SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Menanggapi pemberitaan terkait amblasnya lantai di Gedung Layanan Perpustakaan Kabupaten Pangkep yang dibangun dengan anggaran Rp 9,8 miliar, pihak pelaksana proyek memberikan klarifikasi bahwa kerusakan tidak terjadi pada struktur utama gedung, melainkan pada bagian rabat halaman luar.

Sardi M, pengawas pelaksana proyek, menyatakan bahwa kerusakan terjadi pada area seluas sekitar 1 meter persegi di bagian luar bangunan, tepatnya di atas timbunan tanah halaman. Ia menegaskan bahwa bagian dalam gedung, termasuk lantai satu dan dua, tidak mengalami kerusakan.

“Kerusakan tersebut muncul setelah proyek selesai dan langsung terdampak oleh banjir besar yang melanda Kabupaten Pangkep selama beberapa hari. Ini bisa dikategorikan sebagai force majeure atau kejadian alam yang sulit diprediksi,” ujar Sardi saat dikonfirmasi, Selasa (5/8/2025).

Menurut dia, bagian yang terdampak telah diperbaiki melalui mekanisme pemeliharaan rutin yang merupakan bagian dari masa tanggung jawab kontraktor setelah proyek rampung. Pihak pelaksana juga menyatakan bahwa gedung tersebut telah digunakan selama hampir sembilan bulan untuk berbagai kegiatan, meski peresmiannya baru dilakukan secara formal beberapa waktu lalu.

Terkait sejumlah pemberitaan mengenai temuan administrasi dalam proyek ini, pelaksana proyek menyebut hal itu lebih disebabkan oleh kelalaian administratif, terutama kekurangan data pendukung (backup data), bukan pada kualitas pekerjaan fisik.

“Proses pengembalian (anggaran) dilakukan sebagai bentuk itikad baik, meskipun belum melalui sidang Tuntutan Ganti Rugi (TGR) atau penerbitan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM). Kami tetap mematuhi prosedur hukum dan menyertakan jaminan sesuai ketentuan,” tambah Sardi.

Sementara Direktur perusahaan pelaksana proyek, Ilham, turut memberikan penjelasan bahwa kondisi tanah menjadi faktor utama penyebab melesaknya bagian rabat tersebut. Ia mencontohkan proyek jalan beton nasional di wilayah Maros–Pangkep–Parepare yang juga rentan terhadap pergerakan tanah dan banjir meskipun dibangun dengan spesifikasi teknis tinggi.

“Ini bukan soal kekurangan material atau pemadatan. Murni karena kondisi tanah dan dinamika alamiah yang bisa menyebabkan penurunan struktur di permukaan. Hal seperti ini umum terjadi dan biasa ditangani melalui kegiatan pemeliharaan,” ujarnya.

Ilham juga menegaskan bahwa banjir besar sempat merendam gedung perpustakaan selama beberapa hari. Namun, tidak ditemukan kerusakan berarti pada struktur utama gedung, yang menunjukkan bahwa konstruksi bangunan tetap terjaga. (*)