Lamaran yang Ditolak
Hari-hari berlalu. Islam tumbuh di tengah tekanan. Fatimah menjadi wanita yang sabar, lembut, penuh ibadah. Ali semakin yakin, perasaannya bukan main-main. Namun ia tetap memilih diam.
Sampai kabar itu datang.
Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah, datang melamar Fatimah.
Ali terdiam. Hatinya seperti diremas. “Bagaimana mungkin aku menandingi Abu Bakar?”
Belum hilang resah itu, Umar bin Khattab pun melamar. Sosok gagah, tegas, disegani.
Dada Ali semakin sesak. Malam itu ia bersujud lebih lama.
“Ya Allah, aku hanya pemuda miskin. Hartaku hanya pedang, baju zirah, dan seekor unta. Apalah aku dibanding mereka?”
Namun Rasulullah menolak lamaran Abu Bakar dan Umar dengan lembut.
Ali mendengar kabar itu dengan hati bergetar. Ada harapan yang berbisik pelan. Tapi sekaligus, ada ketakutan: apakah ia berani maju?
Suatu malam, seorang sahabat mendatanginya. “Wahai Ali, Rasulullah memanggilmu.”
Langkah Ali terasa berat. Jantungnya berdegup keras.
Di hadapan Nabi, ia menunduk dalam.
“Wahai Ali,” suara lembut Rasulullah memecah kebisuan Ali.
“Aku tahu apa yang bersemayam di hatimu. Engkau memendam rasa, dan Allah-lah yang Maha Mengetahui.”
Tubuh Ali kaku. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Rasulullah tersenyum. “Engkau lebih pantas untuk Fatimah.”
Dunia hening. Dadanya dipenuhi cahaya.
“Tapi ya Rasulullah… aku tidak punya apa-apa untuk mahar,” lirihnya.
“Wahai Ali,” Rasul menepuk bahunya.
“Nikahilah Fatimah meski hanya dengan cincin besi.”
Ali pun menyerahkan baju perang kesayangannya. Itulah satu-satunya harta yang ia punya.
Dan malam itu, langit Madinah seolah ikut merayakan takdir baru yang ditulis Allah: Fatimah akan menjadi milik Ali.


Tinggalkan Balasan