SimpulRakyat.co.id, Luwu Timur – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Luwu Timur (AMPLi) menuntut transparansi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT IHIP serta mengkritisi penggunaan anggaran pembangunan Islamic Center Malili.

Sorotan tersebut disampaikan saat mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di simpang tiga poros menuju pelabuhan PT Vale, jalur Balantang, Kabupaten Luwu Timur, Kamis (26/3/2026).

Koordinator Lapangan AMPLi, Yolan Johan, mengatakan keterbukaan dokumen AMDAL penting agar masyarakat mengetahui potensi dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas industri di wilayah tersebut.

“Kami meminta dokumen AMDAL PT IHIP dibuka ke publik karena menyangkut dampak lingkungan, rencana pengelolaan, serta langkah mitigasi yang akan dilakukan perusahaan,” ujar Yolan dalam orasinya.

Selain itu, massa juga menggelar aksi di depan Islamic Center Malili dengan menyoroti transparansi anggaran dan progres pembangunan proyek tersebut.

AMPLi mempertanyakan penggunaan anggaran lanjutan pembangunan Islamic Center tahun 2025 yang disebut mencapai sekitar Rp25–26 miliar dari total proyek multi-years sekitar Rp65 miliar.

Massa menilai hingga Maret 2026, pembangunan lanjutan belum menunjukkan progres signifikan.

“Rp26 miliar itu uang rakyat, harus dipertanggungjawabkan secara terbuka. Kami ingin ada kejelasan terkait penggunaan anggaran dan kelanjutan pembangunan,” kata Yolan.

Dalam tuntutannya, massa meminta pemerintah daerah membuka laporan penggunaan anggaran secara rinci, menjelaskan alasan keterlambatan pembangunan, serta melibatkan masyarakat dalam pengawasan proyek.

AMPLi juga menyatakan akan membawa tuntutan tersebut, termasuk soal AMDAL PT IHIP dan audit Islamic Center, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dijadwalkan berlangsung pada 2 April 2026 bersama DPRD dan pemerintah daerah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah maupun pihak perusahaan terkait tuntutan yang disampaikan massa. (*)