SimpulRakyat.co.id, Gowa –  Seiring dengan berjalannya waktu tanpa melupakan sejarah perlu adanya pelestarian demi tetap terjaganya cagar budaya di Indonesia, agar tidak termakan oleh zaman.

Diketahui, pada tahun 1525 silam, dibangun benteng utama dari Kerajaan Gowa dimasa kepemimpinan Sultan Gowa IX, Daeng Matenre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna.

Pada masa itu, Benteng Somba Opu masih terbuat dari tanah liat. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Raja Gowa XI, Tunipallangga Ulaweng, Benteng Somba Opu diperkuat dengan mendirikan dewata (bastion) dan dipersenjatai dengan meriam.

Perbaikan dan pembangunan Benteng Somba Opu itu terus diperkuat hingga Raja Gowa XII, Karaeng Tunijallo dan diberi batu bata oleh Sultan Alauddin, kemudian disempurnakan dan dijadikan benteng induk, serta pusat pemerintah Kerajaan Gowa di masa Sultan Hasanuddin.

Perkembangannya, Kota Somba Opu semakin pesat dan menjadi salah satu kota niaga yang sangat terkenal di Asia Tenggara. Pada wilayah dalam benteng menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Gowa-Tallo melawan penjajah.

Saat ini, Benteng Somba Opu menjadi kawasan argowisata karena dibangunnya kumpulan rumah adat dari seluruh Sulawesi Selatan.

Pembangunan rumah adat ini mencerminkan bahwa zaman dahulu kala terdapat sebuah kerajaan yang menyatukan Sulawesi Selatan.

Keberadaan Benteng Somba Opu dapat menyatukan Sulawesi Selatan, namun kondisi benteng tersebut saat ini cukup memprihatinkan, hal itu dibuktikan dengan terdapat banyak kerusakan pada beberapa bagian bangunan.

Berdasarkan pertimbangan kondisi benteng tersebut, Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (HMS FT Unismuh) Makassar berinisiasi mengadakan kegiatan pelestarian dan konservasi berupa seminar nasional dan culture care, mengusung tema “pelestarian dan konservasi bangunan bersejarah untuk mewujudkan cagar budaya yang berkelanjutan bagi generasi masa depan bangsa Indonesia.”

Kegiatan ini berlangsung di lapangan situs Benteng Somba Opu, Jl Dg Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (11/11) kemarin.

Culture care yang digelar Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar di lapangan situs Benteng Somba Opu, Jl Dg Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa.

Kepada media ini, panitia pelaksana kegiatan yang dimoderatori Andi Annisa Amalia menerangkan, kegiatan culture care, yaitu para tamu yang hadir di acara tersebut turun langsung ke lapangan untuk memasang papan imbauan sebagai cindera mata.

Sekadar diketahui, kegiatan ini diadakan  pada tanggal 11 November setiap tahunnya, diperingati sebagai hari bangunan Indonesia.

“Inilah momentum yang sangat pas untuk mengedukasi para generasi masa depan bangsa Indonesia agar terus memelihara, merawat, serta melestarikan bangunan-bangunan bersejarah dan sebagai langkah utama untuk tetap menjaga keutuhan cagar budaya bangunan bersejarah Benteng Somba Opu ini,” terang panitia.

Acara ini juga dihadiri oleh pemerintah setempat seperti Camat, Sekertaris Lurah dan tokoh masyarakat, serta dihadiri beberapa perwakilan kampus lainnya dengan menerapkan protokol kesehatan berupa penyediaan handzanitizer, masker dan jaga jarak.

Suasana Seminar dan Culture Care 

Seminar nasional dan culture care yang digelar Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar di lapangan situs Benteng Somba Opu, Jl Dg Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (11/11). (Foto: Ist).

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, di antaranya, Pamong Budaya Ahli Muda, Adang Sujana dan Tenaga Ahli Pemugaran Cagar Budaya, Ahmad Mawardi, dipandu langsung oleh moderator Andi Annisa Amalia.

Dalam seminar ini, Adang Sujana mengatakan, pelestarian bangunan cagar budaya ini bisa menjadi wujud nyata untuk sinergitas bagi para stakeholder yang terkait untuk memanfaatkan ataupun melestarikan bangunan tersebut.

“Adapun cagar budaya itu yang bersifat rapuh sehingga perlu di lestarikan agar tidak terlekang oleh waktu, dalam pelestarian bangunan bersejarah apabila ingin dilestarikan bangunan ini perlu dinaikkan menjadi cagar budaya agar bisa dijaga,” kata Adang Sujana.

Sementara itu, Ahmad Mawardi menjelaskan, adanya hari bangunan Indonesia yang bertepatan pada hari ini, ia berharap kedepan ada kurikulum yang fokus pada pelestarian cagar budaya.

“Semoga setelah adanya kegiatan konservasi Benteng Somba Opu, nanti sudah ada kurikulum untuk melestarikan cagar budaya, serta dapat diterima dengan baik dan diimplementasikan kepada masyarakat tentang pelestarian cagar budaya,” jelas Ahmad.

Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Gowa mengatakan, momentum yang sangat tepat dengan adanya hari bangunan Indonesia untuk melakukan kegiatan yang mengangkat tema pelestarian dan konservasi bangunan bersejarah.

“Kami sangat mengapresiasi kepada panitia pelaksana kegiatan ini, dengan antusiasnya ingin menelaah sampai sejauh mana kita harus merestorasi kembali Benteng Somba Opu ini tanpa harus merubah struktur dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Benteng Somba Opu,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata Gowa ini.

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata Sulsel, Andi Hasnul Hasanuddin mengapresiasi kegiatan ini dengan inisiasi dari pelaksana kegiatan, yaitu Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

“Benteng (Somba Opu-red) 2022 akan menjadi sebagai warisan budaya tingkat nasional. Kita akan berikan penjelasan ke masyarakat terkait Benteng Somba Opu ini nanti akan dikelola oleh Balai Cagar Budaya Benteng Somba Opu secara independen,” pungkas dia. **

Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita