SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Suara “meong” yang lirih di depan rumah sering kali membuat hati tergerak. Sebagian orang mengusirnya karena khawatir mengotori halaman. Sebagian lainnya mengambil semangkuk makanan, lalu meletakkannya di teras.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya tindakan kecil yang dilakukan karena rasa iba.
Namun, dalam Islam, cara seseorang memperlakukan seekor hewan bisa menjadi sebab datangnya rahmat Allah SWT, atau sebaliknya menjadi sebab turunnya azab.
Lantas, benarkah memelihara kucing memiliki keutamaan khusus dalam Islam?
Di tengah masyarakat, beredar anggapan bahwa memelihara kucing adalah sunnah dan memiliki pahala tersendiri.
Bahkan, tidak sedikit yang meyakini Rasulullah SAW secara khusus menganjurkan umatnya untuk memelihara kucing.
Anggapan tersebut perlu dipahami secara utuh. Jika ditelusuri dalam hadis-hadis sahih, tidak ditemukan riwayat yang secara tegas menyatakan bahwa memelihara kucing memiliki keutamaan khusus dibandingkan memelihara hewan lainnya.
Inilah prinsip penting yang sering luput dipahami. Islam tidak mengajarkan pemuliaan terhadap jenis hewan tertentu, tetapi mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)
Frasa rahmat bagi seluruh alam tidak hanya mencakup manusia, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan seluruh ciptaan Allah SWT.
Karena itulah, seorang muslim dituntut menghadirkan belas kasih dalam setiap sikap dan perbuatannya.
Mengapa Kucing Begitu Dekat dengan Umat Islam?
Meski tidak ada perintah khusus untuk memeliharanya, kucing memiliki kedudukan yang istimewa dalam fikih.
Suatu ketika, sahabat Abu Qatadah RA sedang berwudu. Seekor kucing datang menghampiri bejana air yang berada di dekatnya. Melihat hewan itu kehausan, Abu Qatadah memiringkan bejana agar kucing tersebut dapat minum.
Ketika ada yang merasa heran, Abu Qatadah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk hewan yang biasa berkeliling di sekitarmu.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi landasan bagi mayoritas ulama bahwa kucing merupakan hewan yang suci sehingga keberadaannya tidak menyulitkan seorang muslim dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Jadi, Islam mengajarkan bahwa Allah SWT mencintai hamba-hamba yang berbuat ihsan kepada seluruh makhluk.
Rasulullah SAW pernah mengisahkan seorang wanita pezina dari Bani Israil. Dalam perjalanannya, ia melihat seekor anjing yang kehausan. Hewan itu menjulurkan lidahnya di dekat sebuah sumur karena hampir mati kehausan.
Rasa iba membuat wanita itu turun ke dalam sumur. Ia melepas sepatunya, mengisinya dengan air, lalu memberi minum anjing tersebut.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing itu hampir mati kehausan. Wanita tersebut lalu melepas sepatunya, mengikatnya dengan penutup kepalanya, kemudian mengambil air untuk anjing itu. Karena perbuatannya itu, Allah mengampuninya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa rahmat Allah tidak hanya diberikan kepada orang yang tekun beribadah secara ritual, tetapi juga kepada mereka yang memiliki hati yang penuh kepedulian terhadap makhluk-Nya.
Jika memberi minum seekor anjing saja dapat menjadi sebab turunnya ampunan Allah SWT, maka menyayangi seekor kucing, memberinya makan, merawatnya ketika sakit, dan memenuhi hak-haknya tentu termasuk bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah.
Namun, pahala tersebut bukan karena kucing memiliki keistimewaan khusus, melainkan karena setiap bentuk ihsan kepada makhluk hidup merupakan amal saleh yang bernilai di sisi Allah.
Larangan Menelantarkan Kucing
Islam tidak hanya menjanjikan pahala bagi orang yang berbuat baik kepada hewan. Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang menelantarkannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Ia tidak memberinya makan dan minum, serta tidak membiarkannya mencari makanan sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seekor hewan yang lemah pun memiliki hak yang wajib dipenuhi.
Wanita tersebut tidak diazab karena memelihara kucing, melainkan karena mengabaikan amanah yang berada di tangannya. Ia membiarkan seekor makhluk ciptaan Allah menderita hingga akhirnya mati.
Pelajaran yang dapat diambil sangat jelas. Kasih sayang dalam Islam bukan sekadar perasaan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Memutuskan memelihara seekor kucing berarti menerima amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Pemilik berkewajiban memastikan kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, dan keselamatan hewan peliharaannya terpenuhi.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa memuliakan kucing merupakan perbuatan yang dianjurkan. Bahkan, apabila kucing tersebut tidak mampu mencari makan sendiri, pemiliknya wajib memenuhi kebutuhannya dan tidak boleh menelantarkannya.
Karena itu, memelihara kucing bukan sekadar mengikuti tren atau karena menganggapnya lucu dan menggemaskan. Lebih dari itu, ia adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Jadi, Apakah Memelihara Kucing Berpahala?
Jawabannya, ya, apabila dilakukan sebagai bentuk ihsan kepada makhluk Allah SWT dan dilandasi niat untuk mencari rida-Nya.
Pahala itu bukan muncul karena kucing memiliki keutamaan khusus dibandingkan hewan lain, melainkan karena setiap bentuk kepedulian kepada makhluk hidup adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam.
Sebaliknya, apabila seseorang memelihara kucing tetapi membiarkannya kelaparan, enggan mengobatinya ketika sakit, atau bahkan menyiksanya, maka ia justru terancam mendapatkan dosa.
Barangkali kelak Allah SWT tidak akan bertanya berapa banyak kucing yang pernah kita pelihara.
Namun, Allah mengetahui bagaimana kita memperlakukan makhluk yang lemah ketika mereka berada dalam tanggung jawab kita.
Seekor kucing tidak mampu mengungkapkan rasa lapar dengan kata-kata. Ia hanya mengeong, menatap, lalu berharap ada tangan yang bersedia mengulurkan makanan dan kasih sayang.
Di situlah letak ujian seorang mukmin. Sebab, kelembutan hati kepada makhluk merupakan salah satu tanda hidupnya iman di dalam dada.
Maka, jika suatu hari seekor kucing datang ke halaman rumah Anda, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai gangguan.
Boleh jadi, makhluk kecil itu hadir sebagai pengingat bahwa Allah SWT sedang menguji sejauh mana belas kasih yang bersemayam di dalam hati kita.
Sebab, rahmat kepada makhluk sering kali menjadi jalan untuk meraih rahmat Sang Pencipta. Wallahu a’lam bishawab.


Tinggalkan Balasan