Ramadan dan Covid-19

  • Whatsapp
Alex (Ketua Umum BEM FKIP Unismuh Makassar Periode 2019-2020).

SimpulRakyat.co.id, OPINI – Hati siapa yang tidak terketuk bahagia mendengar bulan yang penuh rahmat dan berkah ini datang, ketika dalam hati makhluk tersebut memiliki rasa cinta dan iman yang kokoh kepada Allah SWT.

Maka yakinlah bahwa Marhaban ya Ramadan kita akan sambut dengan rasa penuh cinta dan kasih dan merupakan sebuah rukun Islam yang ke-3 yang artinya bagi mereka yang muslim dan memenuhi syaratnya.

Baca Juga

Sesuai firman Allah tentang puasa ini memiliki arti: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah, Ayat 183).

Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa 1 Ramadhan pada 24 April 2020, hal ini dijelaskan dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.O/E/2020 seperti yang diunggah situs resmi PP Muhammadiyah.

Namun Ramadan kali ini berbeda dengan ramadan tahun sebelumnya, dimana kali ini kita harus mengawali bulan puasa ini bersama dengan Covid-19 ataupun Virus Corona yang telah menjadi pandemi di Belahan Dunia ini.

Dimana kita ketahui, dalam bulan yang penuh berkah ini adalah bulan dilipatgandakannya pahala oleh Allah SWT. Namun kali ini, kita akan dianjurkan untuk beribadah di Rumah.

Padahal, banyak agenda yang sangat dirindukan, salah satunya tadarrus berjamaah di Masjid, buka puasa bersama dan it’tikaf di Masjid yang dimana kita umat muslim juga percaya bahwa di Bulan Ramadan ini terdapat malam lailatul Qadr dimana nilai pahalanya itu seperti beribadah 1000 bulaan.

Selain itu, ibadah Sunnah lainnya yang dilakukan dalam Ramadan yang biasanya kita berjamaah di Masjid yaitu salat Tarwih pun kini dilakukan di Rumah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakkan, ketika Covid-19 ini masih berlansung selama Ramadan, maka salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya).

Mengingat, dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang, mengharuskan perenggangan sosial (at-tabud al-ijtim/social distancing).

Seketika muncul orang-orang yang berpaham “sottaisme” yaitu orang yang mengatakan “Takutlah kepada Allah, bukan takut kepada virus corona,”.

Ini merupakan teologi neo-Jabariyah yang harus dijauhi menurut Fathurrahman Kamal, Lc, M.Si, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Jabariyah adalah suatu keyakinan yang semata-mata mengajarkan kepasrahan terhadap takdir Allah karena pada dasarnya ikhtiar tidak akan mengubah takdir seseorang. Suatu paham yang bertentangan dengan akidah ahlus sunnah wal jamaah.

Tokoh-tokoh agama harus mendukung pemerintah dalam mengedukasi masyarakat untuk bersama waspada dan memerangi Covid-19. Bukan malah menggembosi pemerintah maupun tenaga medis yang sedang berjuang di garda depan penanganan korona dengan narasi-narasi yang menyesatkan.

Dan juga, mari kita yang memliki pengetahuan sedikit akan hal ini untuk menyampaikan kepada Masyarakat yang masih awam akan hal Covid-19 ini dengan cara ibadah kita saat ini.

Semoga wabah ini segera berlalu dan diangkat oleh Allah SWT, sehingga kita semua bisa menjadi makhluk yang betul-betul beriman.

Semoga ini bahan refleksi bagi kita akan aktivitas yang telah lalai kita lakukan bahwa Allah masih mencintai kita dengan adantya cobaan ini, tidak katakan seseorang beriman sebelum dia diuji oleh Allah SWT. Tetap jaga Iman dan Imun sekalgis saya selaku penulis mengucapkan Marhaban ya Ramadan.

Penulis: Alex (Ketua Umum BEM FKIP Unismuh Makassar Periode 2019-2020)

SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis

Berita Menarik Lainnya