SimpulRakyat.co.id, Luwu – Bangkitnya perekonomian kabupaten Luwu dari sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) semakin jelas terlihat.

Hal itu dibuktikan dari menjamurnya usaha-usaha kuliner baik di pusat kota, maupun di ruas-ruas jalan kecamatan, dengan mudah kita temui.

Sejumlah pedagang memanfaatkan lokasi pekarangan rumahnya, namun ada pula memanfaatkan tempat umum seperti emperan jalan, lapangan, pasar, maupun sekitaran objek wisata.

Di kota belopa sendiri, saat ini terdapat tiga lokasi yang menjadi pusat kuliner, diataranya Pelataran Baruga Senga, Pelataran Simpur Siang dan juga Cafe Countainer. Ketiga lokasi ini memiliki karakteristik konsumen yang cenderung berbeda.

Cafe Countainer dikenal sebagai tempat bekumpul sejumlah komunitas seperti bola, catur, bikers, maupun pejabat – pejabat penggemar kopi. Sedangkan, Pelataran Arung Senga dikenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman, pemerhati sejarah, hingga budayawan. Sementara, Pelataran Simpur Siang hadir dengan keberagaman kulinernya.

Pelataran Simpur Siang, dengan bentuk lapak yang terbilang unik dan beragam menjadi daya tarik konsumen. Sejumlah tenant dibentuk seperti countainer, adapula berbentuk box. Kuliner yang dijajakan juga bervariatif mulai makan seperti gado-gado, nasi kuning, empek – empek, bakso bakar, sosis, roti bakar, kentang goreng, dan pisang nuget. Untuk minuman, mereka menyuguhkan Kopi dengan sejumlah varian, Thai Tea, Green Tea, Coklat, Milo, dan masih banyak lainnya.

Jika anda datang kesini, tidak perlu was-was, karena harga yang dipasang terbilang murah. Mulai dari harga 10 hingga 20 ribu rupiah saja.

Dengan sentuhan lampu hias menambah indahnya suasana malam di Pelataran Simpur Siang. Sehingga tidak jarang, muda mudi yang datang ketempat tersebut, betah mengabiskan waktu berjam-jam sembari menikmati kuliner yang ada.

Sayangnya, pemandangan indah tersebut tidak dapat terlihat di siang hari. Tempat berdagang yang buka dari sore hingga malam, nampak kumuh setelah ditinggal pedagang di siang hari. Hal tersebut disinyalir belum adanya penegakan aturan yang jelas dari pihak terkait.

Berbeda dengan Pelataran Simpur Siang, Pelataran Baruga Arung Senga nampak lebih tertata. Dikelola oleh pihak ke-3, 35 tenant dibangun semi permanen diatas tanah seluas 30 are. Bersusun dari arah timur memanjang ke barat menyerupai bentuk “L”. Bentuknya yang hampir seragam dan lebih artistik dengan sentuha- sentuhan seni memberikan banyak pilihan tempat berfoto yang instagramabel.

Di tengah deretan bangunan itu, terdapat sanggar yang kerap menjadi titik pementasan seni di lokasi tersebut.

Selain menyuguhkan kuliner yang beragam, Pelataran Baruga Arung Senga juga menyuguhkan berbagai hiburan seperti pembacaan puisi, tari-tarian, lagu daerah, maupun cerita rakyat. Hiburan tersebut biasanya ditampilkan di malam-malam akhir pekan.

Selain dari kalangan seni dan budaya, lokasi tersebut menjadi tempat bagi para komunitas motor, relawan sedekah sedarah (rela sedarah), untuk bersantai.

Pelataran Baruga Arung Senga hingga kini masih terus dibenahi. Kedepannya, akan dibangun perpustakaan mini untuk lebih meningkatkan budaya literasi di kalangan muda-mudi wija to Luwu.

“Saat ini kita masih terus berbenah, kita mau bangun toilet disini, kita juga mau bangun perpustakaan, supaya orang – orang yang datang bisa lebih dekat dengan buku, bisa meningkatkan budaya literas, jadi kita harap kedepannya orang semakin rajin membaca,” kata Jaya Lobow selaku pengelola.

Jika pelataran Simpur Siang ramai dengan pengunjung milenials, dan Pelataran Baruga Arung Senga menjadi tempat nyaman bagi pemerhati seni dan budaya, maka Cafe Countainer lebih dikenal ramai dikunjungi oleh kaum pejabat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah pejabat pemerintah, anggota dewan, hingga penegak hukum kerap memenuhi tempat tersebut setelah jam kantor.

Tempat tersebut menjadi wadah diskusi positif bagi para pengunjung sembari menikmati hidangan kue tradisonal.
Memantik pemulihan ekonomi di tengah pandemi menjadi alasan awal berdirinya Cafe Countainer sejak tiga bulan yang lalu.

Meski menjajalkan kuliner pada umumnya, namun Cafe Countainer lebih aktif mendorong penjualan kuliner tradisional seperti kue Gambung, Doko – doko, Burongko, serta minuman tradisional seperti sarabba. Selain dari kuliner, cafe Countainer juga siap menampung produk-produk UMKM jika ingin dipasarkan.

Hanya saja, konsumsi publik saat ini masih fluktuatif. Hanya ramai pada tanggal-tanggal muda saja.
Menjamurnya UMKM di Kabupaten Luwu disebut turut berperan dalam mendorong perputaran roda ekonomi.

Hanya saja, masih diperlukan regulasi yang jelas, baik dari kalangan dewan maupun pihak terkait guna memberikan kejelasan aturan bagi pengusaha maupun pengelola kawasan-kawasan kuliner tersebut. Baik dalam hal limbah, penataan, maupun retribusi.

Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita