SimpulRakyat.co.id, Makassar – Kuasa hukum keluarga almarhum Virendy, Yodi Kristianto SH MH mengungkapkan, penanganan kasus kematian mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), Virendy Marjefy Wehantouw (19) hingga kini belum ada titik terang dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Maros.
Selain itu, Yodi Kristianto juga menyebut, pihak Unhas secara kelembagaan tak kunjung menemui orangtua Virendy untuk membahas keinginan keluarga korban sebagai bentuk pertanggung jawaban kampus merah tersebut.
Hal itu disampaikan Yodi Kristianto lewat keterangan tertulisnya ke Redaksi SimpulRakyat.co.id, Selasa (7/3/2023).
Yodi Kristianto mengatakan, keluarga besar almarhum menyesalkan sikap Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa beserta pejabat terkait di jajarannya yang terkesan tidak mau bertanggung jawab terhadap kematian mahasiswanya itu.
“Tidak adanya tanggung jawab inilah sehingga pihak keluarga besar almarhum Virendy pun menilai Rektor dan sejumlah petinggi Unhas tak punya rasa kemanusiaan. Dengan penuh dukacita yang mendalam, keluarga besar almarhum hanya bisa pasrah menerima perlakuan tersebut dan mendoakan semoga peristiwa seperti ini tidak mereka (petinggi Unhas-red) alami kelak di kemudian hari,” ucap Yodi.
Menurut pengacara muda itu, sebenarnya untuk menyelesaikan dengan baik kasus kematian Virendy ini bukanlah hal yang sulit, jika saja para petinggi kampus merah tersebut mau rendah hati dan melakukan mediasi atau pendekatan persuasif kemanusiaan kepada keluarga almarhum yang notabene juga adalah alumni Unhas.
“Dalam pemberitaan beberapa media, Kabag Humas Unhas kala masih dijabat Supratman mengumbar-umbarkan bahwa pihak Unhas akan datang secara kelembagaan, melakukan pertemuan dengan orang tua almarhum untuk membahas segala hal yang diinginkan pihak keluarga, sebagai bentuk pertanggung jawaban Unhas,” tambah dia.
Bahkan, lanjut Yodi, Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof Dr Muhammad Isran Ramli, dalam wawancara live di TvOne, secara gamblang menegaskan bahwa duka yang dialami keluarga almarhum Virendy adalah juga duka bagi Unhas.
“Dia (Dekan FT-red) menyatakan pula bahwa komunikasi dengan keluarga almarhum akan berjalan lancar dan tidak ada hambatan karena orang tua almarhum adalah alumni Unhas dan tentunya merupakan keluarga besar Unhas,” imbuh dia.
“Pernyataan Kabag Humas Unhas dan penegasan Dekan FT Unhas itulah yang ditunggu realisasinya,” tegas Yodi.
Pada kesempatan ini, Yodi meminta pihak Unhas melakukan intropeksi diri, apakah sudah pernah datang secara khusus atau kelembagaan menemui orang tua almarhum Virendy untuk membahas terkait berbagai hal seperti yang diumbar-umbarkan lewat pemberitaan media-media.
“Benarkah duka keluarga adalah juga menjadi duka Unhas?,” ketusnya.
“Saya pribadi merasa sangat prihatin melihat apa yang dialami keluarga almarhum Virendy. Ibarat peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Artinya duka mendalam akibat tewasnya Virendy telah mereka terima, dan kemudian harus ditambah lagi menanggung beban baik moril maupun materiil,” tambah dia.
Padahal, kata Yodi, pihak Unhas selaku institusi yang paling bertanggung jawab atas peristiwa kematian mahasiswanya, seharusnya sangat diharapkan membantu meringankan beban keluarga, bukan justru memperlihatkan sikap yang terkesan lepas tangan dengan berpolemik lewat penggiringan opini publik di beberapa media.
Secara akal sehat, lanjut Yodi, apa yang menjadi harapan pihak keluarga almarhum tidaklah berlebihan dan masih wajar-wajar saja.
“Meskipun harapan-harapan keluarga korban dipenuhi pihak Unhas, toh tetap tidak mungkin bisa membuat Virendy hidup kembali. Semua itu hanya bisa jadi pelipur lara bagi keluarga dan membuat almarhum tersenyum penuh sukacita di alam sana,” imbuh dia.
