SimpulRakyat.co.id, Luwu Timur – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT), Dr dr Abdul Rahman Rauf, menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Luwu Timur di Lapangan Pendidikan, Malili, Senin (19/5/2025) kemarin.
Didampingi Sekretaris Umum KKLT, Muh. Nur Muin, dan Anggota Dewan Penasehat KKLT, Abdul Azis Said—tokoh masyarakat Sorowako—kehadiran sosok yang akrab disapa Dokter Mammang ini menjadi bagian dari dukungan moril para perantau terhadap kemajuan kampung halaman.
Dalam keterangannya seusai upacara peringatan, Dokter Mammang mengungkapkan harapan besarnya agar Luwu Timur terus melaju sebagai daerah yang mandiri, maju, dan sejahtera.
“Tentu kita sama-sama berharap, Lutim ini terus maju dan berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan dan Luwu Raya. Dengan begitu, rakyatnya juga akan merasakan kesejahteraan dan kemakmuran,” ujar pemilik Klinik InaU di Makassar itu.
Sebagai kabupaten pemekaran dari Luwu Utara sejak 2003, Luwu Timur kini dikenal sebagai salah satu daerah dengan cadangan sumber daya alam terbesar di Sulawesi Selatan, khususnya sektor pertambangan. Pegunungan Verbeek yang membentang di wilayah ini menyimpan potensi nikel, bijih besi, hingga logam mulia.
Namun, menurut Dokter Mammang, potensi besar itu harus dikelola secara berkeadilan, berkelanjutan, dan inklusif.
“Sebagai anugerah luar biasa dari Tuhan, maka ini harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Selain pertambangan, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan juga dinilai menyimpan peluang besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Ia pun mendorong pemerintah daerah agar membuka ruang lebih luas bagi keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan, bukan sekadar menjadi penonton di tengah geliat investasi.
“Semoga di bawah kepemimpinan Pak Ibas dan Ibu Puspa, Luwu Timur akan lebih baik lagi, di mana warganya tidak hanya jadi penonton tetapi juga menjadi aktor dan pelaku usaha yang menghidupkan perekonomian daerah,” imbuhnya.
Sebagai Ketua Umum KKLT—organisasi paguyuban yang mewadahi diaspora Luwu Timur di berbagai wilayah Indonesia—Dokter Mammang menekankan pentingnya kolaborasi antara diaspora dan pemerintah daerah.
“Saya kira KKLT dan Pemkab Lutim tidak bisa terpisahkan. Kami siap untuk terus bersinergi dan berkolaborasi membangun kampung halaman, meski status kami sebagai warga diaspora di rantau orang,” tandasnya.
Luwu Timur yang beribu kota di Malili memang terus berbenah. Dengan keberadaan PT Vale Indonesia di Sorowako sebagai tulang punggung industri nikel nasional, kabupaten ini menjadi salah satu titik penting dalam peta investasi nasional.
Namun, sejumlah tantangan juga membayangi, mulai dari ketimpangan ekonomi, ketergantungan terhadap sektor tambang, hingga minimnya keterlibatan warga lokal dalam pengelolaan sumber daya.
Sejumlah pihak menilai, masa depan Luwu Timur akan sangat ditentukan oleh upaya pemerintah daerah dalam mendorong diversifikasi ekonomi dan memperluas inklusi sosial. (**)


Tinggalkan Balasan