Ini yang Dilakukan HM-Mainforaksi dalam Membentuk Mahasiswa Berkarakter

  • Whatsapp
Haeruddin pemateri kesekretariatan pada Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) HM-Mainforaksi angkatan 2019.

SimpulRakyat.co.id, Makassar – Selama menjalani masa perkuliahannya, mahasiswa memperoleh pembinaan intelektual, mental dan spiritual. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa atau biasa disebut dengan LDKM itu sebagai sarana yang efektif membentuk mahasiswa berkarakter, memiliki peran untuk melakukan pembinaan mental dan spiritual mahasiswa.

Kepemimpinan merupakan kekuatan utama dibalik suksesnya organisasi, dan bahwa untuk menciptakan organisasi yang vital dan langgeng diperlukan kepemimpinan untuk menolong organisasi menemukan visi baru tentang apa yang akan terjadi serta memobilisasikan organisasi kearah visi baru tersebut.

Baca Juga

Himpunan Mahasiswa Manajemen Informatika dan Komputerisasi Akuntansi (HM-Mainforaksi) STMIK Handayani Makassar gelar Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang berlangsung di Kampus STMIK Handayani Makassar, Kamis (22/11/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota HM-Mainforaksi angkatan Neraca 2019 selama 3 hari dimulai dari tanggal 21-23 November 2019.

Sudarmanto selaku Ketua Umum HM-Mainforaksi mengatakan bahwa pemimpin memegang peranan penting dalam suatu organisasi dan pemimpin tidak lahir dengan sendirinya, namun ada wadah untuk pembinaan pemimpin dan LDKM sebagai wadah untuk pembinaan itu sendiri sehingga bermunculan bibit-bibit pemimpin yang berguna untuk organisasi.

“Dengan mengikuti LDKM, diharapkan kredibilitas dan eksistensi mahasiswa akan selalu bermanfaat bagi lingkungannya. Setelah kegiatan LDKM , idealnya dilakukan evaluasi agar penyelenggaraan LDKM di tahun berikutnya selaras dengan perkembangan di lingkungan kampus serta dunia kemahasiswaan pada umumnya,” jelas dia.

Sementara itu, Mirfan selaku Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama mengatakan bahwa pelaku organisasi bukan diukur seberapa sering berdiskusi tapi seberapa banyak karya yang dihasilkan dari diskusi itu.

“Artinya sebagai aktor dalam organisasi harus mampu memberikan kontribusi pemikiran yang nantinya akan diimplementasikan sebagai program kerja bukan hanya sebatas kata-kata indah,” pungkas dia.

Penulis: Rafiuddin

Disarankan Untuk Anda :