SimpulRakyat.co.id, Novela – Pukul dua lewat tiga belas menit dini hari ketika mobil Andi berhenti di depan rumah.
Mesinnya dimatikan, tetapi ia tidak segera turun. Di dashboard, lampu indikator ponselnya berkedip tanpa henti. Tiga puluh tujuh pesan belum dibaca. Belasan Surel baru masuk sejak pukul sembilan malam. Grup redaksi masih memperdebatkan judul berita utama.
Di grup lain, seorang koordinator lapangan mengirim foto kegiatan pemberdayaan masyarakat di sebuah desa terpencil yang harus ia evaluasi besok pagi.
Andi mengembuskan napas panjang. Ia menutup layar ponselnya. Malam ini ia tidak ingin menjadi pemimpin redaksi. Tidak ingin menjadi konsultan. Tidak ingin membahas strategi politik yang dua jam lalu masih memenuhi ruang rapat.
Malam ini ia hanya ingin menjadi suami. Ia turun dari mobil sambil meraih ransel kerja yang terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena isinya bertambah, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk membawanya.
Udara setelah hujan masih menyisakan aroma tanah basah. Di kejauhan terdengar suara anjing menggonggong sesekali. Gang tempat mereka tinggal sudah sepi.
Hanya satu rumah yang masih menyalakan lampu teras. Rumahnya. Andi tersenyum kecil.
“Icha belum tidur,” gumamnya.
Sudah empat belas tahun lampu itu selalu menyala jika ia pulang malam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan alasannya. Lampu itu hanya menjadi bagian dari rumah, seperti pagar putih yang mulai kusam atau pohon mangga yang tumbuh miring di halaman.
Ia membuka pagar pelan-pelan agar engselnya tidak berderit. Pintu depan ternyata tidak dikunci. Seperti biasa.
Icha selalu meninggalkan kunci di lubangnya setiap kali Andi memberi kabar akan pulang larut. Katanya, ia takut suara kunci membangunkan tetangga.
Padahal Andi tahu, tetangga mereka tidur seperti batu. Yang sebenarnya dijaga Icha adalah agar Andi tidak merasa pulang ke rumah yang asing.
Ruang tamu gelap. Hanya cahaya lampu teras yang masuk melalui jendela. Di meja makan ada tudung saji berwarna bening. Andi membukanya. Semangkuk sop ayam. Telur dadar iris. Sambal tomat kesukaannya.
Ia menyentuh pinggir mangkuk. Masih hangat. Dadanya mendadak dipenuhi rasa bersalah. Pukul dua dini hari.
Perempuan itu masih memanaskan makanan untuknya.
Ia mengambil sendok. Menyuapkan satu sendok sop ke mulut. Hangat. Rasanya sama seperti empat belas tahun lalu ketika mereka masih tinggal di rumah kontrakan berukuran enam kali delapan meter.
Tidak pernah berubah. Yang berubah hanya jam kepulangannya. Dulu pukul enam sore. Lalu delapan malam. Lalu sepuluh. Kini… kadang menjelang subuh.
Andi menghabiskan makan malamnya sendirian dalam keheningan. Sesekali ia melirik ke arah lorong menuju kamar. Tak terdengar suara apa pun. Mungkin Icha benar-benar sudah tidur.
Setelah mencuci piringnya sendiri, ia berjalan perlahan menuju kamar. Pintu tidak tertutup rapat. Dari celahnya terlihat cahaya lampu tidur berwarna kekuningan.
Icha meringkuk menghadap dinding. Rambutnya yang mulai memanjang menutupi sebagian wajah.
Andi berdiri cukup lama di ambang pintu. Ada sesuatu yang selalu membuatnya tenang setiap kali melihat perempuan itu tertidur. Seolah semua kebisingan dunia berhenti tepat di depan kamar mereka.
Ia mendekat. Pelan sekali. Menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah istrinya. Lalu mengecup keningnya.
“Maaf ya…” suaranya nyaris tak terdengar.
“…sebentar lagi semua ini selesai.”
Icha tidak bergerak. Napasnya terdengar teratur.
Andi tersenyum tipis. Ia mematikan lampu tidur. Tidak pernah tahu bahwa sesaat setelah pintu kamar tertutup, mata Icha perlahan terbuka.
Perempuan itu tidak tidur. Ia hanya terlalu lelah untuk kembali berpura-pura menunggu.
Pukul enam pagi. Alarm ponsel Andi berbunyi. Ia baru tidur tiga jam. Belum sempat membuka mata, tangannya sudah meraba ponsel di meja samping tempat tidur.
Delapan belas notifikasi baru. Seorang wartawan mengirim draf berita. Direktur perusahaan meminta rapat dipercepat. Ketua kelompok binaan mengabarkan satu mesin pengering rusak.
Seorang sahabat mengirim pesan singkat.
“Kita harus mulai turun ke masyarakat lebih sering. Tahun 2029 tidak sejauh yang kita kira.”
Andi mengusap wajah. Belum sempat membalas satu pun pesan, aroma kopi memenuhi kamar. Icha masuk sambil membawa dua cangkir.
“Bangun,” suaranya lembut seperti biasa.
Andi duduk.
“Jam berapa kamu tidur semalam?”
“Seperti biasa.”
Jawaban itu terlalu singkat.
Andi tidak menyadarinya. Ia menerima kopi. Meneguknya cepat-cepat.
“Enak.”
Icha hanya tersenyum. Sudah bertahun-tahun ia membuat kopi dengan takaran yang sama. Dua sendok kopi. Satu sendok gula. Sedikit susu. Tidak pernah meleset.
“Kak, pulang jam berapa?”
“Dua lewat.”
“Aku dengar.”
Andi tertawa kecil.
“Kirain kamu sudah tidur.”
Icha menatap uap kopi yang perlahan menghilang.
“Aku memang sedang belajar tidur lebih cepat.”
Andi mengangguk tanpa benar-benar memahami maksud kalimat itu. Pikirannya sudah berlari ke jadwal hari ini. Rapat redaksi pukul delapan. Presentasi pemberdayaan pukul sebelas. Wawancara investor setelah zuhur.
Malamnya menghadiri diskusi kecil tentang pendidikan politik. Ia meraih kemeja yang tergantung di lemari.
“Icha.”
“Hm?”
“Nanti malam jangan tunggu aku makan.”
Icha diam beberapa detik.
“Lembur lagi?”
“Mungkin.”
“Mungkin jam berapa pulang?”
Andi sedang memasang jam tangan.
“Belum tahu.”
“Lagi-lagi belum tahu.”
Ia mengatakannya pelan. Nyaris seperti bicara kepada dirinya sendiri. Andi tidak mendengar. Ia sudah sibuk mencari berkas yang semalam lupa dimasukkan ke dalam Ransel.
Ketika akhirnya menemukan map biru itu, wajahnya kembali cerah.
“Untung ketemu.”
Icha memperhatikan suaminya dari ambang pintu. Empat belas tahun hidup bersama membuatnya hafal. Andi selalu panik kalau berkas tertinggal. Tetapi tidak pernah panik kalau janji makan malam dibatalkan.
“Kak.”
“Iya?”
“Hati-hati di jalan.”
Andi tersenyum. Kalimat itu yang selalu ia dengar setiap pagi selama empat belas tahun.
“Hati-hati ya.”
“Insyaallah.”
Ia mencium kening istrinya sekilas. Lalu bergegas keluar. Suara mesin mobil menghilang di ujung gang. Rumah kembali sunyi.
Icha berdiri cukup lama di depan pintu. Sampai suara kendaraan itu benar-benar lenyap. Barulah ia menutup pintu perlahan.
Di meja makan masih ada secangkir kopi miliknya yang belum disentuh. Uapnya sudah hilang. Ia duduk. Membuka ponsel. Layar percakapan dengan Andi masih berada di paling atas. Pesan terakhir yang ia kirim kemarin sore belum berubah warna.
“Kak, pulang jam berapa? Aku masak sop ayam.”
Sudah terbaca. Belum dibalas. Icha tidak mengirim pesan lagi. Ia mengunci layar ponselnya. Lalu tanpa sadar menoleh ke arah lampu teras yang masih menyala.
Ia berjalan ke sana. Mematikan saklarnya. Rumah itu mendadak terasa lebih sepi daripada biasanya.
Pukul delapan lewat dua belas menit. Kantor redaksi mulai ramai. Satu per satu wartawan datang membawa cerita dari lapangan. Ada yang baru pulang meliput kasus korupsi, ada yang semalaman menunggu konferensi pers, ada pula yang mengeluh karena kopi di pantry habis sebelum matahari terbit.
Andi sudah berada di ruang kerjanya. Di depan meja terbentang tiga layar komputer. Satu menampilkan naskah berita. Satu lagi berisi laporan keuangan perusahaan.
Yang terakhir memperlihatkan jadwal kegiatan selama dua minggu ke depan. Hampir setiap kotak penuh. Ia menarik napas.
“Pak,” pintu diketuk pelan.
Seorang wartawan muda masuk sambil membawa map.
“Berita investigasi yang Bapak minta.”
Andi menerimanya, membaca cepat beberapa halaman, lalu mengembalikannya.
“Bagus. Tapi bagian ini jangan pakai dugaan kalau belum ada data pendukung.”
“Siap.”
“Jangan buru-buru menjadi yang pertama kalau akhirnya salah.”
Pemuda itu mengangguk.
“Saya mengerti.”
Setelah pintu tertutup, Andi kembali menatap layar. Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat sudut bibirnya terangkat. Icha.
Ia membuka pesannya.
“Sudah sarapan?”
Andi tersenyum. Ia mengetik cepat.
“Sudah.”
Belum sempat menekan tombol kirim, telepon dari direktur utama masuk. Jarinya beralih menekan ikon hijau. Pesan itu tetap menggantung di kolom balasan. Belum terkirim.
Di rumah, Icha sedang menyiram tanaman di halaman. Ada delapan pot bunga yang selalu ia rawat sendiri. Bukan karena ia gemar berkebun. Melainkan karena tanaman tidak pernah bertanya kapan seseorang pulang. Mereka hanya membutuhkan air, cahaya, dan sedikit perhatian.
Hal-hal sederhana yang ternyata jauh lebih mudah diberikan kepada bunga daripada kepada manusia yang sama-sama sibuk.
Selesai menyiram, ia masuk ke ruang kerja kecil di samping dapur. Di sana berdiri sebuah rak kayu berisi puluhan kanvas. Semuanya kosong. Di sudut ruangan tersimpan kotak cat air yang mulai mengering. Sudah hampir lima tahun tidak dipakai.
Icha pernah bercita-cita mengadakan pameran lukisan kecil. Bukan untuk terkenal. Ia hanya ingin melihat orang lain berhenti beberapa menit di depan karya yang dibuat dengan sepenuh hati.
Ketika perusahaan Andi mulai berkembang, ruangan itu berubah fungsi. Sesekali dipakai menyimpan dokumen. Sesekali menjadi tempat rapat kecil. Sesekali menjadi gudang.
Mimpinya pelan-pelan bergeser ke rak paling atas.
Ia tidak pernah memprotes. Ia selalu berpikir, nanti kalau keadaan sudah lebih tenang. Nanti. Kata itu kembali muncul. Dan tanpa sadar, ia tersenyum pahit.
Menjelang siang, Andi berangkat ke kantor BUMN tempat ia menjadi tenaga ahli pendamping program pemberdayaan.
Dalam perjalanan, ia membuka kembali percakapan dengan Icha. Pesan tadi pagi masih ada.
“Sudah sarapan?”
Di bawahnya masih tampak balasan yang belum sempat dikirim.
“Sudah.”
Ia menghapusnya. Rasanya aneh membalas pertanyaan yang dikirim hampir empat jam lalu hanya dengan satu kata.
Ia memilih menelepon. Nada sambung terdengar cukup lama. Lalu berhenti. Tidak diangkat.
Andi tersenyum kecil.
“Mungkin lagi sibuk.”
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berlari kecil menuju ruang rapat. Andi tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Icha sedang berada di ruang kerjanya.
Ponselnya berbunyi. Icha melihat nama suaminya muncul. Tangannya sempat bergerak hendak menjawab. Namun seseorang mengetuk pintu depan. Kurir datang membawa paket.
Ketika ia kembali mengambil ponselnya, panggilan itu sudah berakhir. Layar kembali gelap. Mereka hanya terpaut beberapa detik.
Seperti banyak hal lain dalam empat belas tahun terakhir. Selalu hampir bertemu. Namun tidak pernah benar-benar pada waktu yang sama.
Setengah lima sore. Hujan turun sejak selepas Asar. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat halaman rumah berkilau seperti baru dipoles. Icha menutup jendela ruang tamu satu per satu, lalu kembali ke dapur.
Di atas meja sudah tersusun dua piring. Dua gelas. Dua sendok. Kebiasaan itu tidak pernah berubah. Meski beberapa tahun terakhir, lebih sering hanya satu piring yang benar-benar dipakai.
Ia mengeluarkan ikan tuna yang sudah dimarinasi sejak siang. Minyak di wajan mulai mengeluarkan suara berdesis ketika ikan pertama menyentuh permukaannya. Aroma bawang putih dan kunyit memenuhi dapur.
Ponselnya bergetar. Nama Andi muncul. Icha mengusap tangannya dengan lap, lalu mengangkat panggilan.
“Halo, kak.”
“Maaf.”
Belum apa-apa, Andi sudah meminta maaf.
“Ada rapat tambahan. Mungkin agak malam.”
Icha memejamkan mata sesaat.
“Jam berapa?”
“Aku usahakan sebelum sembilan.”
“Usahakan?”
“Iya.”
Beberapa detik mereka sama-sama diam. Andi yang pertama berbicara lagi.
“Besok kita makan malam di luar, ya?”
Icha tersenyum kecil. Kalimat itu terasa akrab. Bahkan terlalu akrab karena sudah berkali-kali ia dengar.
“Besok hari apa, kak?”
Andi berpikir.
“Selasa?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Hari ulang tahun Mama.”
Andi langsung menepuk dahinya pelan.
“Ya Allah… aku lupa.”
“Aku tahu.”
Suara Icha tetap lembut.
“Nanti kalau sempat, telepon beliau.”
“Iya.”
“Kali ini jangan lupa.”
“Aku pasti telepon.”
Mereka mengakhiri panggilan.
Icha menaruh ponsel di atas meja. Ikan di wajan sudah mulai kecokelatan. Ia membaliknya perlahan. Di luar, hujan semakin rapat.
Di ruang rapat, Andi duduk di ujung meja. Belasan orang mengelilinginya. Di layar proyektor terpampang rancangan program pemberdayaan untuk tahun berikutnya.
“Kita jangan hanya membangun usaha,” kata Andi sambil menunjuk grafik di layar.
“Kita harus memastikan usaha itu bisa bertahan setelah pendampingan selesai.”
Semua mengangguk.
Seorang peserta mengangkat tangan.
“Pak Andi, menurut Bapak, apa yang paling penting dalam pendampingan?”
Andi tidak langsung menjawab.
Ia mengambil spidol. Lalu menulis satu kalimat di papan tulis “Keberlanjutan”.
“Program yang baik bukan yang selesai saat anggaran habis.”
Ia berhenti sejenak.
“Program yang baik adalah program yang tetap hidup meski kita sudah tidak ada.”
Ruangan menjadi hening. Semua mencatat. Andi melanjutkan penjelasannya. Tak seorang pun menyadari bahwa ponsel di sakunya bergetar dua kali.
Pesan dari ibunya. Lalu pesan dari Icha. Ia baru membacanya hampir dua jam kemudian.
Pesan pertama.
“Mama sudah menelepon. Beliau kira kak Andi sedang sangat sibuk.”
Pesan kedua.
“Aku sudah makan duluan. Hati-hati di jalan kalau pulang nanti.”
Andi menatap dua pesan itu cukup lama. Ia mengetik balasan.
“Maaf.”
Lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
“Sebentar lagi selesai.”
Ia kembali menghapusnya. Entah mengapa, kalimat itu tiba-tiba terasa sangat melelahkan. Akhirnya ia hanya menulis.
“Iya.”
Ia menekan tombol kirim. Malam itu, Andi benar-benar pulang sebelum pukul sembilan. Rumah sudah sepi. Lampu teras tetap menyala. Ia membuka pintu perlahan.
Di meja makan tidak ada makanan. Hanya ada tudung saji yang menutupi dua potong ikan goreng dan semangkuk sayur kambu paria.
Di samping piringnya terdapat secarik kertas kecil. Tulisan tangan Icha masih sama seperti dulu. Rapi. Sedikit miring ke kanan.
Nasinya di rice cooker.
Jangan lupa dihangatkan sayurnya.
Selamat makan, kak.
Tidak ada gambar hati. Tidak ada wajah tersenyum kecil seperti yang dulu sering ia gambar di ujung catatan.
Andi memandang kertas itu beberapa saat. Ia tersenyum tipis. Mungkin Icha sedang lelah. Ia tidak memikirkan hal lain.
Setelah makan, ia berjalan ke ruang kerja kecil di samping dapur untuk mengambil sebuah map yang pernah ia simpan di sana.
Ruangan itu sudah lama tidak ia masuki. Saat membuka pintu, ia berhenti. Di sudut ruangan berdiri sebuah kanvas di atas penyangga kayu. Di atasnya hanya ada satu sapuan warna biru yang belum selesai.
Cat di palet sudah mengeras. Kuas-kuas tertata rapi dalam sebuah gelas kaca. Semuanya bersih. Terlalu bersih. Seperti sudah lama tidak disentuh.
Andi mengernyit. Ia baru sadar. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah melihat Icha melukis. Padahal dulu, hampir setiap akhir pekan, perempuan itu selalu memenuhi rumah dengan aroma cat akrilik dan musik yang diputar pelan.
Ia berdiri cukup lama di depan kanvas itu. Berusaha mengingat. Kapan terakhir kali ia bertanya kepada istrinya,
“Lukisanmu sudah sampai mana?”
Ia tidak menemukan jawabannya. Mungkin karena pertanyaan itu memang tidak pernah lagi ia ucapkan.
Keesokan paginya, Andi berangkat lebih awal. Hari itu jadwalnya padat. Rapat redaksi pukul tujuh tiga puluh. Setelah itu bertemu mitra perusahaan. Siangnya menghadiri evaluasi program pemberdayaan. Malamnya masih ada diskusi kecil dengan beberapa tokoh masyarakat.
Sebelum keluar rumah, ia melihat pintu ruang kerja Icha masih terbuka. Kanvas yang semalam ia lihat masih berdiri di tempatnya. Sapuan warna biru itu tampak ganjil. Tidak membentuk langit. Bukan laut. Bukan gunung. Hanya warna yang berhenti di tengah jalan. Seperti seseorang yang kehilangan alasan untuk melanjutkan gambar.
“Cha.”
Icha keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan.
“Iya?”
“Lukisanmu belum selesai?”
Icha menoleh ke arah ruang kerja itu.
“Oh…”
Ia tersenyum kecil.
“Lupa.”
“Lupa?”
“Iya.”
Andi mengangguk pelan. Ia ingin bertanya lagi, tetapi suara ponselnya lebih cepat memanggil.
“Pak, semua sudah menunggu.”
Pesan dari sekretaris redaksi.
“Oke.”
Ia memasukkan ponsel ke saku.
“Nanti malam kita ngobrol ya.”
Icha hanya mengangguk.
“Baik.”
Lagi-lagi… Nanti malam. Kalimat itu begitu akrab. Begitu sering diucapkan. Begitu jarang terjadi. Rumah kembali sunyi.
Icha masuk ke ruang kerjanya. Ia berdiri di depan kanvas cukup lama. Lalu membuka laci meja. Di dalamnya tersimpan sebuah map cokelat yang mulai kusam. Di pojok kanan atas masih tertulis dengan spidol hitam.
Pameran Tunggal – Icha Amatta
Ia mengusap tulisan itu pelan. Map itu berisi proposal pameran yang pernah ia susun enam tahun lalu. Semuanya sudah lengkap. Konsep. Daftar karya. Galeri yang akan disewa. Perkiraan biaya. Bahkan desain undangannya pun sudah jadi.
Yang belum ada hanya… keberanian untuk mewujudkannya. Bukan karena Andi melarang. Tidak pernah. Andi bahkan pernah berkata,
“Kalau memang mau pameran, kita cari galeri terbaik.”
Tetapi waktu itu perusahaan media Andi baru mulai berkembang. Modal masih pas-pasan. Mereka baru saja mengambil cicilan rumah. Beberapa karyawan harus digaji.
Icha menutup kembali map itu.
“Nanti saja.”
Kalimat itu ia ucapkan kepada dirinya sendiri. Ternyata… enam tahun bisa berlalu secepat itu.
Siang hari. Di kantor media. Seorang wartawan muda mengetuk pintu ruang Andi.
“Pak.”
“Iya?”
“Ada undangan seminar.”
Pemuda itu menyerahkan sebuah amplop. Andi membacanya sekilas. Tema seminar itu sederhana.
“Menjaga Keseimbangan antara Karier dan Keluarga”
Andi tersenyum kecil.
“Lucu juga.”
“Kenapa, Pak?”
“Aku yang diminta jadi narasumber.”
Wartawan itu ikut tersenyum.
“Memang cocok, Pak.”
Andi tertawa.
“Iya…”
Jawabannya pelan.
“… mungkin.”
Namun entah mengapa, setelah pintu kembali tertutup, senyum itu perlahan menghilang. Ia membaca lagi judul seminar tersebut. Lama sekali.
Malamnya, Andi benar-benar berusaha pulang lebih cepat. Pukul delapan kurang seperempat ia sudah berada di depan rumah.
Lampu teras kembali menyala.
Ia membeli dua gelas es kopi di jalan. Satu tanpa gula favorit Icha.
Saat membuka pintu, aroma tumisan bawang langsung menyambutnya.
“Icha…”
Tak ada jawaban. Ia masuk ke dapur. Kompor sudah mati. Di atas meja makan tersaji dua piring.
Icha keluar dari kamar sambil membawa beberapa lembar pakaian yang baru selesai dilipat.
“Wah.”
Andi mengangkat gelas kopi.
“Masih ingat?”
Icha tersenyum.
“Tentu.”
Mereka duduk berhadapan. Sudah lama sekali tidak makan malam bersama.
Andi bercerita tentang redaksi. Tentang desa yang baru ia kunjungi. Tentang seorang petani yang berhasil meningkatkan hasil panennya. Tentang rencana memperluas jaringan media. Tentang diskusi politik yang semakin sering ia hadiri.
Icha mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sesekali tersenyum. Seperti biasa.
Lalu Andi berhenti. Ia baru sadar. Sejak tadi… hanya dirinya yang bercerita.
“Kalau kamu?”
Icha mengangkat kepala.
“Hm?”
“Hari ini ngapain?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi Icha membutuhkan beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku…”
Ia mencoba mengingat.
“Merapikan rumah.”
“Menyiram bunga.”
“Belanja.”
“Lalu…”
Ia berhenti.
Andi menunggu.
“Lalu apa lagi?”
Icha tersenyum kecil.
“Sepertinya tidak ada.”
Padahal sebenarnya ada. Ia membuka kembali proposal pameran lukisannya. Merapikan puluhan sketsa lama.
Menangis sebentar ketika menemukan satu lukisan yang dibuat Andi sebagai hadiah ulang tahun pernikahan pertama mereka.
Tetapi semua itu tidak ia ceritakan. Entah kenapa. Ia merasa kisah-kisah kecilnya semakin lama semakin tidak penting dibanding dunia besar yang setiap hari diceritakan suaminya.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Andi mengira diam itu nyaman. Icha tahu… diam itu mulai menjadi jarak.
Malam semakin larut.
Sebelum tidur, seperti biasa, Icha keluar sebentar. Ia memeriksa pagar. Memastikan pintu terkunci. Lalu menatap lampu teras. Tangannya berhenti di sakelar. Beberapa detik. Ia akhirnya mematikannya. Kemudian tersenyum kecil.
“Andi sudah di rumah.”
Tak perlu lagi ada yang ditunggu malam ini.
Ia tidak tahu… bertahun-tahun kemudian… sakelar lampu itulah yang pertama kali dicari Andi ketika pulang ke rumah yang sudah tidak lagi memiliki seseorang yang menunggunya.
Hari Sabtu biasanya menjadi hari yang paling sibuk bagi Andi.
Sejak pukul tujuh pagi, halaman kantor medianya sudah dipenuhi kendaraan. Ruang rapat di lantai dua dipakai untuk evaluasi pemberitaan sepekan terakhir.
Setelah itu ia harus menghadiri pelatihan bagi kelompok usaha binaan di sebuah desa yang berjarak hampir dua jam perjalanan.
Sebelum berangkat, ia melihat kalender di dinding ruang kerja. Tanggal itu dilingkari bentuk hati dengan pulpen hitam
Andi mengernyit.
“Ada apa hari ini?”
Sekretarisnya menoleh.
“Bapak lupa?”
“Lupa apa?”
“Hari ini ulang tahun Ibu.”
Andi terdiam. Bukan ulang tahun pernikahan. Bukan ulang tahun ibunya. Hari itu ulang tahun Icha.
Ia segera mengambil ponsel. Belum sempat membuka aplikasi pesan, telepon dari lokasi pelatihan masuk.
“Pak, peserta sudah datang semua.”
“Saya berangkat sekarang.”
Andi memejamkan mata sejenak. Ia mengetik cepat.
“Selamat ulang tahun, Cha. Maaf, aku harus ke luar kota dulu. Nanti malam kita rayakan, ya.”
Ia membaca ulang pesannya. Terasa terlalu pendek. Terlalu biasa. Ia menghapus semuanya.
“Aku telepon saja nanti di jalan,” gumamnya.
Ponsel dimasukkan kembali ke saku. Ia bergegas keluar.
Di rumah, Icha membuka pintu ketika kurir mengantarkan sebuah paket. Isinya sederhana. Satu buku sketsa baru yang ia pesan seminggu lalu.
Ia mengusap sampulnya perlahan. Sudah lama sekali ia tidak membeli perlengkapan melukis. Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena ia selalu merasa akan mulai lagi “nanti”.
Ia meletakkan buku itu di meja. Ponselnya tetap sunyi. Sesekali ia melirik layar. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
“Dia pasti lupa.”
Kalimat itu keluar tanpa nada kecewa. Lebih mirip sebuah kesimpulan.
Empat belas tahun hidup bersama membuatnya tahu bahwa Andi tidak pernah sengaja melupakan hal-hal penting. Ia hanya terlalu sering mendahulukan hal lain.
Menjelang siang, pelatihan berlangsung lancar. Andi berdiri di depan puluhan peserta. Di belakangnya terpampang layar bertuliskan:
“Membangun Usaha yang Bertahan.”
“Usaha tidak cukup dibangun dengan modal,” kata Andi.
Ia berjalan perlahan di depan peserta.
“Usaha bertahan karena ada orang yang merawatnya setiap hari.”
Beberapa peserta mengangguk.
“Kalau ditinggalkan terlalu lama, usaha yang paling bagus pun bisa runtuh.”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Baru setelah selesai berbicara, Andi terdiam beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa sedang mendengar ucapannya sendiri dari sudut ruangan.
Sore itu, ketika acara berakhir, ia akhirnya membuka ponsel. Belasan pesan memenuhi layar. Ucapan terima kasih dari peserta. Laporan redaksi. Undangan rapat.
Di antara semuanya, ada satu notifikasi dari media sosial. Hari ini ulang tahun Icha Amatta. Ucapkan selamat.
Andi membeku. Dadanya seperti ditarik seseorang. Ia melihat jam. Pukul lima lewat dua puluh.
“Astaga…”
Ia langsung menelepon. Nada sambung terdengar cukup lama. Tidak diangkat. Andi mencoba lagi. Tetap sama.
Icha sedang berada di belakang rumah. Tangannya kotor oleh tanah. Sejak siang ia memindahkan beberapa tanaman ke pot yang lebih besar. Ponselnya tertinggal di ruang tamu.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, layar ponsel sudah kembali gelap. Tiga panggilan tidak terjawab. Semua dari Andi.
Icha menatapnya beberapa saat. Lalu mengembalikan ponsel ke meja. Bukan karena ingin menghukum. Ia hanya tiba-tiba merasa terlalu lelah untuk berpura-pura bahwa satu ucapan yang datang menjelang malam mampu menggantikan satu hari yang telah berlalu.
Malam itu Andi pulang lebih cepat. Di tangannya ada sebuah kotak kue kecil dan sebuket bunga lili putih.
Ia membuka pintu dengan napas masih memburu. Rumah sunyi. Lampu ruang tamu menyala.
Icha sedang duduk di sofa sambil menggambar sesuatu di buku sketsa barunya.
Andi tersenyum lega.
“Selamat ulang tahun.”
Ia menyerahkan bunga itu. Icha menerimanya.
“Makasih.”
Hanya itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada wajah cemberut. Tidak ada air mata.
Andi justru lebih takut melihat ketenangan itu.
“Aku benar-benar lupa.”
“Iya.”
“Maaf.”
“Iya.”
Andi duduk di sampingnya.
“Marah?”
Icha menggeleng.
“Dulu mungkin.”
“Dulu?”
“Dulu aku akan menunggu seharian.”
Ia menutup buku sketsanya perlahan.
“Sekarang aku belajar merayakan hal-hal kecil sendirian.”
Andi menelan ludah.
“Siang tadi aku beli makan siang favoritku.”
Icha tersenyum tipis.
“Lalu aku mampir ke toko alat lukis.”
“Setelah itu aku beli sepotong kue.”
Ia menatap Andi.
“Lilin ulang tahunnya cuma satu.”
“Kenapa satu?”
“Supaya cepat padam.”
Andi tidak menemukan jawaban. Ruangan menjadi sangat sunyi. Di atas meja, kue yang dibawa Andi masih utuh. Kotaknya bahkan belum dibuka.
Sementara di tempat sampah dapur, tanpa diketahui Andi, sudah ada kotak kue lain yang lebih kecil. Di dalamnya masih menempel sedikit krim putih dan bekas lilin yang telah habis terbakar.
Kali ini Andi benar-benar melihat sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Bukan bahwa Icha bisa merayakan ulang tahunnya sendiri. Melainkan bahwa ia sudah terbiasa melakukannya.
Sejak ulang tahun Icha, ada satu kebiasaan baru yang diam-diam dilakukan Andi.
Setiap pagi, sebelum membuka Surel kantor atau membaca laporan redaksi, ia lebih dulu membuka percakapan dengan istrinya.
Pagi itu, pukul 05.42 Wita.
Rumah masih sunyi. Icha belum bangun. Andi duduk sendiri di meja makan sambil menyesap kopi.
Ia menggulir layar ponselnya ke atas. Semakin atas. Semakin atas lagi.
Percakapan mereka ternyata tidak pernah panjang. Lebih banyak pesan dari Icha.
“Kak, jangan lupa sarapan.”
“Hujan. Bawa payung.”
“Kalau pulang jangan terlalu malam.”
“Mama titip salam.”
“Aku masak sayur kambu paria hari ini.”
Di sela-sela puluhan pesan itu, balasannya hampir selalu sama.
“Oke.”
“Siap.”
“Iya.”
“Nanti.”
Ada juga yang tidak dibalas sama sekali. Andi berhenti menggulir. Dadanya terasa sesak. Ia baru sadar, selama ini istrinya bukan sedang mengirim pesan. Ia sedang mengetuk pintu. Dan pintu itu terlalu sering ia biarkan tertutup.
Pukul enam tepat, Icha keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia mengenakan kaus hitam longgar dan celana jeans biru.”
“Bangun cepat?”
Andi mengangguk.
“Tidak bisa tidur lagi.”
Icha menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri. Mereka duduk berhadapan. Tak ada yang berbicara. Suasana itu tidak canggung. Tetapi juga tidak hangat.
Seperti dua orang yang sudah sangat mengenal satu sama lain, namun mulai kehilangan kebiasaan saling bercerita.
Andi ingin mengatakan sesuatu. Tentang ulang tahun yang ia lupakan. Tentang pesan-pesan yang baru ia baca kembali. Tentang rasa bersalah yang sejak beberapa hari terakhir tidak mau pergi. Namun semua kalimat terasa terlambat.
Akhirnya ia hanya bertanya,
“Hari ini ada rencana ke mana?”
Icha menggeleng.
“Mau menyelesaikan lukisan.”
“Lukisan yang biru itu?”
“Iya.”
“Boleh nanti aku lihat?”
Icha menatap suaminya beberapa detik.
“Boleh.”
Jawaban itu sederhana. Tetapi entah mengapa Andi merasa sedang diberi kesempatan yang sudah lama hilang.
Siang harinya, rapat redaksi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Seorang investor membahas rencana pengembangan perusahaan.
“Kalau semua berjalan sesuai target,” katanya sambil menunjuk grafik di layar.
“Dua tahun lagi jaringan media kita bisa bertambah dua kali lipat,” lanjutnya.
Semua orang tampak antusias. Kecuali Andi. Pikirannya justru melayang pada kanvas biru di rumah. Pada buku sketsa baru yang dibeli Icha. Pada pertanyaan sederhana yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ajukan.
“Apa yang sebenarnya sedang kamu impikan sekarang?”
Teleponnya bergetar. Seorang kolega politik mengirim pesan.
“Besok malam kumpul. Kita mulai menyusun tim kecil. Waktunya sudah dekat.”
Andi membaca pesan itu lama. Lalu mengunci layar ponselnya tanpa membalas.
Menjelang Magrib, ia benar-benar pulang lebih awal. Bahkan matahari belum sepenuhnya tenggelam. Mobilnya berhenti di halaman rumah. Lampu teras belum menyala.
Andi tersenyum.
“Berarti aku memang pulang lebih cepat.”
Ia masuk ke rumah. Tidak terdengar suara televisi. Tidak terdengar suara musik. Hanya bunyi kuas yang sesekali menyentuh kanvas. Ia mengikuti suara itu sampai ke ruang kerja kecil.
Pintu terbuka setengah. Icha sedang berdiri membelakanginya. Tangannya bergerak pelan di atas kanvas. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Andi melihat istrinya melukis lagi.
Ia tidak langsung masuk. Andi hanya berdiri di ambang pintu. Memperhatikan. Kanvas yang dulu hanya berisi warna biru kini mulai memperlihatkan bentuk. Sebuah rumah. Dengan sebuah teras kecil. Dan sebuah lampu yang menyala.
Andi mengerutkan dahi.
“Rumah kita?”
Icha menoleh.
“Iya.”
“Kenapa lampu terasnya paling terang?”
Icha tersenyum tipis. Karena… dulu itu bagian favoritku.
“Dulu?”
Icha tidak menjawab. Ia kembali menggerakkan kuasnya.
Andi memperhatikan lukisan itu lebih saksama. Baru sekarang ia menyadari sesuatu.
Di depan rumah yang dilukis Icha… tidak ada seorang pun. Lampu teras tetap menyala. Tetapi jalannya kosong. Halaman itu kosong. Seolah seseorang yang ditunggu tidak pernah benar-benar sampai.
Andi merasakan tenggorokannya mengering.
Ia ingin berkata, “Aku akan pulang lebih sering.”
Ia ingin berkata, “Aku akan mengurangi semua kesibukan ini.”
Ia ingin berkata banyak hal. Namun sebelum sempat mengucapkannya, ponselnya kembali berdering. Nama seorang pemimpin redaksi muncul di layar. Disusul panggilan kedua dari ketua tim pendampingan. Lalu pesan ketiga dari sahabat politiknya.
Andi memandang layar itu, lalu beralih menatap Icha. Untuk pertama kali dalam hidup, ia merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan Bukan antara dua pekerjaan. Melainkan antara semua yang sedang ia bangun di luar rumah… dan seseorang yang selama ini diam-diam menjaga rumah itu tetap menjadi tempat yang ingin ia pulangi.
Sejak malam melihat lukisan itu, Andi membuat satu keputusan kecil.
Hari Sabtu ini, apa pun yang terjadi, ia tidak akan menerima jadwal apa pun setelah pukul sepuluh pagi.
Ia ingin mengajak Icha keluar. Bukan ke restoran mahal. Bukan ke hotel.
Ia hanya ingin mengajaknya ke pantai tempat mereka dulu sering duduk ketika masih menjadi pasangan yang belum memiliki apa-apa.
Tempat mereka makan es pisang ijo sambil menghitung kapal yang melintas. Tempat Andi pertama kali berkata,
“Kalau nanti hidup kita berubah, jangan biarkan kita berubah.”
Kalimat itu tiba-tiba datang begitu saja dalam ingatannya.
Ia bahkan masih ingat angin sore yang membuat kerudung Icha berkibar dan suara tawa perempuan itu ketika seekor anak anjing mengejar sandal mereka.
Sudah empat belas tahun. Dan ia baru menyadari betapa sedikit kenangan baru yang mereka buat setelah kehidupan menjadi lebih baik.
Jumat malam, sebelum tidur, Andi masuk ke dapur. Icha sedang memasukkan beras ke dalam wadah bening.
“Besok.”
Andi bersandar di kusen pintu.
“Kita pergi, ya.”
Icha menoleh.
“Ke mana?”
“Ke pantai.”
Icha tersenyum kecil.
“Pantai yang dulu?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Pagi.”
“Kakak yakin tidak ada rapat?”
“Aku sudah kosongkan jadwal.”
Icha memandang wajah suaminya lebih lama daripada biasanya.
“Lama sekali aku tidak mendengar kalimat itu.”
“Kalimat apa?”
“‘Aku sudah kosongkan jadwal.'”
Andi tertawa pelan.
“Mulai sekarang akan lebih sering.”
Icha tidak menjawab. Ia hanya menutup wadah beras itu rapat-rapat.
Sabtu pagi.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya pagi ini Andi terbangun tanpa interupsi suara alarm. Ia bahkan sempat membuat kopi.
Ketika Icha keluar dari kamar, dua cangkir sudah menunggu di meja.
“Kakak yang bikin?”
Andi mengangguk bangga. Icha mencicipinya. Lalu tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Gulanya dua kali.”
“Serius?”
“Iya.”
Andi ikut tertawa.
“Ternyata aku memang lebih cocok bikin berita.”
“Daripada kopi?”
“Jauh.”
Suasana pagi itu terasa ringan. Mereka sarapan bersama. Andi membantu mencuci piring. Hal yang dulu sering ia lakukan, lalu entah sejak kapan berhenti.
Saat hendak berangkat, Icha mengambil tas kecil berwarna cokelat. Tas yang sama yang ia pakai ketika mereka pertama kali ke pantai itu.
Andi mengenalinya.
“Masih disimpan?”
“Masih.”
“Padahal sudah lama.”
“Ada beberapa barang yang sayang dibuang.”
Jawaban itu sederhana. Namun entah mengapa membuat Andi berpikir tentang banyak hal lain yang hampir mereka buang tanpa sadar.
Mobil baru berjalan sekitar dua puluh menit ketika ponsel Andi berdering. Ia melirik layarnya. Ketua dewan redaksi. Andi membiarkannya berbunyi sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, panggilan lain masuk. Direktur program. Kemudian sekretarisnya. Lalu pesan bertubi-tubi.
Icha menoleh.
“Angkat saja.”
“Nanti.”
“Kalau penting?”
“Aku sedang sama kamu.”
Icha tersenyum. Kalimat itu sudah lama tidak ia dengar. Namun belum sempat senyum itu benar-benar tumbuh, ponsel kembali berdering.
Kali ini nama yang muncul membuat wajah Andi berubah. Pak Jufri Rahman. Pemimpin perusahaan yang selama ini menjadi mitra terbesar media mereka.
