SimpulRakyat.co.id, Makassar – Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali memburuk sejak Jumat (9/10/2026) malam.
Konsentrasi partikulat halus PM2,5 meningkat hingga masuk kategori tidak sehat dan masih terpantau pada Sabtu (10/10/2026) siang.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, mengatakan konsentrasi PM2,5 kembali meningkat setelah sempat turun ke kategori sedang.
“Jadi, yang sebelumnya itu sudah mulai turun menjadi level sedang, nah sejak kemarin malam ini naik kembali ke level tidak sehat atau di atas 55 mikrogram per meter kubik. Sampai siang ini juga masih terpantau dalam kategori tidak sehat,” kata Rizky saat dihubungi melalui telepon seluler, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Rizky, memburuknya kualitas udara di Makassar berpotensi dipengaruhi kiriman asap dari luar Sulawesi. Selain itu, titik panas dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi juga berpotensi menyumbang asap yang mencemari udara.
“Jadi, selain ada potensi dari kiriman asap dari luar daerah Sulawesi, dari Sulawesi-nya sendiri juga berpotensi untuk memberikan kontribusi atau sumbangsih asap di wilayah Makassar dan sekitarnya,” ujarnya.
Asap dari kebakaran dapat terbawa angin hingga mencapai kawasan perkotaan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsentrasi PM2,5 dan menurunkan kualitas udara di wilayah yang dilaluinya.
BMKG belum dapat memastikan kapan kualitas udara di Makassar akan kembali membaik. Rizky mengatakan, pemulihan kualitas udara bergantung pada penanganan sumber kebakaran, potensi hujan, dan perubahan arah angin.
Selama sumber kebakaran belum teratasi, pencemaran udara akibat asap masih berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi, termasuk Makassar dan sekitarnya.
“Kualitas udara ini kan sumbernya dari kebakaran hutan dan lahan ya. Jadi, kalau misalkan sumbernya ini masih belum teratasi, ya potensi untuk penurunan kualitas udara ini juga masih ada di wilayah Sulawesi,” kata Rizky.
Dia menjelaskan, hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikulat di atmosfer. Sebaliknya, jika hujan belum turun dengan cukup, konsentrasi PM2,5 berpotensi tetap tinggi selama beberapa hari ke depan.
Selain hujan, arah angin turut memengaruhi pergerakan asap. Perubahan arah angin dapat memengaruhi tingkat paparan asap di suatu wilayah, bergantung pada lokasi sumber kebakaran dan arah pergerakannya.
Rizky membenarkan bahwa arah angin turut memengaruhi perubahan kualitas udara di Makassar, yang sebelumnya sempat membaik sebelum kembali memburuk.
“Iya, betul, dipengaruhi arah angin,” katanya.
BMKG masih memantau perkembangan konsentrasi PM2,5 dan kondisi atmosfer di Sulawesi Selatan. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara karena kondisinya masih dapat berubah dalam beberapa hari ke depan. (**)


Tinggalkan Balasan