Inpex Masela Diharapkan Patuh pada UU Migas No 22 Tahun 2001

  • Whatsapp
Ilustrasi (Dok Int).

SimpulRakyat.co.id, Saumlaki – Mencermati hasil survei oleh Inpex Masela pada beberapa titik di Pulau Yamdena, dalam penetapan Plan of Develoment (PoD), diharapkan agar Inpex Masela tidak salah menentukan tempat sehingga akan terjadi sebab akibat dari pelanggaran UU Migas No 22 tahun 2001. Disalah satu titik yang masuk dalam survei terdapat beberapa Cagar Alam Maupun Cagar Budaya yang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Dari hasil penemuan tim investigasi Lembaga Aliansi Indonesia – Badan Penelitian Aset Negara (LAI – BPAN) Maluku Tenggara Barat (MTB) beberapa hari lalu di desa Lermatan, menemukan beberapa benda cagar alam dan cagar budaya disana. Antara lain terdapat sebuah Gereja Tua yang sudah berumur ratusan tahun dan hingga saat ini masih dipergunakan sebagai tempat beribadah.

Baca Juga

Ada juga sebuah Sumur Tua yang merupakan tempat keramat bagi masyarakat setempat. Sumur tersebut diperkirakan sudah ada sejak tahun 1800an, dan masih mempunyai kekuatan magic yang begitu luar biasa. Ada juga kampung tua (Kampung Batlayar) yang berada di ujung tanjung Ndondoke Ni Weye dan masih terdapat beberapa tengkorak kepala manusia disana, dan masih banyak lagi.

Terkait dengan benda – benda di atas, Inpex Masela diharapkan wajib dan patuh pada ketentuan UU 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi agar kedepan nantinya tidak terjadi masalah serius di kemudian hari karena saat ini, Cagar Alam dan Cagar Budaya di desa Lermatan sudah menjadi perhatian serius lembaga DPRD MTB.

Emma Labobar wakil ketua DPRD MTB, dalam keterangannya kepada media SimpulRakyat.co.id mengatakan bahwa mengenai cagar alam dan cagar budaya di desa Lermatan, Inpex Masela diminta untuk melihat nilai – nilai historisnya.

“Inpex harus hormati benda – benda itu dan jangan sekali – kali disepelekan,” ujarnya.

Hal yang sama juga diserukan oleh Piet Kait Taborat sebagai wakil ketua DPRD MTB. “Kita akan perjuangkan agar benda – benda cagar alam dan cagar budaya di desa Lermatan itu tetap terjaga” ujarnya.

Piet Kait (panggilan akrabnya) juga menjelaskan bahwa, sebuah bangunan untuk bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya harus memenuhi kriteria berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Selain itu, bangunan tersebut juga harus melalui tahap-tahap pemeriksaan sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya dan dicatat di Register Nasional Cagar Budaya.

Adrial Wilde, sebagai Maluku Representatif Inpex Masela, ketika dihubungi wartawan SimpulRakyat.co.id belum bisa menjelaskan berbagai macam polemik terkait isu – isu yang berkembang di masyarakat MTB saat ini. Olehnya itu, Inpex Masela diminta agar selalu berkoordinasi dengan semua pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat lokal setempat agar semuanya berjalan sesuai ketentuan perundang – undangan yang berlaku.

Reporter: Marcel Kalkoy

 

Berita Menarik Lainnya