SimpulRakyat.co.id, Luwu – Kepala Dinas PTSP Muh Rudi mewakil Pemerintah Kabupaten Luwu, menerima piagam peringkat ketiga dalam ajang Final South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2025 yang digelar di Hotel Novotel Makassar, Senin (4/8/2025).
Prestasi tersebut diraih berkat pemaparan proyek unggulan berjudul “Industri Pengolahan Rumput Laut Terpadu”, yang menyisihkan 17 proyek lain dari 16 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.
SSIC 2025 merupakan program tahunan dari Forum Pinisi Sultan yang bertujuan menjaring dan memetakan potensi investasi strategis dari berbagai daerah. Dari 18 Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang masuk seleksi awal, hanya enam yang terpilih melaju ke babak final—di antaranya berasal dari Kota Makassar, Bone, Parepare, Jeneponto, Luwu, dan Luwu Timur.
Sebelumnya, Wakil Bupati Luwu, Muhammad Devy Bijak Pawindu memaparkan Industri Pengolahan Rumput Laut Terpadu, melihat fakta jika Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di Dunia. Sulawesi Selatan sendiri menyumbang 65% dari produksi Nasional. Sementara, Luwu menjadi produsen terbesar di Sulsel yakni 636.144 ton rumput laut.
Luwu memiliki potensi 12.220 ha tambak di 11 kecamatan pesisir, dengan garis pantai ±135 km. Produksi rumput laut 2024: 636.144 ton basah Gracilaria: 323.043 ton E. Cottonii: 313.101 ton. Telah pula Terdapat Kampung Nelayan di Kecamatan Ponrang.
Devi menerangkan, Nilai Total Investasi dalam pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut Terpadu Luwu sebesar Rp. 103.648.811.000, namun dapat menghasilkan laba hingga Rp.43.902.685.392.
Ketua tim penelitian Industri Pengolahan Rumput Laut Terpadu, Muh Rudi kepada Wartawan usai kegiatan, menerangkan bahwa Industri ini pula sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat untuk menghidupkan ekonomi Biru.
Dukungan pemerintah berupa fasilitas kemudahan perizinan, program peningkatan dan pemberdayaan kelompok pembudidaya, insentif fiskal dan non fiskal, infrastruktur pendukung, diyakini akan memudahkan terwujudnya program tersebut.
Dengan penghargaan ini, Kabupaten Luwu menunjukkan kesiapan serius dalam mewujudkan pembangunan industri berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Harapannya, proyek ini dapat segera menjangkau mitra investor, khususnya dari sektor swasta, dan memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
SSIC 2025 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Forum PINISI SULTAN (Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan) sebagai bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam memetakan potensi investasi strategis dari seluruh kabupaten/kota.
Tahun ini, SSIC menjaring 18 proyek unggulan dari 16 kabupaten/kota, dan memilih 6 besar terbaik untuk dipresentasikan langsung di hadapan dewan juri.
Proyek Industri Pengolahan Rumput Laut Terpadu dari Kabupaten Luwu ini harus bersaing ketat dengan proyek ambisius lainnya seperti Stadion Untia (Makassar) Namun, Bone keluar sebagai juara pertama, diikuti Kota Makassar di posisi kedua, dan Kabupaten Luwu meraih posisi ketiga.
Menurut panitia, penilaian SSIC dilakukan secara ketat oleh dewan juri yang terdiri dari unsur Kementerian Investasi, Kedutaan Besar Inggris, akademisi, dan konsultan perencana wilayah. Para finalis juga menjalani sesi tanya jawab langsung, menguji kelayakan proyek dan kesiapan pelaksanaannya secara detail.
Atmosfer kompetisi berlangsung sengit, meski dalam format resmi. Para perwakilan daerah hadir dengan semangat tinggi untuk menarik perhatian investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Proyek-proyek yang masuk dalam final diproyeksikan dapat menjangkau pendanaan dari sektor swasta dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.


Tinggalkan Balasan