SimpulRakyat.co.id, Luwu – Aliansi Mahasiswa Wija’ To Luwu yang dikoordinir oleh 8 lembaga IPMIL Raya Independen, di antaranya IPMIL Raya UNIBOS, IPMIL Raya UMI, IPMIL Raya UNHAS, IPMIL Raya UNM, IPMIL Raya UNIFA, IPMIL Raya UNIMERZ, IPMIL Raya PNUP dan IPMIL Raya YPUP kembali turun ke jalan, Senin (18/4/2022) kemarin.
Aksi ini dimaksudkan untuk menindak lanjut polemik yang belakangan ini terjadi. Massa aksi yang berkumpul dan memulai titik Kumpul di Camp IPMIL Raya UMI tepatnya di Universitas Muslim Indonesia pada pukul 14.30 Wita melakukan long march sempai ketitik aksi di Depan Gedung DPRD Sulsel.
Massa Aksi yang sampai di gedung DPRD Sulsel pada pukul 15.30 Wita dengan menyanyikan lagu perjuangan, Orasi Ilmiah dan penyampaian puisi yang dilakukan oleh beberapa perwakilan dan tiap-tiap lembaga IPMIL Raya sebagai bentuk aspirasi terhadap pemerintah.
Sekira pukul 16.30 Wita, salah satu perwakilan dari Anggota DPRD Sulsel, H Syahruddin Alrif, yang juga sebagai Wakil Ketua 1 dari Fraksi NasDem menemui dan menyikapi tuntutan dari Aliansi Wija’ To Luwu,
“Sempat terjadi penolakan terhadap Salah satu perwakilan Anggota DPRD Sulsel yang menemui kami, karena kami mengharapkan ketua DPRD Provinsi Sulsel yang mau menemui kami,” kata Koordinator Humas Aliasan WTL Deni Arifin.
Lanjut dikatakan, setelah melakukan kesepahaman, akhirnya pihaknya sepakat untuk dibawa masuk ke dalam Ruang Aspirasi untuk menyampaikan tuntutan mahasiswa ini. Terdapat 8 orang perwakilan dari masing-masing lembaga IPMIL Raya yang dipersilakan untuk masuk ke dalam Ruang Aspirasi tersebut.
“Dialog yang berlangsung selama hampir 1 jam itu cukup mencekam karena aliansi menuntut untuk tetap menghadirkan Ketua DPRD Provinsi Sulsel, namun ada beberapa alasan yang saya pikir tidak patut diperdengarkan kepada kami, yaitu bapak Wakil Ketua 1 DPRD Sulsel mengatakan bahwa Ibu Ketua DPRD Sulsel enggan menemui kami dengan alasan sibuk,” ujar Deni Arifin.
“Masalahnya Ibu Ketua DPRD ini sibuk, adinda,” kata Syahruddin Alrif, seperti ditirukan Deni.
Setelah kurang lebih 1 jam lamanya dialog bersama Wakil Ketua 1 dan stafnya bersama kedelapan perwakilan lembaga serta TNI/Polri, akhirnya bernisiatif untuk menemui kembali massa demonstrasi untuk menyampaikan hasil dari dialog mereka.
“Kami menerima semua tuntutan adik-adik aliansi dan akan kami bahas bersama,” ujar salah satu staf DPRD Sulsel.
Sementara itu, Jendral Lapangan, Yandi mengatakan, dengan pernyataan Staf DPRD Sulsel tersebut membuat massa aksi tidak menerima begitu saja, apa yang disampaikan itu menurut mereka sudah sering terjadi saat menyampaikan aspirasi tanpa tindak lanjut yang jelas.
“Kami tidak begitu saja menerima karena mengingat aksi pada tanggal 11 April kemarin kasusnya seperti ini kami menyampaikan aspirasi dibawa kedalam ruangan aspirasi dan setelah itu tidak ada tindakan selanjutnya. Jika tuntutan yang kami bawa ini tidak di indahkan maka kami akan melakukan aksi berjilbab jilid,” tegas Yandi.
“Kemudian indikator kemajuan suatu wilayah dapat diukur dari kemapanan pendidikannya, sebab ketika pendidikan maju (layak) maka yakin dan percaya wilayah itu akan maju pula,” tutupnya.
Aliansi Wija’ To Luwu membawa tuntutan terhadap isu Nasional dan kedaerahan yang dinilai membawa efek buruk bagi masyarakat, terkhususnya Sulawesi Selatan dan Luwu Raya itu sendiri.
Berikut 7 tuntutan nasional dan 7 tuntutan kedaerahan yang disuarakan oleh Aliansi Wija’ To Luwu:
Isu Nasional
1. Menolak kenaikan PPN 11%
2. Ketimpangan ekonomi
3. Kelangkaan dan kenaikan BBM
4. Tumpas mafia minyak goreng
5. Copot menteri yang gombar-gemborkan 3 periode dan penundaan Pemilu
6. Wujudkan reformasi agraria
7. Evaluasi kinerja aparat dalam pengamanan demonstrasi
Isu Daerah
1. Menyikapi mafia tanah
2. Kriminalisasi akitvis lingkungan
3. Cabut MDOB Luwu Tengah
4. Menyikapi kelangkaan pupuk subsidi
5. Peran pemprov mereduksi konflik Organda
6. Hentikan eksploitasi tanah
7. Pemerataan sarana dan prasarana pendidikan
Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan