SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Komisi II DPRD Kabupaten Pangkep mendesak Perum Bulog segera menuntaskan persoalan gabah yang membuat petani padi mengalami kerugian signifikan.
Desakan ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) yang dipimpin Ketua Komisi II HM Lutfi Hanafi, dan Wakil Ketua DPRD Pangkep, Muhtar Salih, di Aula DPRD Pangkep, Kamis (8/5/2024).
Dalam pertemuan tersebut, keluhan petani disampaikan oleh Kapt Inf Muh Nawir dari Kodim 1421/Pangkep.
Dia mengungkapkan, minimnya armada pengangkut menyebabkan gabah hasil panen tertahan hingga empat hari sebelum dijemput oleh Bulog. Kondisi diperburuk dengan terbatasnya mitra Bulog yang hanya beroperasi di Maros dan Sidrap.
“Kami mohon DPRD Pangkep menyampaikan aspirasi petani ini ke pemerintah pusat. Kekurangan sarana transportasi menyebabkan kerugian besar. Gabah tidak bisa langsung diangkut, dan akhirnya kualitas menurun,” kata Nawir.
Nawir menambahkan, Babinsa bahkan harus berjaga di lokasi panen untuk memastikan kualitas gabah tetap terjaga. Jika gabah tidak segera dikeringkan, ia berisiko tumbuh kecambah dan kehilangan nilai jual. Harga gabah yang semula bisa mencapai Rp6.500 per kilogram bisa turun menjadi Rp6.100 hingga Rp6.300.
“Petani terpaksa menjual gabah dengan harga lebih murah kepada pengusaha lokal demi menutup biaya produksi,” ujarnya.
Persoalan lain yang mencuat adalah minimnya fasilitas pengeringan gabah. Kondisi ini memaksa petani menjual hasil panen lebih cepat dengan harga di bawah standar.
Menanggapi hal itu, Arfendi Iskandar Putra dari Bulog Makassar memaparkan alternatif solusi berupa teknologi pengeringan berbasis energi matahari atau solartum. Metode ini diklaim ramah lingkungan dan hemat energi, namun efektivitasnya bergantung pada kondisi cuaca.
Sementara itu, Andi Sadda yang turut hadir dalam rapat mengingatkan pentingnya memperhitungkan dampak lingkungan jika teknologi pengeringan skala besar mulai diterapkan.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Pangkep, Muhtar Salih, menegaskan komitmen pihaknya untuk memperjuangkan persoalan ini hingga ke tingkat pusat. Ia meminta Bulog segera meningkatkan kapasitas logistik, termasuk armada angkut dan infrastruktur pengeringan.
“Kami mendorong evaluasi sistem kerja Bulog. Pangkep punya potensi besar menjadi sentra produksi padi, tapi ini tak akan tercapai jika logistik dan pengeringan tak diperbaiki,” tegasnya.
Muhtar menambahkan, dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan petani. Infrastruktur yang memadai, menurutnya, menjadi kunci utama dalam mengamankan hasil panen sekaligus menjaga kestabilan harga di tingkat petani.


Tinggalkan Balasan