Andi menggenggam kemudi lebih erat.
“Kak…”
“Iya.”
“Kalau memang penting, angkat.”
Andi menghela napas.
“Sebentar saja.”
Ia menekan tombol penerima.
“Halo, Pak.”
Suara di seberang terdengar tergesa-gesa. Andi hanya sesekali menjawab.
“Iya, Pak.”
“Baik.”
“Saya mengerti.”
Telepon itu selesai dalam tiga menit. Tetapi tiga menit berubah menjadi lima belas. Lima belas berubah menjadi tiga puluh. Karena setelah telepon pertama, muncul telepon kedua. Disusul panggilan konferensi. Lalu diskusi singkat dengan redaksi.
Mobil tetap melaju. Namun percakapan di dalamnya berhenti. Icha memandang keluar jendela. Sawah-sawah mulai berganti dengan deretan pohon kelapa. Langit cerah. Cuaca yang dulu selalu mereka tunggu.
Andi masih berbicara.
“…iya, berita itu jangan naik dulu.”
“…pastikan datanya lengkap.”
“…saya tiba sekitar satu jam lagi.”
Ketika telepon terakhir akhirnya berakhir, ia menoleh.
“Maaf.”
Icha masih melihat ke luar.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Mau kita lanjut?”
Icha mengangguk.
“Boleh.”
Tetapi suara itu tidak lagi sama seperti satu jam sebelumnya. Mereka tiba di pantai menjelang siang.
Laut masih seperti dulu. Angin masih membawa aroma garam. Beberapa anak berlari mengejar ombak. Seorang penjual jagung bakar mendorong gerobaknya pelan.
Andi tersenyum.
“Ingat?”
Icha mengangguk.
“Ingat.”
Mereka berjalan berdampingan di pasir. Tidak saling menyentuh. Tidak saling menjauh. Hanya berjalan. Sesampainya di batu besar tempat mereka dulu sering duduk, Andi berhenti.
“Cha…”
“Hm?”
“Aku mau minta maaf.”
Icha memungut sebuah kerang kecil.
“Untuk yang mana?”
Pertanyaan itu membuat Andi terdiam. Karena ternyata ia tidak hanya perlu meminta maaf untuk satu kejadian. Ada terlalu banyak “maaf” yang tertunda. Ia memandang laut yang bergulung pelan.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Icha menggenggam kerang itu di telapak tangannya.
“Kak…”
Ia berbicara tanpa menoleh.
“Apa yang ingin Kakak perbaiki?”
“Kita.”
“Kita yang sekarang…”
Ia akhirnya menatap Andi.
“…atau kita yang sudah lama hilang?”
Angin bertiup lebih kencang. Tak ada yang langsung menjawab.
Di kejauhan, seorang anak kecil berlari memanggil ayahnya yang sedang berdiri di bibir pantai. Lelaki itu segera menghampiri, mengangkat anaknya ke pundak, lalu tertawa bersama.
Andi memperhatikan mereka tanpa sadar. Icha juga. Lalu, hampir bersamaan, mereka kembali memandang laut.
Sejak menikah, baru kali ini mereka berdiri di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Namun, mereka justru sadar, hal paling sulit dikejar bukanlah ombak yang datang dan pergi, melainkan waktu yang telah lewat tanpa pernah bisa dipanggil pulang.
Beberapa hari setelah mereka pulang dari pantai, hujan turun hampir setiap sore.
Rumah itu menjadi lebih sering dipenuhi suara air yang menetes dari talang dibanding suara percakapan.
Andi mulai pulang lebih awal. Tidak setiap hari. Tetapi lebih sering daripada biasanya.
Pukul delapan malam kini terasa terlambat baginya, padahal dulu jam itu baru dianggap awal malam.
Ia mulai membiasakan diri makan di rumah. Membantu mengangkat piring ke dapur. Sesekali menyapu halaman ketika Sabtu pagi.
Perubahan-perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Icha. Namun perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Ia menerima semuanya seperti menerima hujan. Datang. Lalu pergi.
Suatu malam listrik padam. Seluruh kompleks tenggelam dalam gelap. Andi baru saja memarkir mobil ketika lampu-lampu rumah mendadak mati.
“Hah…”
Ia menghela napas sambil meraba senter di dalam mobil. Begitu membuka pagar, ia melihat cahaya kecil berpendar dari teras. Bukan lampu. Melainkan lilin.
Icha duduk di kursi rotan sambil memegang secangkir kopi hangat.
“Kirain kakak belum sampai.”
Andi duduk di sampingnya.
“Sudah lama mati listrik?”
“Hampir setengah jam.”
Angin bertiup pelan. Nyala lilin bergoyang-goyang, membuat bayangan mereka menari di dinding.
Sudah lama sekali mereka duduk seperti ini. Tanpa televisi. Tanpa ponsel. Tanpa suara notifikasi. Hanya ada hujan. Dan dua cangkir kopi.
“Aneh ya,” kata Andi.
“Apa?”
“Waktu kita belum punya apa-apa, mati listrik begini malah terasa menyenangkan.”
Icha tersenyum.
“Dulu kita bercerita sampai tengah malam.”
“Iya.”
“Dulu kakak hafal semua cerita yang kuceritakan.”
Andi tertawa kecil.
“Masih hafal kok.”
“Oh ya?”
“Coba.”
Icha menatap hujan sebentar.
“Lukisan pertama yang kubuat setelah menikah judulnya apa?”
Andi terdiam. Ia mencoba mengingat. Tidak berhasil.
“Lupa?”
Icha mengangguk pelan.
“Kalau lagu yang sering kita putar di kontrakan?”
Andi kembali diam.
“Yang penyanyinya suka kakak tirukan sambil nyapu lantai.”
Andi tersenyum kikuk.
“Aku benar-benar lupa.”
Icha tidak tampak kecewa.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Justru itu.”
“Maksudnya?”
“Dulu kita saling hafal.”
Ia memutar cangkir kopinya perlahan.
“Sekarang kita lebih hafal jadwal rapat, jadwal penerbangan, atau agenda orang lain.”
“Daripada kebiasaan masing-masing.”
Kalimat itu tidak diucapkan untuk menyalahkan. Lebih seperti seseorang yang sedang menceritakan cuaca. Tenang. Tetapi dingin.
Keesokan harinya Andi sengaja membatalkan satu pertemuan. Ia mampir ke toko alat lukis. Sudah bertahun-tahun ia tidak masuk ke tempat seperti itu. Rak-raknya penuh warna. Kuas berbagai ukuran. Cat minyak. Cat akrilik. Kanvas.
Seorang pegawai menghampirinya.
“Selamat siang, Pak. Bisa saya bantu?”
“Saya…”
Andi memandang rak-rak itu dengan bingung.
“Istri saya suka melukis.”
“Baik.”
“Belikan yang paling bagus.”
Pegawai itu tersenyum.
“Maaf, Pak.”
“Cat yang paling bagus belum tentu cocok.”
“Boleh tahu Ibu biasanya melukis pakai media apa?”
Andi terdiam. Akrilik, cat minyak, atau cat air? Ia tidak tahu.
“Ukuran kuas favoritnya?”
Andi menggeleng.
“Jenis kanvas yang biasa dipakai?”
Ia kembali menggeleng.
Untuk pertama kalinya, Andi merasa seperti orang asing saat berbicara tentang perempuan yang telah menemaninya selama empat belas tahun.
Pegawai itu menangkap kebingungannya.
“Kalau begitu…”
Ia menunjuk sebuah kartu hadiah.
“Mungkin Bapak bisa memberikan ini. Biar Ibu sendiri yang memilih.”
Andi tersenyum hambar.
“Iya.”
Mungkin itu memang lebih jujur.
Sore harinya, Andi pulang membawa kartu hadiah itu. Icha sedang duduk di ruang kerja kecilnya. Lukisan rumah dengan lampu teras kini hampir selesai.
“Aku mampir ke toko alat lukis.”
Icha menoleh.
“Benarkah?”
Andi menyerahkan amplop kecil.
“Aku mau membelikan cat.”
“Tapi ternyata…”
Ia tertawa pelan.
“… aku tidak tahu apa pun tentang hobi istriku.”
Icha menerima amplop itu. Tidak langsung membukanya. Ia hanya memandang wajah Andi beberapa detik.
“Lima belas tahun lalu…”
Andi mengernyit.
“Kita belum lima belas tahun.”
“Hampir.”
Icha tersenyum tipis.
“Hampir lima belas tahun lalu, kakak pernah hafal warna favoritku.”
Andi mencoba mengingat. Tetap gagal.
“Warna apa?”
“Biru tua.”
“Makanya semua hadiahku waktu itu selalu ada warna birunya.”
Andi memejamkan mata. Sedikit demi sedikit ingatan itu kembali. Dompet. Kerudung. Mug. Buku harian. Bahkan bingkai foto pertama mereka. Semuanya memang berwarna biru tua.
“Maaf…”
Suara Andi hampir tak terdengar.
“Aku lupa.”
Icha menggeleng.
“Yang membuatku sedih bukan karena kakak lupa warna favoritku.”
“Lalu?”
“Karena aku tidak ingat kapan tepatnya kakak mulai berhenti ingin mengenalku.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. Di luar, listrik akhirnya menyala kembali. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Namun entah mengapa, Andi merasa ada bagian dari rumah itu yang masih gelap.
Malam itu, setelah Icha tertidur, ia masuk ke ruang kerja kecil. Ia duduk di depan lukisan yang belum sepenuhnya kering. Di sudut kanan bawah, dengan huruf-huruf kecil yang nyaris tak terlihat, Icha menuliskan sebuah judul.
“Menunggu Pulang.”
Andi menatap judul itu lama sekali. Lalu tanpa sadar, ia mengingat sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari kebiasaannya.
Ia mengambil ponsel. Membuka percakapan dengan Icha. Tidak ada yang perlu dikirim. Perempuan itu sedang tidur di kamar sebelah.
Namun, untuk pertama kali setelah sekian lama, Andi mengetik sebuah kalimat yang sangat sederhana.
Terima kasih sudah menungguku selama ini.
Ia tidak menekan tombol kirim. Ia hanya memandang layar itu, sementara di ruang sebelah, perempuan yang selama empat belas tahun menjadi rumah baginya masih terlelap, tanpa tahu bahwa suaminya baru saja mulai memahami sesuatu yang seharusnya ia pelajari jauh lebih awal.
Pukul setengah tujuh pagi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Andi mematikan suara notifikasi di ponselnya.
Bukan karena pekerjaan sedang sepi. Justru sebaliknya. Hari itu adalah salah satu hari terpadat dalam beberapa bulan terakhir. Redaksi sedang menyiapkan liputan khusus. Perusahaan medianya akan menandatangani kerja sama dengan beberapa mitra baru. Siang nanti ia harus memimpin rapat evaluasi program pemberdayaan. Malamnya, beberapa sahabat sudah menunggu untuk membahas langkah-langkah awal menuju Pemilu 2029. Semua orang menganggap kehadirannya penting.
Namun pagi itu, Andi bertanya pada dirinya sendiri:
“Penting bagi siapa?”
Ia menoleh ke arah dapur. Icha sedang memotong buah. Gerakannya tenang seperti biasa. Tidak tergesa. Tidak banyak bicara.
Empat belas tahun hidup bersama membuat Andi hafal setiap kebiasaan kecil istrinya. Tetapi ia baru sadar, hafal belum tentu berarti mengenal.
“Cha.”
“Iya?”
“Hari ini jangan masak siang.”
Icha menoleh.
“Kenapa?”
“Nanti kita makan di luar.”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia tersenyum kecil.
“Hari ini aku ada kelas.”
Andi mengernyit.
“Kelas?”
“Kelas melukis.”
Jawaban itu membuat Andi terdiam.
“Kamu mulai ikut kelas lagi?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Dua minggu.”
“Dua minggu?”
Icha mengangguk.
“Aku pikir kakak sudah tahu.”
Andi merasa dadanya seperti dipukul pelan. Dua minggu. Berarti sudah empat kali pertemuan. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya.
Di perjalanan menuju kantor, hujan turun tipis. Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Andi memandangi kaca depan yang dipenuhi titik-titik air.
Dua minggu. Dua minggu istrinya mulai membangun kembali sesuatu dalam hidupnya. Dan ia tidak mengetahuinya. Bukan karena Icha menyembunyikan. Tetapi karena ia tidak pernah bertanya.
Lampu berubah hijau. Mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klakson. Andi tetap diam beberapa detik sebelum kembali menjalankan kendaraannya.
Rapat redaksi berlangsung seperti biasa. Semua orang berbicara. Semua orang menyampaikan pendapat. Namun pikiran Andi tidak benar-benar berada di ruangan itu.
“Pak?”
Suara sekretarisnya membuyarkan lamunan.
“Keputusan Bapak?”
Andi menatap berkas di depannya. Ia bahkan lupa apa yang sedang dibahas.
“Maaf.”
“Boleh diulang?”
Semua orang saling berpandangan. Itu pertama kalinya mereka melihat Andi kehilangan fokus.
Siang harinya, setelah rapat selesai, ia tidak langsung pulang. Ia memutar arah menuju sebuah gedung sederhana di pinggir kota. Di papan depannya tertulis: Ganara Art.
Dari luar terdengar suara tawa beberapa orang. Andi masuk perlahan. Ruangan itu dipenuhi aroma cat akrilik dan kayu.
Di salah satu sudut, delapan orang sedang melukis. Di antara mereka ada Icha. Ia mengenakan celemek penuh noda warna. Rambutnya diikat sederhana. Tangannya bergerak pelan di atas kanvas.
Andi berhenti di ambang pintu. Ia tidak memanggil. Tidak ingin mengganggu. Instruktur sanggar menghampirinya.
“Mencari siapa, Pak?”
“Istri saya.”
Perempuan itu mengikuti arah pandang Andi.
“Oh… Bu Icha.”
Ia tersenyum.
“Beliau berbakat sekali.”
Andi ikut tersenyum.
“Iya.”
“Beliau pernah ikut pameran?”
Andi hendak menjawab. Namun kata-kata itu tertahan. Ia tidak tahu.
Instruktur itu melanjutkan dengan antusias.
“Sayang sekali baru bergabung sekarang.”
“Kenapa?”
“Katanya dulu sempat berhenti bertahun-tahun.”
“Padahal tekniknya sudah bagus.”
Andi menatap punggung istrinya. Ia tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang melihat potensi Icha sejelas itu. Ia juga tidak pernah bertanya mengapa potensi itu menghilang.
Saat kelas selesai, Icha terkejut melihat Andi berdiri di depan pintu.
“Kak?”
“Aku jemput.”
Icha tersenyum.
“Biasanya aku naik ojek.”
“Aku tahu.”
Kalimat itu keluar spontan. Namun setelah mengucapkannya, Andi sadar bahwa ia sebenarnya tidak tahu.
Ia baru mengetahuinya beberapa detik yang lalu, ketika melihat aplikasi transportasi masih terbuka di ponsel Icha.
Mereka berjalan menuju mobil.
Di sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan.
Sesampainya di rumah, Icha membawa hasil lukisannya ke ruang kerja. Andi mengikutinya.
“Aku boleh lihat?”
“Boleh.”
Kanvas itu berbeda dari lukisan sebelumnya. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu teras. Yang tergambar hanya sebuah jalan panjang dengan deretan pohon di kiri-kanannya. Di ujung jalan tampak siluet seorang perempuan. Berjalan sendirian.
“Mengapa sendirian?”
Icha memandang lukisan itu cukup lama.
“Lukisan ini belum selesai.”
“Maksudnya?”
“Aku belum tahu…”
Ia berhenti sejenak.
“…di ujung jalan itu nanti ada seseorang yang menyusulnya…”
“…atau dia memang harus berjalan sendiri.”
Andi menunduk. Ia tahu. Kalimat itu bukan sedang membicarakan lukisan. Malam semakin larut.
Ponsel Andi kembali berdering. Nama sahabat politiknya muncul. Ia mengangkat.
“Di mana?”
“Di rumah.”
“Semua sudah kumpul.”
“Aku tidak jadi datang.”
“Kenapa?”
Andi memandang ke arah ruang kerja kecil. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Icha masih duduk di depan kanvasnya.
“Tiba-tiba aku sadar…”
Ia tersenyum hambar.
“…selama ini aku terlalu sering meminta orang-orang memilihku.”
“Padahal ada satu orang yang sudah lama hanya ingin aku memilihnya.”
Ia mengakhiri panggilan. Lalu mematikan ponselnya. Setelah bertahun-tahun, malam itu tidak ada berita yang ia edit. Tidak ada proposal yang ia baca. Tidak ada strategi politik yang ia susun. Ia hanya berjalan menuju ruang kerja kecil. Lalu mengetuk pintunya pelan.
“Cha.”
“Iya?”
“Boleh aku duduk di sini?”
Icha memandang kursi kosong di sampingnya.
“Boleh.”
Andi duduk di sampingnya tanpa kata. Hanya menemani. Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, jiwanya benar-benar hadir di sana.
Perubahan itu benar-benar terjadi. Selama hampir dua bulan, Andi berusaha mengembalikan kebiasaan-kebiasaan yang dulu pernah mereka miliki.
Ia pulang sebelum malam terlalu larut. Setiap pagi mereka minum kopi bersama. Sesekali ia ikut mengantar Icha ke sanggar. Bahkan beberapa kali Andi menolak undangan diskusi politik yang selama ini selalu ia prioritaskan.
Orang-orang di kantor mulai menyadarinya.
“Pak Andi sekarang sering menghilang habis Magrib.”
“Ada yang lebih penting,” jawabnya suatu sore sambil menutup laptop.
Ia mengatakannya sambil tersenyum. Senyum itu bukan karena sebuah pencapaian. Melainkan karena ia benar-benar ingin pulang.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Icha memang tersenyum lebih sering. Mereka lebih banyak berbincang. Makan malam kembali menjadi kebiasaan. Tetapi ada jarak yang tidak ikut mengecil. Bukan jarak di antara kursi makan. Bukan jarak di tempat tidur. Melainkan jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah.
Suatu malam, Andi melihat Icha melukis sambil mendengarkan lagu lama yang dulu sering mereka putar di kontrakan.
“Masih suka lagu itu?”
Icha mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa baru diputar lagi?”
Icha meletakkan kuasnya.
“Dulu aku berhenti memutarnya.”
“Kenapa?”
“Karena setiap mendengarnya…”
Ia tersenyum kecil.
“…aku terlalu merindukan orang yang sebenarnya masih tinggal serumah denganku.”
Andi menunduk. Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Justru karena diucapkan dengan tenang, ia terasa jauh lebih menyakitkan.
Malam berikutnya, hujan turun sejak selepas Isya. Andi pulang lebih cepat. Ia membawa dua bungkus martabak.
“Mumpung hujan,” katanya sambil mengangkat kantong plastik.
“Dulu kita suka makan ini.”
Icha menyambutnya dengan senyum.
“Iya.”
Mereka duduk di teras. Lampu yang selama bertahun-tahun menjadi penanda kepulangan Andi menyala hangat. Hujan turun lurus. Sesekali angin membawa aroma tanah basah ke halaman.
Andi memandang istrinya.
“Cha.”
“Hm?”
“Aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar pulang.”
Icha tersenyum.
“Aku tahu.”
“Aku terlambat, ya?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menggigit kecil martabak yang mulai dingin.
“Lambat bukan berarti gagal, kak.”
“Lalu?”
“Kadang…”
Ia memandang hujan.
“…orang yang menunggu sudah selesai belajar menunggu.”
Kalimat itu menggantung lama. Andi tidak sanggup menyela.
Beberapa hari kemudian, Icha mengajak Andi membereskan gudang kecil di belakang rumah. Banyak kardus lama yang belum pernah dibuka sejak mereka pindah.
Di salah satu sudut, Andi menemukan sebuah kotak sepatu. Di dalamnya tersimpan puluhan amplop. Semuanya ditujukan kepadanya. Tulisan tangan Icha. Tanggal-tanggalnya berurutan.
“Tahun pertama pernikahan.”
“Tahun kedua.”
“Tahun ketiga.”
Andi membuka salah satunya.
Isinya hanya dua halaman.
Kak,
Hari ini kakak pulang jam sebelas malam.
Aku sengaja tidak tidur karena ingin cerita kalau bunga melati yang kita tanam akhirnya berbunga.
Waktu kakak masuk rumah, kakak kelihatan capek sekali.
Aku jadi tidak tega membangunkan.
Besok saja, pikirku.Ternyata besok kakak pulang lebih malam lagi.
Andi membuka surat berikutnya.
Kak,
Tadi dokter bilang aku cuma kecapekan.
Tidak apa-apa.
Aku pulang sendiri.
Jangan merasa bersalah kalau nanti membaca surat ini.
Surat berikutnya.
Kak,
Hari ini aku diterima ikut pameran bersama.
Aku ingin sekali cerita.
Tapi kakak sedang di luar kota.
Tidak apa-apa.
Nanti saja kalau kakak sudah ada waktu.
Tidak satu pun surat itu pernah diberikan. Andi memandang Icha.
“Kenapa tidak pernah kamu kasih?”
Icha duduk di lantai gudang. Karung-karung lama menjadi sandarannya.
“Aku selalu berpikir…”
“…besok kakak akan punya waktu.”
“Lalu?”
“Besoknya lagi aku berpikir hal yang sama.”
Andi menggenggam surat-surat itu erat. Kertasnya sudah mulai menguning. Beberapa bagian tintanya memudar. Empat belas tahun. Begitu banyak percakapan yang tidak pernah terjadi.
Malam itu mereka tidak langsung masuk ke rumah. Gudang masih terbuka. Angin membawa bau hujan yang akan segera turun.
Andi duduk di anak tangga. Surat-surat itu masih ada di pangkuannya.
“Aku jahat ya, Cha?”
Icha menggeleng pelan.
“Kakak bukan jahat.”
“Lalu?”
“Kakak terlalu sibuk mengejar masa depan.”
Ia berhenti.
“Sampai lupa bahwa waktu selalu berjalan ke depan.”
Andi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku bisa berubah.”
“Aku tahu.”
“Aku benar-benar bisa berubah.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa…”
Suara Andi pecah.
“…kenapa rasanya kamu semakin jauh?”
Icha memandang halaman yang mulai basah oleh gerimis. Lama sekali. Sangat lama. Ketika akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik.
“Karena perubahanmu datang…”
Ia menelan ludah.
“…setelah aku selesai berduka.”
Andi mengangkat kepala. Ia tidak mengerti.
“Berduka?”
Icha mengangguk.
“Selama bertahun-tahun, Kakak perlahan menghilang dari hidupku, sedikit demi sedikit.”
“Bukan karena kakak meninggal.”
“Bukan karena kamu pergi.”
“Tetapi karena setiap hari ada sedikit bagian darimu yang lebih dulu diberikan kepada pekerjaan, kepada rapat, kepada mimpi-mimpi besar.”
“Aku menangisinya.”
“Aku marah.”
“Aku berharap.”
“Aku menunggu.”
“Sampai akhirnya…”
Suara Icha tercekat. Ia tidak sanggup melanjutkan, membiarkan air mata jatuh perlahan mengalir di pipinya.
“…sampai akhirnya aku belajar menerima bahwa mungkin beginilah hidupku.”
Ia tersenyum. Senyum yang membuat dada Andi terasa remuk.
“Aku sudah melewati semua tahap itu sendirian, kak.”
“Aku sudah selesai berduka.”
Hening. Hanya suara hujan yang kini mulai memenuhi halaman.
Andi ingin memegang tangan istrinya. Namun tangannya berhenti di tengah jalan. Ada rasa takut yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Takut terlambat.
Icha mengusap air matanya sendiri. Lalu menatap Andi dengan mata yang tidak lagi dipenuhi amarah. Hanya kelelahan.
“Aku menyerah, kak.”
Dua kata. Tidak keras. Tidak dramatis. Namun di telinga Andi, kalimat itu terdengar lebih nyaring daripada hujan yang menghantam atap rumah.
Kali ini, ia sadar bahwa ada permintaan maaf yang mungkin tidak lagi cukup untuk mengembalikan seseorang yang selama ini ia yakini akan selalu menunggunya pulang.
Malam itu tidak ada lagi percakapan panjang.
Andi dan Icha tetap duduk di anak tangga gudang, ditemani suara hujan yang belum juga reda.
Surat-surat yang ditulis Icha masih berada di pangkuan Andi. Ia membaca satu per satu.
Ada surat tentang bunga melati yang akhirnya mekar. Ada surat tentang kucing liar yang setiap sore datang ke teras. Ada surat tentang resep baru yang berhasil dicoba Icha setelah tiga kali gagal. Hal-hal kecil. Sangat kecil.
Namun justru karena kecil, Andi menyadari betapa banyak kehidupan istrinya yang tidak pernah benar-benar ia kenal.
Ia selalu hadir saat keputusan-keputusan besar harus diambil. Tetapi absen dari ribuan peristiwa sederhana yang sesungguhnya membangun sebuah pernikahan.
Keesokan paginya, Andi datang ke kantor lebih lambat dari biasanya. Ia meminta seluruh kepala divisi berkumpul. Semua mengira ada persoalan besar. Mereka duduk mengelilingi meja rapat.
Andi berdiri di depan.
“Mulai bulan depan, struktur kerja kita berubah,” katanya pelan.
Beberapa orang saling berpandangan.
“Semua keputusan tidak lagi harus menunggu saya.”
“Pak… maksudnya?”
“Saya terlalu lama membangun perusahaan yang bergantung pada satu orang.”
Ia menarik napas.
“Itu bukan kepemimpinan yang baik.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Kalau suatu hari saya tidak ada, perusahaan ini harus tetap berjalan.”
Kalimat itu terdengar seperti pembahasan bisnis. Padahal sebenarnya, Andi sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya tidak boleh berhenti. Tidak boleh melambat. Tidak boleh melewatkan satu rapat pun.
Kini ia sadar, dunia tidak berhenti ketika seseorang pulang lebih cepat. Yang selama ini berhenti justru rumahnya.
Siang harinya, Andi menghubungi koordinator tim pendampingan.
“Ada yang ingin saya sampaikan.”
“Siap, Pak.”
“Mulai semester depan saya mengurangi jadwal lapangan.”
“Tapi desa-desa binaan bagaimana?”
“Kita siapkan pendamping baru.”
“Kalau Bapak mundur, mereka pasti kecewa.”
Andi tersenyum tipis.
“Jangan pernah membangun sistem yang bergantung pada satu nama.”
Ia menutup telepon. Ada rasa lega. Sekaligus kehilangan. Sebagian hidup yang selama ini ia bangun perlahan ia lepaskan. Bukan karena berhenti peduli. Melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak harus dibayar dengan kehilangan keluarga.
Sore itu ia pulang membawa sesuatu. Bukan bunga. Bukan hadiah. Melainkan sebuah bingkai kayu sederhana.
Ia mengetuk pintu ruang kerja Icha.
“Boleh masuk?”
“Boleh.”
Andi masuk sambil membawa bingkai itu.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Ia mengeluarkan lukisan pertama yang pernah dibuat Icha setelah mereka menikah. Lukisan itu selama ini tersimpan di gudang kantor medianya. Berdebu. Sudut bingkainya mulai rusak.
“Aku menemukannya kemarin.”
Icha memandang lukisan itu cukup lama. Di dalamnya tergambar dua cangkir kopi di atas meja kayu. Di balik jendela tampak hujan turun. Di pojok kiri bawah tertulis tanggal. Tahun pertama pernikahan mereka.
“Aku pikir lukisan ini hilang.”
“Aku juga.”
Andi tersenyum pahit.
“Ternyata bukan hilang.”
“Lalu?”
“Aku yang lupa menyimpannya di mana.”
Kalimat itu terdengar seperti sedang membicarakan lukisan. Padahal mereka sama-sama tahu, yang sedang dibicarakan bukan hanya sebuah kanvas.
Malam menjelang. Andi berdiri di teras rumah. Kali ini, ia tidak memegang ponsel. Ia hanya memandangi jalan di depan rumah. Beberapa anak bersepeda melintas. Seorang pedagang bakso mendorong gerobaknya.
Langit mulai berubah jingga. Icha keluar membawa dua cangkir kopi.
“Dingin.”
“Iya.”
Mereka duduk berdampingan. Tidak ada yang berbicara. Keheningan kali ini berbeda. Tidak lagi terasa seperti jarak. Lebih mirip dua orang yang sama-sama sedang belajar mengucapkan sesuatu yang sulit.
Setelah beberapa menit, Andi membuka suara.
“Kalau waktu bisa diputar…”
Icha langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kita tidak hidup di sana.”
Andi menatap wajah istrinya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Icha memegang cangkirnya dengan kedua tangan.
“Jangan habiskan hidupmu menyesali kemarin.”
Ia memandang lurus ke jalan.
“Tapi jangan juga menganggap besok selalu memberi kesempatan.”
Angin sore bertiup pelan. Daun-daun mangga bergesekan. Untuk pertama kalinya, Andi tidak mendengar nasihat itu sebagai harapan. Melainkan sebagai kenyataan. Bahwa waktu tidak pernah berjanji menunggu siapa pun.
Malam itu, sebelum tidur, Andi membuka kembali percakapan dengan Icha. Ia menggulir pesan-pesan lama. Pesan tentang hujan. Tentang makan malam. Tentang obat yang jangan lupa diminum.
Tentang pertanyaan sederhana, “Kak, pulang jam berapa?”
Ia tidak lagi merasa sedang membaca riwayat percakapan. Ia merasa sedang membaca sejarah tentang seorang perempuan yang selama bertahun-tahun berusaha mempertahankan sebuah rumah.
