Anwar dan Beberapa Warga Terjepit di Antara Anggaran Covid-19 yang ‘Bombastis’

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Saumlaki – Anwar (30) adalah warga Jakarta yang saat ini berada di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Dia sudah berada di sana sejak pandemi corona belum merebak ke seantero tanah air, tepatnya pada Februari 2020 lalu.

Kamis, 30 Juli 2020, sekira pukul 15.00 WIT, Anwar dan beberapa warga datang mengurus Surat Keterangan Sehat (SKS) pada Posko Media Center Covid-19, di depan kantor Dinas Kesehatan Pemkab Kepulauan Tanimbar, sebagai syarat bepergian.

Baca Juga

Itu dia lakukan karena beberapa waktu lalu Anwar mendapat kabar bahwa salah satu orangtuanya sedang sakit.

Bagai disambar petir di siang bolong, Anwar sangat kaget ketika dia dan warga lainnya disuruh membeli alat rapid test sendiri karena Gugus Tugas Percepatan Penanganan dan Pencegahan Covid-19 tidak siapkan alat Rapid Test tersebut.

“Pas sampai di gugus tugas, saya disuruh beli alat rapid test. Bukan saya aja tapi semua juga ini disuruh beli alat rapid test. Katanya punya mereka habis,” tutur Anwar di Lokasi Posko Media Center Covid-19, tepatnya di jalan Ir Soekarno, Saumlaki.

Dia mengaku, telah membeli alat rapid test sesuai permintaan petugas.

“Saya beli tadi alat rapid test ini Rp250 ribu di toko buku di depan kantor pos,” tutur Anwar dengan nada sedih.

Mirisnya lagi, dia dan warga lainnya disuruh menunggu berjam-jam karena hanya satu orang tenaga medis yang melayani warga melakukan tes kesehatan saat itu.

Tak hanya Anwar, korban kegalauan dari situasi ini. Adi, salah satu warga asal Makassar yang berada di lokasi juga disuruh membeli sendiri alat rapid test tersebut.

Bahkan, alat rapid test Adi lebih mahal dari milik Anwar.

“Kita tadi langsung ke apotek karena toko buku (di depan kantor pos) sudah tutup. Kita beli harganya Rp350 ribu,” tutur Adi.

Namun, dia mengaku belum juga dilakukan tes kesehatan oleh petugas karena banyak warga yang telah mengantri sejak pukul 11.00 WIT di tempat itu.

Situasi yang terjepit ini telah mengharuskan masyarakat yang hendak bepergian menempuh cara yang tidak sepatutnya mereka lakukan. Karena sangat bertentangan dengan aturan yang ada.

Selain itu, jika dilihat dari besarnya anggaran Covid-19 yang disiapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar mencapai Rp39 milyar rupiah itu sangat mustahil kalau alat rapid tes saja tidak sanggup dibeli.

“Harusnya pemerintah yang siapkan to, masa kita yang siapkan lagi?,” celetuk salah seorang warga yang sementara antre, yang blakangan diketahui hendak melakukan perjalanan ke Manokwari, Papua.

Keadaan ini sungguh memprihatinkan karena berbanding terbalik dengan keadaan yang selama ini dibilang bahwa Kabupaten Kepulauan Tanimbar “Baik-Baik Saja.”

Kondisi tersebut dibilang baik karena memang betul sejauh ini, secara hukum belum ditemukan pelanggaran penyelewengan anggaran Covid-19. (47)

Disarankan Untuk Anda :