Tidak semua perpisahan diawali pertengkaran. Ada yang justru lahir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.
Aurel bangun pagi itu dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada sesak. Tidak ada marah. Hanya ketenangan yang aneh, seperti seseorang yang akhirnya berhenti melawan arus dan memilih mengapung.
Hamka masih terlelap. Wajahnya damai. Aurel menatapnya lama, bukan dengan benci, melainkan dengan kejujuran yang utuh. Ia sadar, Hamka bukan orang jahat. Ia hanya mencintai dengan hati yang tidak lagi kosong.
Aurel ke dapur, membuat teh seperti biasa. Rutinitas terakhirnya sebagai istri.
Ia duduk di meja makan dan menulis sepucuk surat. Tangannya tidak gemetar. Kata-katanya mengalir pelan, seperti keputusan yang sudah matang sejak lama.
Hamka,
Aku tidak pergi karena tidak mencintaimu.
Aku pergi karena aku terlalu lama mencintaimu sendirian.
Aku lelah menjadi kuat untuk sesuatu yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Aku tidak ingin hidup sebagai jeda dari kisah cintamu yang lain.
Aku ingin dicintai tanpa harus menunggu.
Aku ingin menjadi pulang, bukan persinggahan.
Jaga dirimu baik-baik.
Aurel.
Aurel melipat surat itu rapi, meletakkannya di meja. Ia masuk ke kamar, mengambil tas kecil yang sudah ia siapkan sejak semalam. Tidak banyak barang. Ia tidak membawa kenangan.
Saat pintu tertutup, Aurel berhenti sejenak. Ia menghela napas Panjang, napas seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
Di luar, pagi terasa cerah. Jalanan belum ramai. Aurel melangkah ringan, seolah beban yang selama ini menekan dadanya tertinggal di balik pintu rumah itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurel tidak bertanya ke mana ia akan pergi. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak lagi ingin tinggal di tempat di mana ia harus berjuang sendirian untuk dicintai.
Beberapa minggu kemudian, Aurel duduk di sebuah kafe kecil, membaca buku. Wajahnya tenang. Tidak ada raut perempuan yang baru saja patah. Hanya seseorang yang sedang menyusun ulang hidupnya.
Ia tersenyum kecil. Bukan karena sudah menemukan cinta baru, melainkan karena akhirnya berhenti memohon cinta yang salah.
Aurel belajar bahwa bahagia tidak selalu berarti bersama seseorang. Kadang bahagia adalah berani pergi, agar suatu hari nanti, ketika cinta yang benar datang, ia tidak lagi setengah hati.
Dan untuk siapa pun yang membaca kisah ini, jika kamu pernah menjadi pilihan kedua,
ingatlah: seumur hidup terlalu lama untuk dihabiskan sebagai cadangan.Kamu pantas dicintai dengan utuh. Dipilih tanpa ragu. Diperjuangkan tanpa diminta.
Dan ketika kamu berani pergi dari yang salah, hidup akan memberi ruang untuk yang benar.


Tinggalkan Balasan