Perlahan ia mengetik satu kalimat. Bukan untuk meminta maaf. Bukan pula untuk membujuk. Hanya sebuah pengakuan yang terlambat.
Selama ini aku mengira alasan aku pulang adalah rumah ini.
Jarinya berhenti. Ia menambahkan satu kalimat lagi.
Ternyata alasan aku ingin pulang selalu adalah kamu.
Pesan itu belum ia kirim. Ia memandang layar cukup lama. Lalu mengangkat kepala. Di sisi lain tempat tidur, Icha sudah tertidur lebih dulu.
Andi mematikan layar ponselnya, ia memilih menyimpan kata-kata itu bukan di dalam aplikasi pesan. Melainkan untuk diucapkan langsung esok pagi. Karena akhirnya ia belajar bahwa ada kalimat-kalimat yang terlalu berharga jika hanya dikirim sebagai notifikasi di layar ponsel.
Pagi itu datang seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari terbit dari balik pepohonan. Burung gereja hinggap di pagar. Tetangga sebelah menyapu halaman sambil menyenandungkan lagu Bugis.
Andi bangun lebih awal. Ia memasak telur dadar. Rotinya sedikit gosong. Kopi yang dibuatnya masih terlalu manis.
Ketika Icha keluar dari kamar, Andi tersenyum canggung.
“Aku sedang belajar.”
Icha menatap meja makan. Lalu tersenyum.
“Kelihatannya masih perlu banyak belajar.”
Mereka tertawa. Tawa yang sederhana. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.
Sesudah sarapan, Andi mengambil napas panjang.
“Cha.”
“Iya?”
“Ada yang ingin aku katakan.”
Icha meletakkan cangkirnya.
Andi menatap wajah perempuan yang telah menemaninya selama empat belas tahun. Perempuan yang selalu menyalakan lampu teras. Perempuan yang mengirim pesan setiap pagi. Perempuan yang diam-diam mengubur mimpinya agar mimpi suaminya bisa tumbuh.
“Aku sudah memutuskan.”
“Apa?”
“Aku mengurangi pekerjaanku.”
Icha diam.
“Aku juga membatalkan semua pembicaraan tentang Pemilu.”
“Aku menyerahkan sebagian perusahaan kepada tim.”
“Aku ingin pulang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku ingin kembali menjadi suamimu.”
Keheningan total mendadak memenuhi ruang makan. Detik demi detik merayap lambat. Di antara sunyi itu, Icha memandang Andi cukup lama.
Andai percakapan itu terjadi setahun lalu… Mungkin jawabannya akan berbeda. Andai percakapan itu terjadi ketika ia masih menunggu hingga larut malam… Mungkin ia akan menangis, lalu memeluk Andi. Andai.
Sayangnya hidup tidak pernah dibangun oleh kata andai. Icha menarik napas pelan.
“Kak.”
“Hm?”
“Aku percaya.”
Andi mengangkat kepala.
“Benarkah?”
“Aku percaya kakak bisa berubah.”
Kalimat itu sempat memberi harapan. Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik.
“Tapi…”
Satu kata itu kembali datang. Tenang. Pelan. Dan menghancurkan.
“…aku sudah berubah lebih dulu.”
Andi tidak memahami maksudnya.
Icha berdiri. Berjalan menuju ruang kerja kecil. Ia kembali membawa sebuah map berwarna cokelat. Map yang dulu berisi proposal pameran lukisan. Kini di dalamnya hanya ada beberapa lembar kertas.
Ia menyerahkannya kepada Andi. Tangan lelaki itu bergetar ketika menerimanya.
Di halaman paling depan tertulis: Permohonan Cerai
Dunia seakan kehilangan suara. Yang terdengar hanya detak jam dinding.
Andi membaca halaman pertama. Lalu kedua. Huruf-huruf di atas kertas mulai kabur. Bukan karena tinta. Melainkan karena matanya dipenuhi air.
“Cha…”
Suaranya pecah.
“Jangan.”
Icha memejamkan mata.
“Aku menunda keputusan ini hampir satu tahun.”
“Satu tahun?”
“Aku berharap kakak menyadarinya.”
“Aku menyadari sekarang.”
“Iya.”
Air mata jatuh di pipinya.
“Tapi aku menyadarinya sendirian terlalu lama.”
Andi berdiri. Langkahnya pelan. Seolah takut setiap gerakan akan membuat kenyataan itu semakin nyata.
Ia berhenti di depan Icha. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memeluk istrinya erat. Sangat erat. Seolah ingin mengejar semua pelukan yang tidak sempat ia berikan.
Icha membalas pelukan itu. Mereka menangis. Bukan karena masih ingin saling menyakiti. Melainkan karena masih saling mencintai.
“Aku mencintaimu.”
Suara Andi nyaris hilang.
“Aku tahu.”
“Aku masih sangat mencintaimu.”
“Aku juga.”
Andi membeku.
“Kamu…”
Icha mengangguk.
“Aku masih mencintaimu.”
“Lalu kenapa?”
Karena ada cinta yang tetap hidup… tetapi tidak lagi cukup untuk membuat seseorang bertahan.
“Aku sudah terlalu lama belajar hidup tanpamu.”
Air mata kembali jatuh.
“Dan sekarang…”
Icha hanya terdiam medengar pertanyaan Andi.
Tiga bulan setelah percakapan itu, Andi menatap map coklat yang diberikan Icha padanya tanpa ia sentuh sama sekali.
Icha pun demikian, selama tiga bulan tidak lagi membahas soal perceraian. dia memilih kembali ke kampung halamannya menenangkan diri, tanpa komunikasi dengan Andi.
Di keheningan ruang tengah, pandangan Andi tertambat pada sebuah bingkai foto yang terpajang di dinding. Di dalam bingkai itu, ia dan Icha berdiri berdampingan dalam balutan gaun pengantin berwarna hijau zamrud yang anggun.
Tatapan Andi terkunci pada wajah mereka berdua, di sana, terpeta dengan sangat jelas senyum bahagia yang begitu lepas. Sebuah senyuman penuh cinta seketika mengetuk kembali ruang hampa di dadanya.
Tepat saat mata Andi masih terpaku pada senyum bahagia Icha di dalam foto, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk memutus keheningan.
Begitu melihat layarnya, napas Andi seolah tertahan, di sana tertera nama yang paling ia rindukan, My Wife. Nama itu seolah menjadi jawaban instan atas segala kerinduan yang baru saja ia rapalkan di dalam hati.
“Assalamu’alaikum,” sapa Icha di seberang sana.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Andi cepat.
“Apa kabar? Kapan kembali, rumah ini terasa kosong tanpa kamu?” sambung Andi
“Saya pulang besok, bisakah kita bertemu di pantai tempat pertama kali kita bertemu? Saya tunggu di sana jam empat sore.” jawab Icha lirih, namun terdengar pasti.
Sebelum Andi sempat membalas, bunyi klik halus terdengar. Icha mengakhiri percakapan. Sambungan telepon itu terputus.
Andi kini menatap layar yang kini menggelap. Kata-kata Icha barusan terus bergaung di kepalanya. Pantai tempat pertama kali mereka bertemu. Tempat di mana semuanya dimulai, sebelum riuh dan lelahnya dunia membuat mereka lupa cara merawat cinta.
Desiran ombak yang saling berkejaran di tepi pantai perlahan-lahan mengikis kekalutan di hati Andi.
Pandangannya menyapu sekeliling, hingga akhirnya melihatseorang wanita tengah berdiri membelakanginya. Icha tampak begitu anggun dalam balutan gaun biru, dengan ujung kerudung birunya yang sesekali dipermainkan angin.
“Hai, Apa kabar?” sapa Andi. Suaranya sedikit bergetar.
Seketika tubuh Icha berbalik. Ia menatap sosok yang kini berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu terdiam cukup lama, menatap sosok lelaki yang ada di hadapannya.
Tak mampu lagi membendung rasa, Icha menghambur dan memeluk erat lelaki yang teramat sangat dicintainya itu.
“Maafkan saya… sepertinya tiga bulan adalah waktu yang cukup lama untuk merasakan rindu ini,” kata Icha pelan, suaranya teredam di dada Andi.Pelukannya kian mengerat, seolah takut untuk berpisah.
“Kita tidak pernah benar-benar selesai, kan?” tanya Icha, sembari menatap ssenyuman dan susunan gigi indah di hadapannya.
“Tidak,” jawab Andi, ada senyum tipis yang tertahan.
“Kita hanya terlalu sibuk dengan bisingnya dunia sampai lupa merawat apa yang ada di dalam. Kita tidak lupa cara mencintai, kita hanya lupa bagaimana cara menjaganya agar tetap hangat. Sekarang, mari kita mulai lagi. Selamat datang di rumah.” ucap Andi sembari memeluk wanita yang ada di hadapannya.
Pada akhirnya, mereka tidak sedang mencari jalan baru, melainkan jalan pulang. Mereka bukan dua orang asing yang berhenti saling mencintai. Mereka hanya dua orang yang lupa merawat tanaman yang mereka semai bersama hingga daunnya sempat mengering. Namun, fondasinya tetap sama. Begitu pintu itu kembali diketuk, mereka sadar, sejauh apa pun langkah mereka, pelukan satu sama lain adalah satu-satunya tempat mereka bisa melepaskan lelah.
Catatan Penulis
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca kisah ini hingga halaman terakhir.
Novela ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian atau tokoh di dunia nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.
Mohon untuk tidak menyalin, memperbanyak, memodifikasi, atau mengunggah kembali sebagian maupun seluruh isi Novela ini tanpa izin dari penulis. Jika kisah ini berkesan, dukunglah dengan merekomendasikannya kepada orang lain.
Terima kasih atas dukungan dan apresiasi Anda. Sampai bertemu di karya berikutnya.
Salam hangat,
Ahmad A Mappaita


3 Komentar
Saya berulang kali membacanya, dan saya juga berulang kali menangis
Duh kang, km brhasil buat aku ngiris bawang
Aku sekarang bahagia bersama seseorang yang menganggap ku rumahnya.