SimpulRakyat.co.id – Vita brevist est, hidup ini memang singkat. Jacobus Renrusun, “suami, ayah, kakak, sang guru dan pendidik,” SMA Sanata Karya Langgur telah pergi. Ia telah melintasi puncak kehidupan, bergerak dari dunia fisik ke dunia abstrak, dari dunia paling riil ke dunia paling abstrak, dari dunia fakta ke dunia makna. In memoriam yang ditujukan kepadanya menjadi penanda gerak “Pak Guru Jack,” begitu disapa para muridnya, bahkan siapa saja dalam relasi sosialnya.
Sejak tahun 1970-an, sepeda itu diayun melewati pesisir pantai Wearlilir, melewati Katedral menuju SMA Sanata Karya (SMA SAKA) tempat mengabdi pergi-pulang sampai maut menjemputnya. Ribuan siswanya telah diajari berbagai ilmu pengetahuan terlebih bagaimana mendidik dan membentuk karakter siswanya hidup dalam kedisiplinan, mulai dari bangun tidur sampai istirahat pada malam hari.
Hari itu, Selasa 18 Oktober 2022, sang pengayun sepeda itu telah pergi untuk selamanya. Dasar biologis korporal mengalami ketiadaan. Situasi batas “Pengayun Sepeda Tua” dialami sebagai maut. Vita brevist est sebuah situasi yang sulit dijelaskan dan hanya sampai pada suatu pengakuan akan dimensi tak tertangkap dan tak terpahami yang terungkap dalam peristiwa kepergian suami, ayah, kakak, guru dan pendidik di Tanah Evav.

Vita brevist est sebuah refleksi ketiadaan seorang kakak dalam realitas hidupku sebagai seorang adik kandung dari istri almarhum Jacobus Renrusun yaitu Anisia Renyaan. Bahwa kebertubuhan eksistensi manusia mengandung “keniscayaan untuk mati.” Kebertubuhan seorang kakak Jack Renrusun, sapaan akrab semua orang, secara niscaya ditandai dengan kematian, demikian juga hal yang sama akan dialami semua orang tanpa terkecuali.
Vita brevist est dalam peristiwa ketiadaan seorang kakak, menyadarkanku akan sebuah realitas hidup kala itu, kakak Jack Renrusun menjadi sosok guru yang penuh dedikasi, disiplin mengajar dan mendidik siswa tanpa perbedaan, menekankan moderasi hidup dalam implementasi relasi sosial ketika pemikir primordial merasuk hidup manusia beragama sempit.
Vita brevist est ketiadaan seorang kakak, meluluh-lantahkan semua harapan dan impian akan sosok yang giat berkebun, ke laut mencari ikan, memotivasi semua orang terutama para siswa yang datang dari Tanimbar Kei, Nuhu Yuut, Nuhu Roa, Dobo bahkan dari daerah lain yang mengenyam pendidikan di SMA SAKA, sebuah sekolah milik Keuskupan Amboina yang unggul sejak dulu sampai kini dalam menelorkan manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.
Vita brevist est ketiadaan kakak Jack, sebuah kemustahilan untuk mengungkapkan hidup pribadi dalam dunia, perwujudan cinta dalam keluarga yang dikasihi, ketakmungkinan mengulang kembali nostalgia kasih-sayang seorang suami bagi kakakku Anisia Renyaan, bagi adik- kakak, anak – anak, keluarga besar dan semua orang yang dijumpai.
Vita brevist est ketiadaan kakak Jack, sebuah visi yang visioner diadopsi dalam realitas penghayatan hukum Larvul Ngabal, dengan falsafah hidup “Ain Ni Ain, Vuut Ain mehe Ngivun Manut Ain mehe tilur” yakni kasih sayang, persaudaraan diantara sesama tanpa memandang agama dan suku. Ketika kubelajar mandiri dari hasil didikan seorang kakak untuk berkarya di luar Tanah Leluhur, Tanat susbeb, Tanat Lar Fatnim, Tanat Evav.
Vita brevist est ketiadaan kakak Jack, sebuah pertanyaan refleksif buatku, “Mungkinkah sebuah ketiadaan substansial dalam realitas fisik, sebuah pernyataan yang sepertinya belum bisa diterima?” Sebuah permenungan diri sebagai adik, pada akhirnya kuimani bahwa ketiadaan merupakan sebuah peristiwa alami karena kondisi kebertubuhan kakak termasuk semua orang. Namun keatiadaan itu sebuah peristiwa iman dimana kesatuan antara unsur tubuh yang fana dapat binasa namun jiwa kini berada dalam keabadian yang tak binasa.
Vita brevist est, seorang kakak Jack telah melanglang buana jauh dengan sepedamu menuju Dia yang menciptamu. Itu sebabnya ketiadaanmu tidak memupus harapan kami semua dalam iman akan Yesus yang bangkit mendahuluimu dalam keabadian.
Doa dan harapanku bersama Kakak Anisia Renyaan dan keempat keponakan terkasih, merelakan ketiaadaan ini dalam keabadian jiwa bersama Sang Penciptamu. Sepeda itu tidak lagi melewati Katedral tempat Dia bersemayam di atas tahkta singgasana. Justeru Di Katedral, sepeda itu berhenti karena Dia telah siap menyambut kedatangan Kakak Terkasih.
Penulis: Fransiska Renyaan


Tinggalkan Balasan