SimpulRakyat.co.id. Luwu – Pemerintah Kabupaten Luwu menerima kunjungan kerja dan menggelar dialog multipihak terkait Integrated Landscape Management (ILM) atau Pengelolaan Lanskap Terpadu. Kegiatan berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Luwu, Luwu (04/2026).

Rombongan dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, didampingi Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Sekretaris Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Nandang Prihadi, serta Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri.

Dalam sambutannya, Bupati Luwu, Patahudding, menyampaikan bahwa Luwu merupakan salah satu sentra kakao terbesar yang pernah berjaya dan menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Kami berharap dukungan pemerintah pusat dapat mengembalikan kejayaan tersebut melalui bantuan bibit unggul, penanganan penyakit tanaman, hingga penguatan hilirisasi,” ujar Bupati.

Selain kakao, Bupati juga menyoroti potensi besar di sektor pangan. Luwu dikenal memiliki produksi padi yang tinggi, namun nilai tambahnya belum maksimal dirasakan di daerah karena pengolahan masih terbatas.

“Sebagian besar gabah masih keluar daerah. Kami berharap ada dukungan infrastruktur pengolahan agar manfaatnya bisa dinikmati masyarakat secara optimal,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan hulu sungai, melalui pengembangan tanaman produktif yang sekaligus meningkatkan ekonomi warga.

Sementara itu, Leonardo dari Bappenas menekankan bahwa pendekatan ILM menjadi kunci dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

“Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan darat dan laut secara terintegrasi, sehingga mampu mendorong produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Nani Hendiarti yang menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak. “Keberhasilan program sangat ditentukan oleh sinergi pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat agar komoditas unggul bisa kembali berdaya saing,” ujarnya.

Di sisi lain, Nandang Prihadi mengingatkan pentingnya konservasi dan skema Perhutanan Sosial, sementara Kuntoro Boga Andri menyoroti penguatan kapasitas petani dan sistem ketelusuran (traceability) untuk meningkatkan nilai jual produk.

Usai dialog, rombongan melanjutkan kegiatan ke Desa Sampeang, Kecamatan Bajo Barat. Dilaksanakan peninjauan lapangan sekaligus penyerahan dan penanaman simbolis bibit kakao kepada masyarakat setempat.