SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Pagi ini, seperti biasa, aku memeriksa email redaksi di ruang kerja kecil yang sekaligus berfungsi sebagai kantor lapangan.
Hawa dingin dari pendingin ruangan membelai kulit, tapi tidak cukup untuk meredakan kegelisahan yang tiba-tiba muncul ketika mataku tertuju pada sebuah email dengan subjek besar “Aduan Dugaan Korupsi di Pangkep”.
Email itu datang dari Komite Pergerakan Mahasiswa. Isinya tidak main-main, laporan tujuh kasus dugaan korupsi yang melibatkan berbagai pihak.
Yang membuatku tercekat adalah enam dari tujuh kasus itu berkaitan dengan proyek pembangunan gedung sekolah tahun anggaran 2023, sementara satu lagi menyebut dugaan penyelewengan dana desa di tahun yang sama.
Aku membuka lampiran yang tertera, menelusuri nama-nama yang disebutkan dalam laporan itu. Dan saat sampai pada kasus dana desa, aku terhenti.
Nama desa itu. Nama kepala desa itu.
Seketika dadaku terasa sesak. Aku mencoba menelan ludah, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku.
Nama kepala desa itu bukanlah nama yang asing. Dia adalah suami dari seseorang yang pernah mengisi hatiku—orang yang pernah menjadi separuh dari mimpi-mimpi masa mudaku.
Wajahnya langsung terlintas di benakku. Wajah perempuan yang selalu tersenyum lembut meski kadang matanya menyiratkan keraguan.
Aku pernah memanggilnya dengan nama yang hanya kami berdua tahu. Aku pernah menyisipkan surat kecil di balik bukunya ketika kami masih mahasiswa.
Dan aku pernah menatapnya pergi, meninggalkan aku yang terdiam di halte kampus, tak mampu mengejar takdir yang sepertinya sudah memilih jalannya sendiri.
Aku mencoba menenangkan diri dengan segelas kopi hitam yang sudah mulai dingin. Aku tahu, sebagai jurnalis, ini adalah tugas yang harus kujalankan.
Tidak peduli apa hubunganku dengan orang-orang yang terlibat. Tapi kali ini, semua terasa berbeda.
Aku membuka arsip lama, memeriksa proyek-proyek di desa itu. Benar saja, ada beberapa catatan yang tampak janggal.
Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan jalan desa terlihat melompat ke pos-pos lain tanpa rincian jelas.
Bahkan lebih parahnya, laporan tahun lalu mencatat angka serupa untuk proyek yang sama, tapi hingga kini jalan itu masih berupa tanah merah berlumpur.
Malam harinya, aku memberanikan diri menghubungi salah satu sumber di desa itu. Dia bercerita panjang lebar, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepala desa yang, katanya, lebih sibuk dengan urusan pribadi daripada melayani warganya.
“Apa kamu tahu istrinya?” tanya sumberku.
Aku terdiam sesaat. “Ya, aku tahu,” jawabku pendek.
“Ada kabar dia yang sebenarnya banyak membantu, terutama urusan administrasi dan laporan. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, mereka kelihatan jarang akur. Banyak warga yang curiga kalau dia tahu soal aliran dana itu, tapi memilih diam,” beber sumber itu.
Hatiku seakan tenggelam. Aku tahu dia—perempuan itu—bukan orang yang seperti itu. Dia bukan tipe yang akan membiarkan hal-hal salah terjadi begitu saja.
Seminggu berlalu, dan aku memutuskan untuk mengunjungi desa itu. Dengan kamera di tangan dan catatan kecil yang sudah penuh dengan daftar pertanyaan, aku berdiri di depan kantor desa yang sepi.
Dia ada di sana. Perempuan itu. Dia tampak lebih dewasa, dengan kerudung biru lembut yang membingkai wajahnya. Saat mata kami bertemu, aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya.
Tapi ada sesuatu yang lain—mungkin rasa malu, mungkin juga kesedihan.
“Kamu?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Aku sedang menulis laporan. Aku harap ini tidak akan menjadi masalah.”
Dia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. “Apa yang kamu cari?”
“Kejujuran,” jawabku singkat.
Dia menghela napas panjang, lalu mempersilakanku duduk. Selama percakapan kami, dia mengungkapkan banyak hal yang seharusnya tidak diketahui orang luar.
Dia tidak membela suaminya, tapi juga tidak sepenuhnya menuduh. Yang dia ceritakan hanyalah fakta—seolah-olah dia ingin aku tahu kebenaran tanpa merasa terbebani oleh penilaianku.
“Aku hanya ingin ini selesai,” katanya di akhir pembicaraan kami.
Aku tidak tahu apakah itu berarti dia ingin kasus ini selesai, atau hidupnya sendiri.