Yodi mengisahkan, almarhum Virendy semasa hidupnya dilahirkan dari ibunya dengan penuh perjuangan hidup, kemudian dibesarkan oleh kedua orang tuanya, disekolahkan mulai TK, SD, SMP dan SMA hingga menginjakkan kaki di Unhas, tentunya mengeluarkan biaya tidak sedikit dengan harapan dan cita-cita kelak menjadi orang berguna bagi keluarga serta masyarakat umum di tanah air.
“Namun kenyataan pahit harus dialaminya, nyawanya terenggut saat mengikuti kegiatan Diksar yang direstui oleh pihak kampus, sehingga pupus dan sirnalah semua impian keluarga,” ungkap Yodi.
Lanjut dikatakan, meski dalam keadaan terpaksa untuk bergabung di organisasi UKM Mapala 09 SMFT Unhas, hingga kemudian harus mengikuti kegiatan Diksar & Ormed XXVII, almarhum Virendy meninggalkan rumah kediamannya di Perumahan Taman Telkomas secara baik-baik dan kondisi sehat pada Minggu (08/01/2023) malam.
Yodi juga menyebut, selayaknya pihak panitia Diksar atau pengurus UKM Mapala 09 FT UH memulangkan Virendy ke keluarganya secara baik-baik, meski sudah dalam kondisi bagaimanapun yang dialami almarhum.
Namun faktanya, kata Yodi, keluarga menemukan Virendy sudah terbujur kaku di kamar jenazah Rumah Sakit Grestelina, dan membawanya pulang ke rumah setelah harus menyelesaikan dulu biaya cukup besar untuk penanganan RS terhadap mayat Virendy, mulai dari ruang IGD, kamar jenazah, hingga di Rumah Duka Kasih guna dimandikan serta disuntik formalin.
“Sejumlah biaya cukup besar harus menjadi beban keluarga untuk penanganan mayat almarhum Virendy mulai dari ruang IGD, kamar jenazah, Rumah Duka Kasih di RS Grestelina, kemudian dibawa ke rumah Telkomas guna disemayamkan selama beberapa hari hingga dimakamkan Senin (16/01/2023) dan pelaksanaan otopsi Kamis (26/01/2023) di Pekuburan Kristen Pannara, maupun rencana membangun permanen dan mengatapi makamnya,” ungkap Yodi.
Mengakhiri keterangannya, Direktur Kantor Pengacara dan Konsultan Hukum YK & Partners ini menambahkan, sebagai orang beragama dan punya hati nurani, Rektor dan para petinggi Unhas digugah untuk memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam, guna menunjukkan tanggung jawabnya secara nyata, bukan hanya lewat mengumbar kata-kata tidak sesuai fakta di pemberitaan media-media.
Baca Juga:Â Hak Jawab: LBH Unhas Bantah Rektor Tidak Peduli Meninggalnya Virendy
Menanggapi pernyataan dan penilaian kuasa hukum keluarga almarhum Virendy, Kepala Bagian (Kabag) Humas Unhas, Ahmad Bahar yang dihubungi awak media ini via pesan singkat WhatsApp (WA) pada Selasa (07/03/2023) siang, membantah jika disebut pihak Unhas tidak perduli atas wafatnya Virendy Marjefy Wehantouw yang tewas saat mengikuti kegiatan Diksar & Ormed XXVII UKM Mapala 09 FT Unhas pada pertengahan Januari lalu.
“Tidak benar kalau disebutkan Unhas tidak perduli atas wafatnya Virendy. Karena waktu di rumah sakit, pak Dekan datang. Ke rumah duka juga Direktur Kemahasiswaan, mewakili Rektor juga datang,” kata Ahmad Bahar.
Ahmad Bahar juga mengemukakan, perihal tudingan terhadap Unhas tersebut sudah diklarifilasi melalui pemberitaan sejumlah media sejak 22 Februari 2023 lalu.
Menurutnya, banyak media yang memuat klarifikasi tersebut. Ia pun mengirimkan 1 link berita media online yang berjudul “Rektor Unhas Dituding Tidak Peduli Anggota Mapala yang Meninggal, Prof Anwar Borahima Beber Faktanya”. (**)


Tinggalkan Balasan