SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Pernahkah kita merasa bahwa sehari berlalu terlalu cepat?

Pagi baru saja dimulai. Kita sudah sibuk bekerja, menyelesaikan berbagai urusan, membalas pesan, dan mengejar pekerjaan yang seolah tidak pernah habis. Tanpa terasa, siang berganti sore. Pekerjaan masih ada, tubuh mulai lelah, dan tiba-tiba malam sudah datang.

Sebelum tidur, kita pun membuat janji kepada diri sendiri. “Besok saya akan mulai berubah.” Besok akan lebih rajin beribadah, membaca Al-Qur’an, menghubungi orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, dan lebih banyak bersyukur.

Tetapi pagi berikutnya datang dengan kesibukan yang hampir sama. Kita kembali terburu-buru, kembali mengejar pekerjaan, kembali memegang ponsel, dan kembali menunda sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin kita lakukan. Lalu kita berkata lagi, “Besok saja.”

Begitu seterusnya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Sampai suatu ketika kita tersadar bahwa yang kita sebut “besok” ternyata telah berubah menjadi bertahun-tahun.

Mungkin masalahnya bukan karena kita tidak memiliki cukup waktu. Mungkin kita hanya terlalu sering memberikan waktu kepada sesuatu yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya.

Kita bisa menghabiskan puluhan menit menggulir layar ponsel tanpa tujuan. Kita bisa mengikuti kehidupan orang lain begitu lama, tetapi hanya menyisakan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an. Kita bisa begitu serius memikirkan komentar manusia, tetapi jarang berhenti untuk bertanya bagaimana penilaian Allah terhadap hidup kita.

Di situlah letak ironi kehidupan. Ketika waktu masih berada di tangan kita, kita sering menganggapnya biasa. Namun ketika waktu telah berlalu, barulah kita menyadari betapa mahal harganya.

Padahal waktu tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah menjadi umur. Setiap jam yang berlalu adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah kembali.

Karena itu, dalam Islam, waktu bukan sekadar angka pada jam atau tanggal di kalender. Waktu adalah amanah. Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Al-Bukhari)

Perhatikan satu kata dalam hadis tersebut: tertipu.

Seseorang bisa tertipu bukan karena ia tidak memiliki nikmat, tetapi karena ia tidak menyadari nilai dari nikmat yang sedang berada di tangannya.

Orang yang sehat merasa kesehatannya akan selalu ada. Orang yang memiliki waktu luang merasa kesempatan akan selalu tersedia. Anak muda merasa masa tua masih jauh. Orang yang masih hidup sering merasa kematian adalah sesuatu yang hanya terjadi kepada orang lain.

Sampai suatu hari tubuh mulai melemah. Kesibukan datang tanpa memberi kesempatan. Orang yang kita cintai pergi. Atau sebuah kabar yang tidak pernah kita harapkan membuat kita sadar bahwa hidup ternyata tidak sepanjang yang kita bayangkan.

Barulah hati berkata, “Andai saya masih diberi kesempatan.”

Kita ingin kembali, memperbaiki ibadah, meminta maaf, bersedekah, lebih sering membaca Al-Qur’an, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang tua serta keluarga. Tetapi waktu yang telah berlalu tidak pernah bisa dibeli kembali.

Maka orang yang paling beruntung bukan selalu orang yang memiliki waktu paling banyak. Orang yang beruntung adalah orang yang mengetahui untuk apa waktunya digunakan.

Allah Tidak Menciptakan Kita Tanpa Tujuan

Ada satu pertanyaan yang sesekali perlu kita ajukan kepada diri sendiri. Bukan pertanyaan tentang pekerjaan. Bukan tentang penghasilan. Bukan pula tentang apa yang sudah kita miliki.

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Untuk apa sebenarnya saya hidup?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 115:

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Ayat ini seolah mengetuk pintu kesadaran kita.

Kita tidak diciptakan hanya untuk melewati hari. Bangun, bekerja, makan, mencari uang, membeli sesuatu, mengejar pengakuan, lalu tidur. Kemudian mengulang semuanya sampai usia habis.

Dunia memang harus dijalani. Kita perlu bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, menuntut ilmu, dan mengejar cita-cita.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia. Namun Islam mengajarkan agar dunia berada di tangan kita, bukan menguasai hati kita.

Pekerjaan dapat menjadi ibadah ketika dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang benar. Mencari nafkah dapat menjadi ibadah, mengurus keluarga dapat menjadi ibadah, belajar dapat menjadi ibadah, dan membantu orang lain dapat menjadi ibadah. Bahkan istirahat pun dapat bernilai ibadah ketika diniatkan agar tubuh kembali kuat untuk melakukan kebaikan.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah kita sibuk atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Kesibukan itu membawa kita ke mana?

