Kesepian tidak selalu datang karena sendirian. Kadang ia justru hadir ketika dua orang tidur di ranjang yang sama, berbagi atap yang sama, tapi hidup di dunia yang berbeda.
Aurel mulai merasakannya sejak bulan-bulan awal pernikahan mereka.
Hamka bukan suami yang buruk. Ia pulang tepat waktu. Menunaikan tanggung jawab. Tidak pernah meninggikan suara. Bahkan sesekali membawakan oleh-oleh kecil, berupa donat kesukaan Aurel, atau buah dari toko langganannya.
Tapi semua itu terasa seperti kewajiban yang dijalankan dengan rapi. Tanpa kehidupan. Tanpa rasa.
Pagi-pagi mereka selalu hampir sama. Aurel menyiapkan sarapan. Hamka duduk sambil memeriksa ponselnya. Kadang mereka makan bersama, kadang tidak. Percakapan mereka pendek-pendek, seperlunya.
“Hari ini pulang jam berapa?” tanyanya.
“Seperti biasa,” jawab Hamka tanpa menoleh.
Tidak ada cerita tentang hari yang melelahkan. Tidak ada keluh-kesah. Tidak ada tawa yang tiba-tiba pecah tanpa sebab.
Aurel sering berpikir, mungkin beginilah pernikahan orang dewasa. Tidak semua harus dibicakan. Tidak semua harus dirasakan bersama. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kosong yang pelan-pelan melebar.
Suatu sore, Aurel pulang lebih cepat. Rumah sedang sunyi. Hamka ada di kamar kerja, pintunya setengah terbuka. Aurel hendak mengetuk, tapi langkahnya terhenti.
Hamka sedang tersenyum. Senyum yang jarang Aurel lihat.
Ia menatap layar ponselnya lama sekali. Lalu tertawa kecil, tawa yang ringan, seolah ada sesuatu yang membuat dadanya hangat.
Aurel berdiri mematung. Bukan karena cemburu. Melainkan karena asing.
Ia tidak pernah melihat Hamka tertawa seperti itu bersamanya.
Aurel memilih mundur. Ia ke dapur, menyeduh teh, mencoba menenangkan dirinya. Ia berkata pada dirinya sendiri: jangan berprasangka buruk. Tapi hati perempuan jarang bisa dibohongi oleh logika.
Malam itu, ketika mereka makan bersama, Aurel memberanikan diri bertanya.
“Kamu kelihatan senang hari ini,” katanya pelan.
Hamka mengangkat kepala sekilas. “Biasa saja.”
Jawaban itu seperti pintu yang ditutup perlahan tapi pasti.
Beberapa hari kemudian, Aurel menemukan sesuatu yang tidak ia cari. Ponsel Hamka tertinggal di meja makan. Layarnya menyala karena sebuah notifikasi.
Nama itu muncul singkat. Aisyah
Tidak ada foto. Tidak ada emotikon berlebihan. Hanya pesan pendek: “Terima kasih sudah mendengarkan tadi.”
Aurel tidak membuka pesan itu. Tidak membaca lebih jauh. Tangannya gemetar meski ia tidak tahu kenapa. Ia meletakkan kembali ponsel itu seolah benda panas yang bisa membakar.
Sejak hari itu, Aurel mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Cara Hamka tiba-tiba lebih diam setelah menerima panggilan tertentu. Cara ia memalingkan layar ponsel saat mengetik pesan. Cara ia pergi ke balkon malam-malam, berdiri lama, sendirian.
Dan yang paling menyakitkan: Hamka tidak pernah merasa perlu menjelaskan apa pun.
Suatu malam, Aurel akhirnya tak sanggup lagi menyimpan semua di dadanya.
“Hamka, kita baik-baik saja, kan?” tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya terasa berat.
Hamka terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Kita sudah menikah. Bukankah itu jawabannya?”
Aurel tersenyum, tapi senyumnya rapuh. Ia ingin berkata bahwa pernikahan bukan sekadar status. Bahwa ia ingin menjadi tempat pulang, bukan sekadar alamat.
Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Malam itu, Aurel menangis tanpa suara. Bukan karena Hamka menyakitinya dengan terang-terangan, tapi karena ia mulai mengerti: ia tidak sedang diperjuangkan, ia hanya sedang dijalani.
Dan di dalam kesunyian itu, Aurel akhirnya berani mengakui sesuatu yang selama ini ia sangkal, yaitu ia menikah dengan seseorang yang hatinya masih tinggal di masa lalu. Sementara ia sendiri, hanya mengisi ruang yang tersisa.
Di situlah Aurel tahu, menjadi istri tidak selalu berarti menjadi yang utama. Kadang, ia hanya berarti: pilihan yang datang setelah yang lain gagal diperjuangkan.


Tinggalkan Balasan