SimpulRakyat.co.id, Gowa – Upaya membumikan keadilan iklim terus digelorakan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Lewat pendekatan ecofeminisme, gerakan ini menggandeng pemuda lintas iman untuk membangun kepemimpinan yang inklusif dan responsif terhadap isu krisis iklim.

Bertempat di Desa Manimbahoi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, program inisiasi kepemimpinan pemuda ini dilaksanakan pada Sabtu (10/5/2025).

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur pemuda dan mahasiswa dari latar belakang agama yang berbeda.

Focal Point Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulsel, Elbu Bahtiar, menjelaskan bahwa pendekatan ecofeminisme dipilih karena menempatkan keadilan lingkungan sebagai isu yang tidak terpisahkan dari keadilan sosial, khususnya bagi kelompok rentan, termasuk perempuan.

“Edukasi langsung ke masyarakat sangat penting agar mereka memahami penyebab dan dampak dari krisis iklim. Dari situ kita bisa bersama-sama menyiapkan solusi dan mendorong kebijakan yang berpihak pada warga di wilayah rawan bencana,” ujar Elbu.

Desa Manimbahoi dipilih sebagai lokasi kajian karena berada di kawasan rawan bencana. Letaknya yang berada di hulu Sungai Je’neberang dan di bawah kaki Gunung Bawakaraeng menjadikan desa ini rentan terhadap bencana alam seperti longsor dan banjir.

“Melalui dialog bersama warga, kita ingin menggali kebutuhan nyata masyarakat. Harapannya, pemerintah setempat bisa mengaktualisasikan kebutuhan tersebut, terutama dalam upaya mitigasi bencana,” tambah Elbu.

Kondisi kesiapsiagaan warga Desa Manimbahoi pun disoroti. Ainun Mutmainna, salah satu pengurus KNPI Kecamatan Parigi, mengungkapkan bahwa fasilitas pendukung mitigasi bencana masih minim, termasuk jalur evakuasi dan pelatihan tanggap darurat.

“Pelatihan terakhir digelar BPBD pada 2022. Setelah itu, tidak ada lagi upaya peningkatan kapasitas masyarakat. Padahal kesiapsiagaan ini sangat penting, mengingat desa ini cukup rawan,” ujar Ainun.

Sementara itu, Sekretaris Desa Manimbahoi, Saharuddin, menyambut baik inisiatif yang dilakukan Eco Bhinneka Muhammadiyah. Ia menilai kehadiran pemuda lintas iman bisa menjadi kekuatan moral dan sosial dalam membangun kesadaran kolektif menghadapi krisis iklim.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini. Krisis iklim sudah sangat terasa, cuaca sulit diprediksi. Pemerintah desa siap mendukung upaya-upaya yang konkret dari anak muda untuk menghadirkan keadilan iklim di daerah rawan bencana seperti kami,” jelasnya.

Gerakan Eco Bhinneka Muhammadiyah sendiri merupakan bagian dari inisiatif nasional untuk menguatkan kolaborasi lintas iman dalam isu-isu lingkungan hidup. Melalui pendekatan yang mengedepankan empati, kesetaraan, dan aksi nyata, gerakan ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara keadilan sosial dan keadilan ekologis. (**)