SimpulRakyat.co.id, Opini – Ada satu kebiasaan yang diam-diam mengubah cara kita hidup.

Dulu, ketika seseorang melihat pemandangan yang indah, ia berhenti. Ia memandang cukup lama hingga keindahan itu tinggal di ingatan.

Hari ini, reaksi pertama sering kali berbeda. Tangan lebih cepat mencari telepon genggam daripada mata menikmati apa yang ada di hadapannya.

Barangkali kita tidak sedang kehilangan kemampuan melihat. Kita hanya semakin sulit membiarkan sesuatu lewat tanpa membawanya pulang ke linimasa.

Tidak ada yang keliru dengan memotret. Sejak fotografi ditemukan, manusia memang ingin mengabadikan momen. Yang berubah bukan kameranya, melainkan tujuan kita mengangkat kamera.

Foto dahulu menyimpan kenangan. Foto hari ini sering kali mencari pengakuan.

Perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga hampir tidak terasa. Kita mulai mengukur sebuah perjalanan dari banyaknya unggahan, bukan dari banyaknya pengalaman. Secangkir kopi terasa lebih lengkap setelah muncul di story. Sebuah konser dianggap lebih berkesan setelah videonya ditonton ribuan orang yang bahkan tidak hadir di sana.

Seolah-olah sebuah peristiwa belum benar-benar terjadi sebelum algoritma ikut menyaksikannya. Barangkali inilah bentuk baru dari narsisme.

Sigmund Freud memahami narsisme sebagai cinta yang berlebihan kepada diri sendiri. Namun dunia digital memberinya ruang yang jauh lebih luas. Kini seseorang tidak perlu berdiri di depan cermin untuk mengagumi dirinya. Ia cukup membuka aplikasi, lalu menunggu orang lain mengukuhkan kekaguman itu.

Yang dicari bukan lagi pantulan wajah. Melainkan pantulan perhatian.

Di situlah media sosial bekerja dengan sangat cerdik. Ia membuat perhatian terasa seperti kebutuhan dasar. Semakin banyak perhatian diterima, semakin besar keinginan untuk mencarinya lagi. Bukan karena manusia selalu haus pujian, tetapi karena algoritma mengajarkan bahwa setiap perhatian adalah hadiah yang patut dikejar.

Pelan-pelan kita pun terbiasa mempertunjukkan kehidupan. Bukan karena hidup itu sendiri kurang bermakna, melainkan karena makna terasa belum lengkap jika tidak disaksikan orang lain.

Padahal hidup memiliki banyak keindahan yang justru lahir ketika tidak ada penonton.

Dalam tradisi Islam, ada istilah ujub: perasaan kagum terhadap diri sendiri hingga lupa bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan.

Ujub tidak selalu hadir sebagai kesombongan yang lantang. Ia sering datang dengan wajah yang sopan, bahkan tampak religius.

Seseorang membagikan momen ibadahnya, lalu tanpa sadar lebih sibuk memeriksa jumlah tanggapan daripada menjaga getaran syukurnya. Yang semula merupakan percakapan dengan Tuhan perlahan berubah menjadi pertunjukan di hadapan manusia.

Barangkali persoalannya memang bukan teknologi. Telepon genggam tidak pernah meminta kita menjadi narsis. Kamera juga tidak pernah memaksa kita memamerkan diri. Ia hanyalah alat. Yang sesungguhnya bekerja adalah hasrat manusia untuk merasa dilihat, dihargai, dan diakui.

Dan keinginan itu sesungguhnya setua manusia itu sendiri. Yang berbeda hanyalah panggungnya.

Dulu seseorang cukup dihargai oleh keluarga, tetangga, atau sahabat. Kini ia merasa perlu diterima oleh ribuan orang yang bahkan tidak mengenalnya. Semakin luas panggungnya, semakin rapuh pula ketenangannya. Sebab hidup yang bergantung pada tepuk tangan akan selalu gelisah ketika penonton mulai diam.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah, “Apakah media sosial membuat manusia menjadi narsis?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa kita begitu takut hidup tanpa disaksikan?”

Barangkali jawabannya tidak sederhana. Mungkin kita terlalu lama menyamakan perhatian dengan kasih sayang, lalu mengira angka-angka di layar adalah ukuran nilai diri. Padahal keduanya tidak pernah benar-benar sama.

Ada banyak hal yang tidak dapat dihitung oleh algoritma, di antaranya ketulusan, rasa syukur, kedekatan, juga kedamaian. Semua itu bekerja tanpa notifikasi.

Mungkin karena itulah momen-momen yang paling berharga dalam hidup sering kali tidak pernah menjadi unggahan.

Percakapan panjang dengan seorang ibu. Pelukan seorang ayah. Doa yang dipanjatkan sendirian. Air mata yang tidak direkam. Tidak ada yang memberi tanda suka pada peristiwa-peristiwa itu. Namun justru di sanalah hidup sering menemukan maknanya.

Kita tentu tidak harus meninggalkan media sosial. Dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan modern, dan di dalamnya tersimpan banyak manfaat.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai layar mengambil alih cara kita memandang diri sendiri.

Sebab manusia yang terus-menerus mencari dirinya di mata orang lain lambat laun akan lupa menatap ke dalam dirinya sendiri.

Dan mungkin, kehilangan terbesar pada zaman ini bukanlah hilangnya privasi. Melainkan hilangnya kemampuan untuk menikmati hidup tanpa merasa perlu membuktikannya kepada siapa pun.