SimpulRakyat.co.id, Jeneponto – Sabtu (16/8/2025) pagi, halaman TK Negeri Pembina Jeneponto mendadak berubah menjadi arena pesta kecil. Bendera-bendera merah putih berkibar di setiap sudut, anak-anak berlarian dengan tawa riang, sementara orang tua dan guru bersorak memberi semangat. Udara penuh warna perayaan, penuh dengan rasa gembira khas lomba 17-an.
Di antara keramaian itu, satu momen sederhana mencuri perhatian banyak pasang mata. Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, tampak menggendong putrinya sambil didampingi sang istri. Ia ikut berbaur dalam Lomba Tancap Bendera Merah Putih – perlombaan tradisional yang biasanya hanya diikuti anak-anak dan orang tua mereka.
Tidak ada jarak antara seorang pejabat dengan warganya. Islam Iskandar berlari kecil mengikuti aturan permainan, tersenyum lebar, dan sesekali mengusap kepala putrinya yang tampak malu-malu. Bagi sebagian penonton, adegan itu terasa mengharukan. Seorang pejabat publik, yang sehari-harinya disibukkan dengan urusan birokrasi, hari ini melebur sebagai ayah biasa – hadir penuh untuk anaknya.
“Ini teladan yang indah. Semangat beliau ikut lomba bersama anak-anak membuat orang tua lain merasa termotivasi untuk lebih terlibat,” kata Kepala TK Negeri Pembina, Rosdiana, dengan mata berbinar.
Di sudut lain, guru-guru sibuk menyiapkan lomba balap karung, tarik tambang, dan estafet bendera. Semua berlangsung meriah, penuh tawa, namun tak kehilangan makna. Nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan cinta tanah air ditanamkan dengan cara sederhana – melalui permainan yang membuat anak-anak bahagia.
Islam Iskandar sendiri tampak larut dalam keriuhan. “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk membangun karakter anak-anak kita. Semoga momentum HUT RI semakin mempererat semangat kebangsaan,” ujarnya, masih menggendong putrinya yang saat itu tersenyum lebar.
Hari ini, di bawah kibaran Merah Putih, kemerdekaan terasa begitu dekat dan hangat. Ia hadir dalam tawa anak-anak, sorak dukungan orang tua, dan pelukan seorang ayah yang kebetulan juga seorang wakil bupati. Sebuah pengingat, bahwa semangat nasionalisme kadang lahir dari momen paling sederhana.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini semula merupakan straight news yang kemudian dikembangkan oleh redaksi menjadi feature.


Tinggalkan Balasan