SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Di antara pasir Najd yang tak bertepi, di bawah langit yang birunya tak pernah berubah sejak awal dunia diciptakan, pernah hidup seorang lelaki yang kehilangan segalanya.

Namanya Qais ibn al-Mulawwah. Tetapi dunia memanggilnya dengan sebutan “Majnun (Gila)”. Seolah mencintai terlalu dalam adalah kegilaan. Dan semua itu bermula dari seorang gadis kecil bernama Layla.

Di wilayah Najd, angin lebih keras daripada hati manusia. Di sana, anak perempuan diajarkan untuk menunduk sebelum ia belajar berjalan tegak. Namanya bukan miliknya. Tertawanya tidak boleh terlalu nyaring. Tatapannya tidak boleh terlalu lama.

Layla tumbuh dengan aturan-aturan itu seperti pakaian yang dijahitkan ke kulitnya sendiri.

Lalu datang Qais. Ia duduk terlalu dekat, menatap begitu lama, dan berbicara seolah Layla bukan simbol kehormatan, melainkan manusia.

Suatu sore, saat cahaya matahari jatuh tepat di wajah mereka. Qais melantunkan syairnya.

“Jika suatu hari aku tersesat, aku akan mencarimu di matamu,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi Layla kecil, itu adalah pertama kalinya ia merasa dilihat. Bukan sebagai putri Bani ‘Amir. Bukan sebagai beban nama keluarga. Melainkan sebagai dirinya sendiri.

Dan dari situlah sesuatu yang tidak diberi izin untuk hidup mulai tumbuh. Cinta. Diam-diam. Tanpa saksi. Tanpa perlindungan.

Seiring waktu, Qais tumbuh menjadi penyair. Dan penyair tidak pernah pandai menyembunyikan hati. Ia menyebut nama Layla dalam syairnya. Berulang-ulang. Di hadapan orang banyak.

Dalam masyarakat Arab abad ke-7, menyebut nama perempuan dalam puisi publik bukan sekadar romantis. Namun, hal itu dianggap mencoreng kehormatan keluarga.

Riwayat-riwayat klasik menyebut bahwa lamaran Qais ditolak karena keluarganya takut reputasi mereka tercabik oleh syair-syair itu, kisah yang kemudian diabadikan berabad-abad sesudahnya oleh penyair Persia Nizami Ganjavi dalam karya agungnya Layla and Majnun.

Namun tak ada kitab yang sanggup merekam bagaimana jantung Layla bergetar, pecah, lalu dipaksanya diam pada malam itu.

“Namamu disebut di hadapan lelaki lain,” kata Ayah Layla.

Hanya itu. Tetapi kalimat itu seperti palu yang memaku nasibnya.

Sejak malam itu, Layla tidak lagi diizinkan keluar. Tidak lagi duduk di dekat Qais. Tidak lagi mendengar suaranya tanpa rasa bersalah.

Ia berdiri di balik tirai ketika kabar penolakan lamaran itu datang. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak hancur. Melainkan karena ia tahu air matanya tidak akan mengubah apa pun.

Dan untuk kali pertama ia menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan dari perpisahan, yaitu ia tidak pernah benar-benar punya hak untuk memilih.

Hari itu datang tanpa bertanya apakah ia siap. Layla dinikahkan dengan lelaki yang baik. Terhormat. Pantas. Semua orang tersenyum. Semua orang mengucap selamat. Semua orang berkata ia beruntung.

Pada malam pertama, Layla duduk sendirian sebelum dipanggil masuk. Tangannya gemetar, bukan karena takut pada suaminya. Tetapi karena ia tahu malam itu ia harus mengubur satu nama dalam-dalam.

Ketika suaminya berbicara lembut, Layla menjawab sopan. Ia tidak membenci lelaki itu. Ia hanya merasa separuh dirinya tertinggal di padang pasir.

Di suatu tempat, seorang lelaki berjalan tanpa alas kaki, memanggil namanya kepada angin. Orang-orang menyebutnya “gila”.

Tetapi Layla tahu, yang gila bukan Qais. Yang gila adalah dunia yang meminta perempuan melupakan cinta seolah ia bisa dicuci seperti kain.

Malam itu, ketika semua orang tidur, Layla menahan tangisnya dengan menggigit ujung selendang agar suaranya tidak terdengar.

Ia tidak ingin menjadi perempuan yang dianggap tidak bersyukur. Jadi ia belajar menjadi sempurna. Ia tersenyum tanpa diminta. Ia diam tanpa diperintah. Ia menerima tanpa pernah ditanya.

Tahun-tahun berlalu. Tubuhnya hidup. Tanggung jawabnya ia jalankan. Tetapi ada satu ruang di dalam dadanya yang tidak pernah terisi lagi. Dan ruang itu selalu berbisik satu nama.

Sementara itu, Qais ibn al-Mulawwah terus melangkah menyusuri padang pasir, seolah hanya hamparan sunyi yang sanggup menampung hatinya.

Ia berbicara pada hewan liar. Menulis syair di atas batu. Menolak perempuan tercantik karena mereka bukan Layla.

Ia kehilangan harta. Kehilangan keluarga. Kehilangan akal menurut orang-orang. Tetapi ia tidak pernah kehilangan satu hal: Cinta.

Dan setiap kali kabar tentang Majnun sampai ke telinga Layla, dadanya seperti dipelintir pelan-pelan. Ia ingin marah. Ingin berkata, “Mengapa kau memilih menjadi gila?”

Tetapi jauh di dalam, ia tahu Qais berani kehilangan segalanya demi cinta. Sementara ia memilih bertahan.

Dan bertahan, bagi perempuan yang mencintai dalam diam, sering kali lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri.

Hingga pada suatu hari, tubuh Layla melemah. Sebagian riwayat menyebut ia sakit. Sebagian lain menyiratkan bahwa ia habis oleh kesedihan yang panjang.

Pada suatu malam sunyi, ketika napasnya mulai berat, ia meminta semua orang keluar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sendirian tanpa pengawasan.

Ia menatap langit. Dan selama bertahun-tahun ia menahan satu nama agar tidak lolos dari bibirnya. Malam itu, ia berhenti menahan.

“Qais…” suaranya nyaris tak terdengar. Tetapi dalam satu nama itu ada seluruh hidup yang ia pendam.

Air mata mengalir ke pelipisnya. Bukan air mata penyesalan. Melainkan kejujuran yang akhirnya menemukan jalan.

Di luar rumah, dalam legenda yang diceritakan turun-temurun, Majnun berdiri. Ia tidak masuk. Tidak mengetuk. Cintanya terlalu besar untuk merusak hidup Layla bahkan di detik terakhir.

Ia hanya berbisik pada angin, “Layla…”

Ketika kabar kematian itu sampai padanya, Majnun datang ke pusara yang tanahnya masih basah. Ia duduk. Tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak lagi menulis syair. Karena cinta yang paling dalam tidak selalu bersuara.

Beberapa hari kemudian, ia ditemukan terbaring tak jauh dari makam itu. Wajahnya tenang. Seolah rindu yang ia bawa bertahun-tahun akhirnya menemukan tempat pulang.