Pukul setengah tujuh pagi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Andi mematikan suara notifikasi di ponselnya.
Bukan karena pekerjaan sedang sepi. Justru sebaliknya. Hari itu adalah salah satu hari terpadat dalam beberapa bulan terakhir. Redaksi sedang menyiapkan liputan khusus. Perusahaan medianya akan menandatangani kerja sama dengan beberapa mitra baru. Siang nanti ia harus memimpin rapat evaluasi program pemberdayaan. Malamnya, beberapa sahabat sudah menunggu untuk membahas langkah-langkah awal menuju Pemilu 2029. Semua orang menganggap kehadirannya penting.
Namun pagi itu, Andi bertanya pada dirinya sendiri:
“Penting bagi siapa?”
Ia menoleh ke arah dapur. Icha sedang memotong buah. Gerakannya tenang seperti biasa. Tidak tergesa. Tidak banyak bicara.
Empat belas tahun hidup bersama membuat Andi hafal setiap kebiasaan kecil istrinya. Tetapi ia baru sadar, hafal belum tentu berarti mengenal.
“Cha.”
“Iya?”
“Hari ini jangan masak siang.”
Icha menoleh.
“Kenapa?”
“Nanti kita makan di luar.”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia tersenyum kecil.
“Hari ini aku ada kelas.”
Andi mengernyit.
“Kelas?”
“Kelas melukis.”
Jawaban itu membuat Andi terdiam.
“Kamu mulai ikut kelas lagi?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Dua minggu.”
“Dua minggu?”
Icha mengangguk.
“Aku pikir kakak sudah tahu.”
Andi merasa dadanya seperti dipukul pelan. Dua minggu. Berarti sudah empat kali pertemuan. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya.
Di perjalanan menuju kantor, hujan turun tipis. Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Andi memandangi kaca depan yang dipenuhi titik-titik air.
Dua minggu. Dua minggu istrinya mulai membangun kembali sesuatu dalam hidupnya. Dan ia tidak mengetahuinya. Bukan karena Icha menyembunyikan. Tetapi karena ia tidak pernah bertanya.
Lampu berubah hijau. Mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klakson. Andi tetap diam beberapa detik sebelum kembali menjalankan kendaraannya.
Rapat redaksi berlangsung seperti biasa. Semua orang berbicara. Semua orang menyampaikan pendapat. Namun pikiran Andi tidak benar-benar berada di ruangan itu.
“Pak?”
Suara sekretarisnya membuyarkan lamunan.
“Keputusan Bapak?”
Andi menatap berkas di depannya. Ia bahkan lupa apa yang sedang dibahas.
“Maaf.”
“Boleh diulang?”
Semua orang saling berpandangan. Itu pertama kalinya mereka melihat Andi kehilangan fokus.
Siang harinya, setelah rapat selesai, ia tidak langsung pulang. Ia memutar arah menuju sebuah gedung sederhana di pinggir kota. Di papan depannya tertulis: Ganara Art.
Dari luar terdengar suara tawa beberapa orang. Andi masuk perlahan. Ruangan itu dipenuhi aroma cat akrilik dan kayu.
Di salah satu sudut, delapan orang sedang melukis. Di antara mereka ada Icha. Ia mengenakan celemek penuh noda warna. Rambutnya diikat sederhana. Tangannya bergerak pelan di atas kanvas.
Andi berhenti di ambang pintu. Ia tidak memanggil. Tidak ingin mengganggu. Instruktur sanggar menghampirinya.
“Mencari siapa, Pak?”
“Istri saya.”
Perempuan itu mengikuti arah pandang Andi.
“Oh… Bu Icha.”
Ia tersenyum.
“Beliau berbakat sekali.”
Andi ikut tersenyum.
“Iya.”
“Beliau pernah ikut pameran?”
Andi hendak menjawab. Namun kata-kata itu tertahan. Ia tidak tahu.
Instruktur itu melanjutkan dengan antusias.
“Sayang sekali baru bergabung sekarang.”
“Kenapa?”
“Katanya dulu sempat berhenti bertahun-tahun.”
“Padahal tekniknya sudah bagus.”
Andi menatap punggung istrinya. Ia tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang melihat potensi Icha sejelas itu. Ia juga tidak pernah bertanya mengapa potensi itu menghilang.
Saat kelas selesai, Icha terkejut melihat Andi berdiri di depan pintu.
“Kak?”
“Aku jemput.”
Icha tersenyum.
“Biasanya aku naik ojek.”
“Aku tahu.”
Kalimat itu keluar spontan. Namun setelah mengucapkannya, Andi sadar bahwa ia sebenarnya tidak tahu.
Ia baru mengetahuinya beberapa detik yang lalu, ketika melihat aplikasi transportasi masih terbuka di ponsel Icha.
Mereka berjalan menuju mobil.
Di sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan.
Sesampainya di rumah, Icha membawa hasil lukisannya ke ruang kerja. Andi mengikutinya.
“Aku boleh lihat?”
“Boleh.”
Kanvas itu berbeda dari lukisan sebelumnya. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu teras. Yang tergambar hanya sebuah jalan panjang dengan deretan pohon di kiri-kanannya. Di ujung jalan tampak siluet seorang perempuan. Berjalan sendirian.
“Mengapa sendirian?”
Icha memandang lukisan itu cukup lama.
“Lukisan ini belum selesai.”
“Maksudnya?”
“Aku belum tahu…”
Ia berhenti sejenak.
“…di ujung jalan itu nanti ada seseorang yang menyusulnya…”
“…atau dia memang harus berjalan sendiri.”
Andi menunduk. Ia tahu. Kalimat itu bukan sedang membicarakan lukisan. Malam semakin larut.
Ponsel Andi kembali berdering. Nama sahabat politiknya muncul. Ia mengangkat.
“Di mana?”
“Di rumah.”
“Semua sudah kumpul.”
“Aku tidak jadi datang.”
“Kenapa?”
Andi memandang ke arah ruang kerja kecil. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Icha masih duduk di depan kanvasnya.
“Tiba-tiba aku sadar…”
Ia tersenyum hambar.
“…selama ini aku terlalu sering meminta orang-orang memilihku.”
“Padahal ada satu orang yang sudah lama hanya ingin aku memilihnya.”
Ia mengakhiri panggilan. Lalu mematikan ponselnya. Setelah bertahun-tahun, malam itu tidak ada berita yang ia edit. Tidak ada proposal yang ia baca. Tidak ada strategi politik yang ia susun. Ia hanya berjalan menuju ruang kerja kecil. Lalu mengetuk pintunya pelan.
“Cha.”
“Iya?”
“Boleh aku duduk di sini?”
Icha memandang kursi kosong di sampingnya.
“Boleh.”
Andi duduk di sampingnya tanpa kata. Hanya menemani. Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, jiwanya benar-benar hadir di sana.


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.