SimpulRakyat.co.id, OPINI – Banyak di antara kita yang tanpa sadar menerima anggapan bahwa demokrasi adalah buah pikiran bangsa Barat, lahir dari peradaban mereka, lalu dikirimkan ke dunia Timur sebagai anugerah peradaban modern.
Bahkan tidak sedikit dari umat Islam itu sendiri banyak yang menolak demokrasi karena beranggapan buatan bangsa barat.
Padahal jika kita menengok ke dalam kitab suci kita sendiri, kita akan menemukan satu kenyataan yang sungguh membanggakan: nilai-nilai demokrasi telah Allah turunkan dan ajarkan kepada manusia berabad-abad sebelum bangsa Barat mengenal istilah itu.
Demokrasi bukanlah hasil pemikiran manusia Barat, melainkan bagian dari firman Tuhan yang diturunkan untuk seluruh manusia.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ghasyiyah ayat 21-22:
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah penguasa atas mereka.”
Ayat ini adalah fondasi paling kokoh dari kebebasan berkehendak dan kebebasan berkeyakinan. Allah sendiri tidak menjadikan Rasul-Nya sebagai penguasa yang berhak memaksa hati manusia.
Setiap manusia diberi kehormatan untuk memilih, menerima atau menolak kebenaran atas tanggung jawabnya sendiri. Bukankah ini inti dari demokrasi? Bahwa tidak ada satu pihak pun yang berhak memaksakan kehendak kepada pihak lain, bahwa setiap manusia memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri?
Lalu dalam Surah An-Nahl ayat 125, Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”
Di sini Allah mengajarkan metode dialog, pembicaraan terbuka, dan pertukaran pikiran yang santun, bukan perintah sepihak, bukan ancaman, bukan kekerasan.
Manusia diajak berfikir bersama, diyakinkan dengan akal dan bukti, bukan ditundukkan dengan kekuatan.
Inilah semangat demokrasi yang sesungguhnya: menghargai perbedaan, menghormati pendapat lain, dan mencari kebenaran melalui jalan yang baik.
Semua ini tertuang dalam firman Tuhan, bukan dirumuskan oleh parlemen Barat.
Belum lagi firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 38:
“Dan urusan mereka diputuskan dengan cara musyawarah di antara mereka.”
Ayat ini secara tegas menetapkan bahwa urusan bersama harus diputuskan bersama. Bukan oleh satu orang, bukan oleh sekelompok kecil yang berkuasa, melainkan melalui pembicaraan dan kesepakatan bersama seluruh pihak yang terlibat.
Itulah demokrasi dalam bentuknya yang paling murni dan paling asli tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad sebelum bangsa Barat menyebut kata itu.
Maka keliru besar jika kita menganggap demokrasi adalah ciptaan atau warisan Barat. Yang benar adalah: nilai-nilai luhur demokrasi, kebebasan, persamaan, musyawarah, dialog, dan tidak memaksa adalah firman Tuhan yang tertanam dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu.
Bangsa Barat kemudian mengambil nilai-nilai itu, mengemasnya dengan sistem dan nama mereka, lalu seolah-olah itulah ciptaan mereka.
Padahal sumber cahayanya datang dari langit, bukan dari akal manusia semata.
Sudah saatnya kita bangga dan sadar: Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tapi juga kitab peradaban yang mengajarkan tata kehidupan paling mulia.
Demokrasi bukan barang ciptaan Barat yang harus kita impor. Ia adalah firman Tuhan, yang telah Allah tetapkan sebagai jalan hidup yang mulia, sejak manusia pertama menginjakkan kakinya di muka bumi.
Oleh: Tata Sahrul Syaf
Catatan Redaksi:
SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis


Tinggalkan Balasan