SimpulRakyat.co.id, Jeneponto – Wakil Bupati Jeneponto, H Paris Yasir meresmikan Markas Pergerakan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jeneponto, dirangkaikan dengan Salat Ghoib untuk korban kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang berlangsung di Jl Sungai Kelara Agang Je’ne, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Kamis malam (14/01/2021).

Acara Tersebut dimulai dengan Salat Ghoib untuk korban kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182, pembacaan salawat Nadhliyah serta Barzanji yang diikuti dengan khusyuk oleh tamu undangan. Kemudian dilanjutkan dengan peresmian Markas Pergerakan PC PMII Jeneponto.

Wakil Bupati Jeneponto yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Pengurus PC PMII Jeneponto.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini. Biarpun saya tidak diundang kalaupun ada panggilan dzikir saya pasti akan datang,” kata H Paris Yasir.

“PMII sebagai Lembaga kemahasiswaan, saya tidak akan melarang untuk melakukan aksi atau demo, karena menjadi sebuah balance untuk pemerintahan kami. Silahkan Demo kalau ada penyimpangan yang terjadi,” sambung Paris Yasir.

Sementara itu, Ketua PMII Cabang Jeneponto Muh Idris Haris mengatakan, Markas Pergerakan PMII Jeneponto ini akan menjadi sentral kaderisasi PMII.

“Bukan hanya tempat bersemayan atribut PMII secara administratif, melainkan tempat untuk melahirkan bibit unggul kader muda NU,” ucap Idris.

Tak hanya itu, di hadapan para tamu undangan, Ketua PMII Cabang Jeneponto ini juga banyak menjelaskan tentang sejarah Barzanji.

“Sejarah Al-Barzanji adalah kitab karangan Syekh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji. Beliau lahir di Madinah pada tahun 1690 M, dan wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama suatu daerah di Kurdikistan Barzinj,” terang Idris Haris.

Lanjut diterangkan, sebenarnya, kitab tersebut berjudul Iqd al-jawahir (kalung permata), tapi kemudian lebih terkenal dengan sebutan al-Barzanji.

“Kitab tersebut, menceritakan tentang sejarah Nabi Muhammad yang mencakup silsilahnya, perjalanan hidup semasa kecil, remaja, menginjak dewasa hingga diangkat menjadi Rasul,” tambah dia.

Selain itu, kata Idris, juga menyebutkan sifat-sifat Rasul, keistimewaan-keistimewaan dan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan teladan bagi umat manusia. Dengan bahasa dan sastra yang tinggi menjadikan kitab ini enak dibaca
Banyak dari kalangan umat Islam yang menolak tradisi barjanjen.

“Mereka menganggap bid’ah karena perbuatan tersebut tidak dilakukan Rasulallah SAW. Selain itu, barzanji hanyalah karya sastra, bukan menjadi rujukan sumber orang Islam seperti Al Qur’an dan Hadist. Jadi, mereka menolak dengan tegas terhadap tradisi tersebut,’’ jelas Idris Haris.

Sekadar diketahui, kegiatan tersebut dihadiri para mantan Ketua Cabang PMII Jeneponto, Ketua KPU Jeneponto, GP Ansor-Banser Jeneponto, HMI, PB HPMT, Karang Taruna Kabupaten Jeneponto dan beberapa tamu undangan.