mata jatuh di pipinya.

“Tapi aku menyadarinya sendirian terlalu lama.”

Andi berdiri. Langkahnya pelan. Seolah takut setiap gerakan akan membuat kenyataan itu semakin nyata.

Ia berhenti di depan Icha. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memeluk istrinya erat. Sangat erat. Seolah ingin mengejar semua pelukan yang tidak sempat ia berikan.

Icha membalas pelukan itu. Mereka menangis. Bukan karena masih ingin saling menyakiti. Melainkan karena masih saling mencintai.

“Aku mencintaimu.”

Suara Andi nyaris hilang.

“Aku tahu.”

“Aku masih sangat mencintaimu.”

“Aku juga.”

Andi membeku.

“Kamu…”

Icha mengangguk.

“Aku masih mencintaimu.”

“Lalu kenapa?”

Karena ada cinta yang tetap hidup… tetapi tidak lagi cukup untuk membuat seseorang bertahan.

“Aku sudah terlalu lama belajar hidup tanpamu.”

Air mata kembali jatuh.

“Dan sekarang…”

Icha hanya terdiam medengar pertanyaan Andi.

Tiga bulan setelah percakapan itu, Andi menatap map coklat yang diberikan Icha padanya tanpa ia sentuh sama sekali.

Icha pun demikian, selama tiga bulan tidak lagi membahas soal perceraian. dia memilih kembali ke kampung halamannya menenangkan diri, tanpa komunikasi  dengan Andi.

Di keheningan ruang tengah, pandangan Andi tertambat pada sebuah bingkai foto yang terpajang di dinding. Di dalam bingkai itu, ia dan Icha berdiri berdampingan dalam balutan gaun pengantin berwarna hijau zamrud yang anggun.

Tatapan Andi terkunci pada wajah mereka berdua, di sana, terpeta dengan sangat jelas senyum bahagia yang begitu lepas. Sebuah senyuman penuh cinta seketika mengetuk kembali ruang hampa di dadanya.

Tepat saat mata Andi masih terpaku pada senyum bahagia Icha di dalam foto, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk memutus keheningan.

Begitu melihat layarnya, napas Andi seolah tertahan, di sana tertera nama yang paling ia rindukan, My Wife. Nama itu seolah menjadi jawaban instan atas segala kerinduan yang baru saja ia rapalkan di dalam hati.

“Assalamu’alaikum,” sapa Icha di seberang sana.

“Wa’alaikumussalam,” sahut Andi cepat.

“Apa kabar? Kapan kembali, rumah ini terasa kosong tanpa kamu?” sambung Andi

“Saya pulang besok, bisakah kita bertemu di pantai tempat pertama kali kita bertemu? Saya tunggu di sana jam empat sore.” jawab Icha lirih, namun terdengar pasti.

Sebelum Andi sempat membalas, bunyi klik halus terdengar. Icha mengakhiri percakapan. Sambungan telepon itu terputus.

Andi kini menatap layar yang kini menggelap. Kata-kata Icha barusan terus bergaung di kepalanya. Pantai tempat pertama kali mereka bertemu. Tempat di mana semuanya dimulai, sebelum riuh dan lelahnya dunia membuat mereka lupa cara merawat cinta.

Desiran ombak yang saling berkejaran di tepi pantai perlahan-lahan mengikis kekalutan di hati Andi.

Pandangannya menyapu sekeliling, hingga akhirnya melihatseorang wanita tengah berdiri membelakanginya. Icha tampak begitu anggun dalam balutan gaun biru, dengan ujung kerudung birunya yang sesekali dipermainkan angin.

“Hai, Apa kabar?” sapa Andi. Suaranya sedikit bergetar.

Seketika tubuh Icha berbalik. Ia menatap sosok yang kini berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu terdiam cukup lama, menatap sosok lelaki yang ada di hadapannya.

Tak mampu lagi membendung rasa, Icha menghambur dan memeluk erat lelaki yang teramat sangat dicintainya itu.

“Maafkan saya… sepertinya tiga bulan adalah waktu yang cukup lama untuk merasakan rindu ini,” kata Icha pelan, suaranya teredam di dada Andi.Pelukannya kian mengerat, seolah takut untuk berpisah.

“Kita tidak pernah benar-benar selesai, kan?” tanya Icha, sembari menatap ssenyuman dan susunan gigi indah di hadapannya.

“Tidak,” jawab Andi, ada senyum tipis yang tertahan.

“Kita hanya terlalu sibuk dengan bisingnya dunia sampai lupa merawat apa yang ada di dalam. Kita tidak lupa cara mencintai, kita hanya lupa bagaimana cara menjaganya agar tetap hangat. Sekarang, mari kita mulai lagi. Selamat datang di rumah.” ucap Andi sembari memeluk wanita yang ada di hadapannya.

Pada akhirnya, mereka tidak sedang mencari jalan baru, melainkan jalan pulang. Mereka bukan dua orang asing yang berhenti saling mencintai. Mereka hanya dua orang yang lupa merawat tanaman yang mereka semai bersama hingga daunnya sempat mengering. Namun, fondasinya tetap sama. Begitu pintu itu kembali diketuk, mereka sadar, sejauh apa pun langkah mereka, pelukan satu sama lain adalah satu-satunya tempat mereka bisa melepaskan lelah.

Catatan Penulis

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca kisah ini hingga halaman terakhir.

Novela ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian atau tokoh di dunia nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.

Mohon untuk tidak menyalin, memperbanyak, memodifikasi, atau mengunggah kembali sebagian maupun seluruh isi Novela ini tanpa izin dari penulis. Jika kisah ini berkesan, dukunglah dengan merekomendasikannya kepada orang lain.

Terima kasih atas dukungan dan apresiasi Anda. Sampai bertemu di karya berikutnya.

Salam hangat,

Ahmad A Mappaita