Tiga minggu setelah laporan itu terbit, aku mendapat kabar bahwa kepala desa itu sedang diselidiki oleh pihak berwenang. Desa itu kini menjadi sorotan banyak media lain, tapi yang masih menghantuiku bukanlah kasus itu.
Yang menghantuiku adalah tatapan perempuan itu di hari terakhir aku menemuinya. Tatapan yang mengingatkan aku pada semua yang pernah kami miliki—dan semua yang telah hilang.
Pengakuan Sang Kepala Desa
Aku kembali ke desa itu beberapa hari setelah kabar penyelidikan terhadap kepala desa mencuat. Kali ini, aku tidak datang hanya dengan membawa daftar pertanyaan, tetapi juga izin resmi dari redaksi untuk melakukan wawancara dengan kepala desa—suaminya.
Kantor desa terasa lebih ramai dibanding kunjunganku sebelumnya. Beberapa warga tampak hilir-mudik, sebagian besar dengan wajah tegang.
Kepala desa, pria yang namanya tertulis jelas dalam laporan itu, sedang berdiri di depan meja kerjanya ketika aku masuk. Tubuhnya tegap, tetapi ada kerutan di keningnya yang menunjukkan beban berat yang sedang ia tanggung.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan nada datar begitu aku memperkenalkan diri.
“Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait laporan dugaan penyelewengan dana desa,” kataku, berusaha menjaga nada tetap netral.
Dia mengangguk, lalu mempersilakan aku duduk di kursi kayu yang tampak lusuh. Suasana ruang itu terasa menyesakkan, seolah setiap sudut menyimpan rahasia yang ingin disembunyikan.
“Laporan itu tidak benar,” katanya memulai, sebelum aku sempat membuka catatan.
“Semua dana sudah digunakan sesuai dengan perencanaan,” kilahnya.
“Tapi jalan desa yang dilaporkan selesai tahun lalu masih berupa tanah merah. Bukankah itu janggal?” tanyaku langsung, mencoba menggoyahkan keyakinannya.
Dia menatapku tajam.
“Pembangunan jalan itu sempat tertunda karena cuaca buruk dan kekurangan tenaga kerja. Semua sudah dicatat dalam laporan tahunan,” jawabnya.
“Lalu mengapa dana yang sama muncul di anggaran tahun ini untuk proyek yang sama? Apakah itu juga karena alasan teknis?” tanyaku lagi.
Pertanyaanku membuatnya terdiam sejenak. Aku bisa melihat tangannya mengepal di atas meja, tetapi dia tetap berusaha tenang.
“Setiap kepala desa pasti menghadapi tantangan dalam mengelola anggaran. Saya tidak bisa mengontrol semua yang terjadi, tapi saya pastikan tidak ada yang saya ambil untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.
Aku menahan diri untuk tidak merespon langsung. Sebagai jurnalis, aku tahu tanggung jawabku adalah menggali lebih dalam, bukan membuat kesimpulan sepihak.
“Bagaimana dengan tuduhan aliran dana ke rekening pribadi Anda?” Aku mengeluarkan salinan laporan yang sudah kusembunyikan di saku.
Dia menatap kertas itu tanpa menyentuhnya.
“Rekening itu untuk pembayaran proyek kecil yang dikerjakan secara swadaya oleh warga. Tidak ada yang salah di sana,” akunya.
“Tapi banyak warga yang mengeluhkan transparansi laporan keuangan desa. Bahkan beberapa sumber mengatakan istri Anda mengetahui soal ini. Apa benar?” tanyaku lagi.
Raut wajahnya berubah. Kali ini, bukan marah, tetapi lebih seperti cemas.
“Istri saya tidak tahu apa-apa. Dia hanya membantu administrasi, bukan pengelolaan dana,” imbuhnya.
Aku memutuskan untuk mengambil risiko dengan mengajukan pertanyaan sedikit privasi.
“Tapi dia sepertinya tahu. Bukankah itu yang membuat hubungan kalian tegang akhir-akhir ini?” kataku.
Tatapannya menajam, tetapi dia tidak menjawab. Hanya ada keheningan yang terasa seperti perang batin sedang berlangsung di kepalanya.
“Dia tidak terlibat,” akhirnya dia berkata dengan suara rendah.
“Kalau ada yang salah, itu tanggung jawab saya,” tambahnya.
Wawancara itu berakhir tanpa konfrontasi lebih lanjut. Saat aku keluar dari kantor desa, aku melihat sosok perempuan itu berdiri di kejauhan.
Kerudung birunya berkibar tertiup angin, dan dia menatap ke arahku, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Wajah kepala desa, kata-katanya, dan tatapan perempuan itu terus terngiang dalam benakku. Di tengah segala fakta yang coba kukumpulkan, ada sesuatu yang tetap kabur—kebenaran yang mungkin tidak akan pernah terungkap sepenuhnya.


Tinggalkan Balasan