Bupati KKT Tinjau Langsung Beberapa Lokasi Bencana di Kota Saumlaki

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Saumlaki – Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) Petrus Fatlolon turun langsung meninjau apa sebenarnya yang menjadi penyebab terjadinya banjir dan longsor pada beberapa titik di kota Saumlaki setelah kembali dari Jakarta usai mengikuti acara Musrenbang tingkat nasional, Sabtu (11/5).

Peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di dalam kota Saumlaki itu diakibatkan karena curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa hari belakangan ini. Seperti yang telah diketahui bahwa banjir terkadang memiliki dampak buruk yang sangat luas yang sudah pernah terjadi di daerah – daerah lain sebelumnya.

Baca Juga

Namun pada dasarnya ada banyak cara untuk bisa mencegah banjir maupun longsor itu lewat program – program pemerintah dalam mengantisipati terjadinya bencana – bencana tersebut.

Biasanya di musim hujan, tanah akan sangat mudah longsor jika lereng bukit sangat terjal dan menurun. Dapat diprediksi bahwa dengan curah hujan yang cukup tinggi saat ini mudah sekali mengakibatkan terjadi banjir dan tanah longsor, seperti yang sudah terjadi di beberapa titik, misalnya di RT 004/RW 05 Gunung Nona – Saumlaki, yang secara langsung telah ditinjau oleh bupati Kepulauan Tanimbar kemarin.

Dalam pantauannya di lapangan, Petrus Fatlolon melihat masih banyak yang kurang dalam proses pembangunan infrastruktur di kota Saumlaki. Misalnya, saluran pembuangan air dari rumah – rumah warga menuju drainase induk yang mengalir langsung ke pantai. Akses jalan raya yang menghubungkan sebuah kompeks perumahan dengan jalan induk.

Di lokasi peninjauannya (lokasi longsor dan banjir), Bupati Kepulauan Tanimbar langsung memerintahkan dinas terkait untuk segera membantu warga sekitar yang mengalami bencana.

“Segera kita harus benahi semuanya. Kalau cuaca mendukung, hari Selasa atau Rabu besok kita langsung siapkan materialnya untuk dikerjakan. Soal pekerjanya bisa kita ambil dari dinas badan yang punya kemampuan untuk membatu mengerjakan, tapi warga juga diharapkan terlibat dalam perkerjaan tersebut,” ungkap Petrus Fatlolon.

Di lain sisi, saat mengunjungi lokasi banjir di belakang Kantor Pengadilan Negeri Saumlaki, disana terlihat hanya ada satu akses jalan raya dari perumahan warga menuju jalan induk, tepatnya jalan poros. Namun akses jalan tersebut masih berada diatas tanah milik warga yang telah bersertifikat. Langkah yang diambil saat itu yakni bupati langsung bernegosiasi dengan warga yang memiliki tanah tersebut untuk dapat memberikan sebagian tanahnya bagi pembangunan akses jalan baru.

“Kita akan bangun jalan disini untuk kebutuhan masyarakat sekitar, dan pastinya kita akan siapkan kelengkapan administrasinya dulu karena melibatkan pihak ketiga. Kita juga butuh bernegosiasi dengan warga masyarakat yang memiliki lahan disekitar sini, misalnya dengan pak Hery Thanjaya yang dengan rela mau memberikan tanahnya untuk dibangun jalan raya demi membantu warga di sekitar sini. Saya apresiasi terhadap beliau,” kata Petrus Fatlolon.

Pembangunan jalan tersebut direncanakan akan menghubungkan jalan poros dengan jalan poros kedua, dengan dua jalur sekaligus. Direncanakan lebar jalan yang akan dibangun itu mencapai 15 hingga 17 meter. Olehnya itu, diharapkan ada dukungan dari masyarakat sekitar yang memiliki lahan disana seperti Hery Thanjaya.

Pembangunan Proyek Drainase

Terkait persoalan banjir maupun genangan air di beberapa titik yang ada, Ketua DPC LAI KKT Jems Masela lebih menyoroti pada pekerjaan drainase yang mengakibatkan terjadinya genangan air tersebut. Misalnya di ruas jalan poros depan Kantor Dinas Perhubungan KKT. Genangan air tersebut diakibatkan karena tidak adanya saluran masuk ke dalam drainase sehingga terjadi genangan.

Selanjutnya pembangunan trotoar dan drainase di dalam kota Saumlaki. Dalam pelaksanaan pekerjaan drainase itu terkesan terburu – buru dan amburadul serta metode kerja yang tidak sesuai. Backesting setiap pengecoran tidak dibersihkan yang mengakibatkan sampah tertahan di dalam saluran hingga menghambat aliran air, kemudian box controlnya terlalu kecil, campuran pas, batu saluran tidak ada standar, elevasi saluran tidak seimbang, ukuran saluran dan tinggi saluran tidak sesuai bestek.

Menyinggung pekerjaan yang sudah berlalu, Jems Masela mengatakan tidak bermaksud untuk menjustice pemerintah, dalam hal ini Dinas terkait. Dia hanya mengoreksi tentang sistem pengawasan dari sebuah perencanaan yang telah dibuat dan dikerjakan, baik oleh dinas terkait maupun kontraktornya. Agar kedepan nantinya pelaksanaan sebuah proyek tidak terkesan asal – asalan dan amburadul, seperti pekerjaan trotoar dan draenase di kota Saumlaki saat ini.

Untuk itu harapannya adalah Bupati Kepulauan Tanimbar kedepanya nantinya berkenan memerintahkan dinas terkait untuk melakukan transparansi anggara sebuah proyek pembangunan di KKT ini bagi LSM, Lembaga Pers, dan masyarakat untuk sama – sama mengontrol dan mengawasi agar proyek – proyek tersebut benar – benar sesuai dengan kontrak dan bestek, dan bukan terkesan seperti Proyek Mercusuar semata yang dapat dilihat namun tidak bisa dinikmati. (MK)

Berita Menarik Lainnya