Kelak, Kita Akan Ditanya Tentang Waktu yang Kita Keluhkan

Ada satu hal yang mungkin tidak nyaman untuk kita pikirkan.

Suatu hari nanti, kita akan berdiri di hadapan Allah. Saat itu, mungkin kita tidak lagi sibuk memikirkan mengapa hidup kita tidak seperti kehidupan orang lain. Kita tidak lagi terlalu peduli mengapa harta kita tidak sebanyak milik orang lain. Kita juga tidak lagi sibuk menghitung apa yang belum kita dapatkan.

Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR At-Tirmidzi)

Ada satu pertanyaan yang berulang dalam hadis tersebut:  Untuk apa?

Umur kita untuk apa? Ilmu kita untuk apa? Harta kita untuk apa? Tubuh kita untuk apa?

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak yang kita miliki, sampai lupa bertanya untuk apa semua itu kita gunakan.

Kita bangga karena usia bertambah, tetapi apakah kebaikan kita juga bertambah? Kita merasa ilmu semakin banyak, tetapi apakah ilmu itu membuat kita semakin dekat kepada Allah? Kita mengejar harta, tetapi apakah harta itu membawa keberkahan? Kita menjaga tubuh agar tetap sehat, tetapi untuk apa kesehatan itu kita gunakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun kelak, jawabannya akan menjadi sangat penting.

Jangan Biarkan Waktu Kosong

Manusia tidak pernah benar-benar hidup dalam ruang kosong.

Jika waktu tidak diisi dengan kebaikan, ia akan diisi oleh sesuatu yang lain. Jika hati tidak disibukkan dengan mengingat Allah, ia mudah dipenuhi kegelisahan. Jika pikiran tidak diarahkan kepada hal-hal yang bermanfaat, ia mudah terseret kepada sesuatu yang sia-sia. Jika lisan tidak digunakan untuk berkata baik, ia bisa menjadi alat untuk menyakiti.

Karena itu, menjaga waktu sesungguhnya juga berarti menjaga diri.

Namun bukan berarti setiap detik harus diisi dengan pekerjaan. Kita tetap membutuhkan istirahat. Kita boleh menikmati hidup, tertawa bersama keluarga, berjalan-jalan, atau menikmati secangkir kopi sambil memandang langit sore.

Islam tidak melarang kita menikmati kehidupan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai seluruh hidup kita hanya berputar pada apa yang membuat kita senang, sementara kita lupa melakukan apa yang membuat Allah ridha.

Sebab kesenangan akan berakhir. Sedangkan amal akan menemani kita.

Demi Masa

Ada alasan mengapa Allah SWT menjadikan masa sebagai sesuatu yang begitu penting dalam Surah Al-‘Asr:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Hanya tiga ayat. Namun seolah-olah seluruh perjalanan hidup manusia dirangkum di dalamnya.

Allah bersumpah demi masa, kemudian memberi tahu bahwa manusia berada dalam kerugian. Bukan hanya sebagian manusia, bukan hanya orang malas, bukan hanya orang miskin, dan bukan hanya orang yang gagal.

Manusia. Kita semua.

Kecuali mereka yang memiliki empat perkara: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Artinya, memiliki waktu saja tidak cukup untuk membuat hidup kita beruntung. Usia yang panjang tidak otomatis menjadi keberuntungan. Kesibukan tidak otomatis berarti produktivitas. Kesuksesan dunia tidak otomatis berarti keselamatan.

Waktu menjadi bernilai karena apa yang kita lakukan di dalamnya.

Barangkali selama ini kita terlalu sering berdoa, “Ya Allah, berikan saya lebih banyak waktu.”

Padahal mungkin ada doa yang lebih layak kita panjatkan:

“Ya Allah, berkahilah waktu yang telah Engkau berikan kepada saya.”

Sebab satu jam yang dipenuhi kebaikan bisa jauh lebih bernilai daripada satu hari yang berlalu tanpa arah. Satu malam yang digunakan untuk menangis memohon ampun bisa lebih berarti daripada berhari-hari yang hanya dihabiskan untuk mengejar dunia.

Satu kalimat baik mungkin mengubah kehidupan seseorang. Satu sedekah mungkin menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Satu halaman Al-Qur’an mungkin menjadi cahaya yang kelak sangat kita butuhkan. Satu permintaan maaf mungkin menyelamatkan sebuah hubungan. Satu keputusan untuk meninggalkan dosa mungkin menjadi awal dari kehidupan yang jauh lebih baik.

