Selamatkan Cagar Alam dan Cagar Budaya di Desa Lermatan dari Kilang Blok Masela

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Saumlaki — Desa Lermatan merupakan pusat perhatian seluruh elemen masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) akhir – akhir ini lantaran isu yang berkembang bahwa masyarakat desa itu akan direlokasikan ke suatu tempat. Isu tersebut sejalan dengan rencana keberadaan Kilang Blok Masela di pulau Tanimbar.

Jems Masela, Ketua DPC Lembaga Aliansi Indonesia – Badan Penelitian Aset Negara (LAI – BPAN) kabupaten MTB ikut bersuara. Dia mengatakan jika isu itu benar maka sangat disayangkan.

Baca Juga

“Saya berharap Inpex Masela sebagai perusahan yang akan mengelola Gas Blok Masela dan Pemerintah Daerah harus segera menjelaskan terkait isu – isu tersebut, supaya jangan sampai meresahkan masyarakat MTB, khususnya masyarakat desa Lermatan,” katanya kepada media SimpulRakyat.co.id di kediamannya, Minggu (11/11).

Lanjutnya, siapapun investornya dan apapun bentuk investasinya asalkan tidak boleh merugikan masyarakat adat setempat. Dia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat MTB agar jangan mudah terpancing dengan isu – isu yang meresahkan itu.


Sebelumnya LAI – BPAN MTB membentuk tim investigasi dan melakukan survei ke desa Lermatan. Disana tim menemukan berbagai hal, antara lain adanya Cagar Alam dan Cagar Budaya yang berumur ratusan tahun dan harus dilindungi sesuai ketentuan perundang – undangan yang berlaku. Dari hasil temuan inilah maka, Jems Masela meminta untuk benda – benda tersebut harus dijaga dan dirawat karena itu merupakan peninggalan sejarah dari leluhur masyarakat desa Lermatan.

“Gereja Tua dan Sumur Tua di desa Lermatan harus dijaga dan dirawat oleh masyarakat maupun pemerintah daerah,” lanjut Masela.

Menurut sejarahnya, Gereja Protestan Tertua di pulau Tanimbar itu didirikan oleh Pendeta Yoseph Kham pada tahun 1847 di desa Lermatan dan saat ini Gereja tersebut telah berumur 171 tahun dan masih menjadi tempat ibadah umat Kristen Protestan di Desa Lermatan. Sedangkan Sumur Wetutune Wempas Dalam (sumur keramat) sudah ada sejak tahun 1800an dan menjadi bukti sejarah hingga saat ini.

Inpex Masela diketahui telah melakukan survei (Pre-FEED) sejak April 2018 lalu lantaran skema LNG darat yang ditentukan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu lokasi yang masuk dalam proses survei saat itu adalah wilayah hutan desa Lermatan. Hal itu dibenarkan oleh ketua Pemuda desa Lermatan ketika dijumpai di rumahnya.

“Waktu itu kami yang mengantarkan mereka (orang – orang Inpex Masela) masuk ke dalam hutan,” katanya kepada tim investigasi LAI – BPAN dan media SimpulRakyat.co.id.

Diharapkan agar dengan adanya kehadiran Kilang Blok Masela di MTB tidak lalu menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat namun memberikan suatu dampak positif yang menguntungkan masyarakat di bumi Duan Lolat ini.

Reporter: Marcel Kalkoy

Berita Menarik Lainnya