SimpulRakyat.co.id, Opini – Bagi Achmad Kusman, menjadi jurnalis bukan alasan untuk berhenti berusaha. Di sela kesibukannya meliput dan menyusun berita, ia menekuni dunia peternakan sapi. Selama lima tahun, usaha ini dijalankan sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi keluarga sekaligus membuktikan bahwa desa menyimpan peluang yang layak dikembangkan.

Kisahnya bermula dari pengamatan sederhana di Desa Tallang Bulawang, Kabupaten Luwu. Ia melihat lahan persawahan yang produktivitasnya sangat bergantung pada curah hujan, hanya mampu menghasilkan panen sekitar dua kali dalam tiga tahun.

Kondisi itu membuatnya berpikir, potensi lingkungan tidak boleh hanya dilihat dari apa yang dipanen di sawah. Ada sumber daya lain yang bisa dikembangkan. Dari sinilah, peternakan sapi mulai dilirik sebagai peluang usaha.

Rumput ilalang dan vegetasi di sekitar lahan dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Dengan memadukan pakan alami dan tambahan, ia menyesuaikan pola pemeliharaan dengan kondisi lingkungan setempat.

Tentu usaha ini tidak tanpa tantangan. Ketersediaan pakan, air, perawatan, hingga pengaturan lokasi menjadi hal yang harus diperhatikan setiap hari. Namun bagi Achmad, usaha tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang ada di sekitar cukup menjadi titik awal, asalkan ada kemauan belajar dan konsisten menjalaninya.

Lima Tahun Menekuni Usaha, Puluhan Sapi Telah Terjual

Selama lima tahun, peternakannya berkembang secara bertahap. Puluhan ekor sapi telah terjual dengan nilai penjualan mencapai ratusan juta rupiah. Meski angka itu belum tentu sama dengan keuntungan bersih, perjalanan ini memberinya pelajaran berharga.

“Peluang ekonomi di desa tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Terkadang peluang itu justru ada di depan mata, namun belum banyak yang berani memulainya,” ujarnya.

Peternakan juga menjadi ruang belajar kedisiplinan, pengelolaan waktu, dan pentingnya mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang matang.

Dua Jam Sehari, Jaga Keseimbangan Tugas dan Usaha

Menjalankan dua peran sekaligus menuntut pengaturan waktu yang cermat. Kegiatan pemeliharaan harian disiasati cukup sekitar dua jam sehari, mulai dari memberi pakan, menyediakan air, hingga memindahkan ternak secara berkala.

Karena terdapat perkebunan warga di sekitar, sapi tidak dibiarkan berkeliaran bebas. Ternak diikat dan dipindahkan secara teratur agar tidak merusak tanaman milik tetangga. Cara ini menjaga usaha tetap berjalan tanpa mengganggu kepentingan masyarakat sekitar.

Bagi Achmad, kuncinya sederhana: kedisiplinan dan prioritas. Menekuni usaha sampingan bukan berarti mengurangi tanggung jawab sebagai jurnalis. Keduanya harus dijalankan dengan batas yang jelas.

Menjadi Jurnalis Bukan Sekadar Memegang Kartu Pers

Pengalaman berwirausaha justru memperkuat pandangannya tentang profesi jurnalisme.

“Menjadi wartawan tidak cukup hanya dengan memiliki kartu pers atau mengenal banyak pejabat. Seorang jurnalis dituntut mampu menggali informasi, memverifikasi fakta, dan menyajikan berita yang berimbang serta dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Integritas, kata dia, adalah fondasi utama kepercayaan publik. Pers berfungsi sebagai kontrol sosial, namun fungsi itu harus dijalankan secara profesional dan tidak boleh dijadikan alat tekanan demi keuntungan pribadi.

Apabila menemukan dugaan penyimpangan, wartawan wajib mengumpulkan bukti, memeriksa kebenaran, meminta konfirmasi, dan menyajikan berdasarkan fakta. Kritik harus berdasar, konfirmasi adalah keharusan, dan kepentingan publik adalah yang utama.

Desa Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Kisah ini juga mengajak generasi muda Luwu untuk tidak terburu-buru menganggap peluang ekonomi hanya ada di kota. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan memiliki potensi besar asalkan dikelola dengan pengetahuan, perencanaan, dan pemahaman pasar yang baik.

“Keberanian memulai perlu disertai perhitungan. Pahami kebutuhan operasional, risiko, dan cara memasarkan hasilnya. Tanpa perencanaan yang matang, potensi besar belum tentu menghasilkan keuntungan,” ujarnya.

Ia berpesan, tidak perlu menunggu modal besar untuk memulai. Mulailah dengan memetakan sumber daya yang tersedia di sekitar, pelajari kebutuhan pasar, lalu tentukan usaha yang sesuai kemampuan.

Khusus bagi insan pers yang juga berwirausaha, satu hal yang tidak boleh dilupakan: independensi. Kepentingan bisnis tidak boleh memengaruhi objektivitas pemberitaan. Kepentingan pribadi harus dipisahkan dari tugas jurnalistik.

Tidak Hanya Mengkritik, tetapi Juga Membangun

Bagi Achmad Kusman, pers yang kritis tetaplah kebutuhan masyarakat. Namun di saat yang sama, pola pikir produktif juga penting. Membangun kemandirian ekonomi adalah ikhtiar yang sejalan dengan tanggung jawab sosial.

Perjalanan lima tahun mengajarkannya, hasil tidak datang dengan instan. Ada proses, risiko, dan ketekunan yang harus dijalani. Dari lapangan berita ke kandang sapi, dua dunia yang berbeda namun sama-sama menuntut tanggung jawab, kejujuran, dan konsistensi.

Pada akhirnya, peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang mencolok. Terkadang ia tumbuh sederhana di sekitar kita, menunggu untuk dilihat, dipelajari, dan dikelola dengan sungguh-sungguh.