Karena itu, jangan meremehkan kebaikan hanya karena ukurannya kecil. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap kecil justru besar di sisi Allah.

Sebelum Mengatakan “Nanti”, Ingatlah Satu Hal

Kita tidak tahu berapa lama lagi Allah akan memberikan kesempatan kepada kita.

Kita tidak tahu apakah orang tua masih ada ketika akhirnya kita memiliki waktu untuk mengunjungi mereka. Kita tidak tahu apakah tubuh masih sehat ketika kita memutuskan untuk mulai rajin beribadah. Kita tidak tahu apakah kesempatan yang kita tunda hari ini masih akan datang besok.

Maka jangan terlalu mudah mengatakan, “nanti.”

Jika bisa berbuat baik hari ini, jangan menundanya sampai besok. Jika bisa meminta maaf hari ini, jangan menunggu hati menjadi semakin jauh. Jika bisa membaca Al-Qur’an hari ini, jangan menunggu menjadi lebih tua. Jika bisa bersedekah hari ini, jangan menunggu menjadi kaya. Jika bisa salat tepat waktu hari ini, jangan menunggu hati menjadi sempurna.

Kita tidak perlu menjadi manusia yang sempurna untuk mulai menjadi lebih baik. Kita hanya perlu mulai.

Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan dengan istiqamah.

Suatu Hari Nanti, Kita Akan Merindukan Hari Ini

Ada masa ketika seseorang akan melihat kembali kehidupannya.

Mungkin ketika rambutnya telah memutih. Mungkin ketika tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Mungkin ketika anak-anaknya telah dewasa. Mungkin ketika rumah yang dahulu ramai mulai terasa sepi.

Saat itu, barangkali akan muncul kalimat-kalimat yang tidak bisa lagi diwujudkan:

“Andai waktu bisa kembali.”

Andai saya lebih banyak bersama orang tua. Andai saya lebih sering membaca Al-Qur’an. Andai saya tidak terlalu sibuk mengejar sesuatu yang ternyata tidak penting. Andai saya lebih banyak bersedekah. Andai saya tidak menghabiskan begitu banyak waktu untuk hal-hal yang sia-sia.

Tetapi waktu tidak akan kembali.

Maka jangan tunggu menjadi tua untuk menyadari bahwa masa muda adalah amanah. Jangan tunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai seseorang. Dan jangan tunggu kematian mendekat untuk menyadari bahwa hidup adalah kesempatan.

Lalu, Apa yang Akan Kita Lakukan Besok?

Mungkin setelah membaca tulisan ini, kita akan kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Ponsel kembali berada di tangan. Pekerjaan kembali menunggu. Masalah kembali datang. Rutinitas kembali berjalan.

Tidak apa-apa.

Kita memang tidak bisa mengubah seluruh hidup hanya dalam satu malam. Tetapi kita bisa mengubah satu hal mulai malam ini.

Sebelum tidur, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

“Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku rela membawa semua yang kulakukan hari ini menghadap Allah?”

Jika jawabannya belum, jangan takut.

Itu bukan alasan untuk berputus asa. Justru mungkin itulah tanda bahwa hati kita masih diberi kesempatan untuk berubah.

Masih ada waktu untuk meminta ampun, memperbaiki salat, membuka Al-Qur’an, menelepon orang tua, meminta maaf, bersedekah, dan meninggalkan dosa yang selama ini kita anggap biasa.

Selama napas masih berembus, pintu untuk kembali kepada Allah belum tertutup.

Maka jangan menunggu hari yang sempurna. Jangan menunggu hati benar-benar siap. Jangan menunggu usia bertambah. Jangan menunggu keadaan menjadi lebih mudah.

Mulailah dari waktu yang kita miliki sekarang.

Sebab mungkin kita tidak membutuhkan hari yang lebih panjang. Kita hanya membutuhkan hati yang lebih sadar bahwa setiap hari yang Allah berikan adalah kesempatan: kesempatan untuk menjadi lebih baik, memperbaiki kesalahan, menambah amal, dan mendekat kepada-Nya.

Dan suatu hari nanti, ketika kesempatan itu benar-benar berhenti, semoga kita tidak menjadi orang yang berkata, “Ya Allah, kembalikan aku sekali lagi. Aku ingin berbuat baik.”

Semoga sebelum hari itu tiba, kita telah menggunakan waktu yang diberikan-Nya sebaik mungkin.

Karena pada akhirnya, yang akan kita rindukan bukanlah waktu yang terlalu sedikit, melainkan waktu yang pernah kita miliki tetapi tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishawab.