SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Malam di Madinah turun perlahan, seperti selendang hitam yang dilepaskan dari langit. Bintang-bintang bermunculan satu per satu, bergetar di udara, seolah menahan rahasia yang tidak sanggup dibisikkan kepada manusia. Angin gurun bergerak pelan, membawa aroma debu, menyelusup ke setiap sudut kota yang telah sunyi.

Di serambi Masjid Nabawi, seorang pemuda duduk bersandar. Wajahnya teduh, tetapi matanya menyimpan gelisah. Tangannya yang terbiasa menggenggam pedang, malam itu hanya menggenggam dadanya sendiri.

Itulah Ali bin Abi Thalib.

Sejak kecil ia tinggal di rumah Rasulullah SAW. Ia menyaksikan bagaimana ayat-ayat suci turun, bagaimana Jibril membawa kabar dari langit, bagaimana Rasulullah menuntun umat yang tersesat.

Ali bukan sekadar sepupu Nabi. Ia adalah murid, sahabat kecil, sekaligus saksi dari sejarah yang sedang ditulis.

Namun di rumah itu pula, sebuah rahasia tumbuh dalam diam: Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah.

Ali masih ingat hari-hari ketika Fatimah kecil berlari di halaman rumah. Rambut hitamnya dikuncir dua oleh ibunya, Khadijah. Tawanya pecah, jernih, seperti aliran sungai di musim hujan.

Saat Fatimah jatuh dan lututnya berdarah, Ali yang lebih tua sedikit segera berlari, membersihkan lukanya, menemaninya sampai tangis reda.

Masa kecil sederhana. Tapi meninggalkan bekas yang tidak pernah hilang.

Fatimah tumbuh menjadi gadis dengan wajah lembut, tutur kata santun, dan ibadah yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya. Ada cahaya yang tak pernah padam dari wajahnya–bukan sekadar karena ia putri Nabi, tetapi karena kesungguhan hatinya dalam beribadah.

Ali menyadari, ada sesuatu yang tumbuh dalam dadanya. Mula-mula samar, seperti tunas yang malu keluar dari tanah. Lalu menjadi pohon dengan akar yang kuat.

Itu adalah cinta.

Namun cinta itu ia simpan rapat-rapat.

Di sepertiga malam, ketika orang lain terlelap, Ali bersujud lama. Ia mengadu kepada Allah, tetapi mulutnya tidak pernah berani menyebut nama itu. Ia hanya meminta agar hatinya kuat, agar perasaan itu tetap terjaga.

“Bagaimana mungkin aku berharap pada Fatimah?” bisiknya suatu malam.

“Apa yang bisa kuberikan, selain hati yang penuh debu?” gumamnya.

Angin malam membawa keluhannya, lalu hilang entah ke mana.

Dan malam itu, ketika bintang menggigil di langit Madinah, Ali tahu: cintanya kepada Fatimah adalah cinta yang harus dijaga dalam diam, sampai Allah sendiri menuliskan takdirnya.