SimpulRakyat.co.id – Perayaan Hari Sumpah Pemuda yang ke-93 di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, dilaksanakan di Lapangan Gelanggang Remaja Cendrawasih Biak, Kamis 28 Oktober 2021 lalu. Di tengah-tengah undangan yang ada, hadir Direktur Akademi Keperawatan, Dr. La Jumu, S. Kep., Ns., S. Sos., M. Ap yang dengan penuh kerendahan hati memasuki arena upacara ikut membaur dengan para mahasiswanya yang sedang berbaris di lapangan upacara, yang seyogyanya duduk di tengah-tengah para tamu undangan VIP.

Doktor lulusan Universitas Cendrawasih dengan spesifikasi ilmu sosologi ini memiliki sejumlah pengalaman menangani pendidikan formal terkait dunia kesehatan, mulai merintis berdirinya Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), Akademi Perawat dan Akademi Kebidanan yang merupaka bagian dari Prodi Keperawatan dan Kebidanan Politeknik Kesehatan Provinsi Papua dan telah menelorkan ribuan lulusan yang kini mengabdi di pelosok Tanah Papua, termasuk daerah lain di seantero Indonesia.

Sebagai sesama kolega pengajar, saya mencoba menggali informasi terkait spesifikasi keahlian yang selama ini diajarkan di kampus sebagai bekal bagi output mahasiswanya kelak di tengah masyarakat.

Peran Mahasiswa Keperawatan Sebagai Pemuda

Selaku dosen sosiologi keperawatan, Dr La Jumu memeliki pemikiran sosiologis terkait peran pemuda yang adalah mahasiswanya sendiri bagi bangsa Indonesia. Bertolak dari pidato Bupati Biak Numfor pada upacara bendera 28 Oktober di lapangan Gelanggang Remaja, Dr. La Jumu merujuk pandangan filosofis Ernest Renan dan Otto Baver tentang konsep kebangsaan pada tataran peran kaum muda (groudslog dan weltanschaung), katanya, “Negara merdeka didirikan bukan untuk satu orang, bukan untuk satu golongan suku atau agama. Negara Indonesia adalah negara kebangsaan yang dimaknai sebagai satu untuk semua tanpa batas gegografis dalam relasi sosial. Mahasiswa sebagai pemuda bangsa Indonesia, harus mencontohi dan mewarisi semangat kaum muda Indonesia 93 tahun silam yang memiliki gagasan cemerlang terkait “Sumpah Pemuda” yang kini dirayakan sebagai tonggak sejarah perjuangan kaum muda generasi Bangsa Indonesia.

Konsep patriotik Pemuda Indonesia 93 tahun silam menurut Dr La Jumu, secara sosiologis diwariskan dari generasi ke generasi dalam memaknai perannya. Korelasi peran pemuda yang adalah para mahasiswa Program Studi Keperawatan pada tataran sosiologis, Dr La Jumu menekankan beberapa hal:

Pertama, globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pemuda yang adalah mahasiswa dalam proses perkuliahan dibekali dengan konsep-konsep rasional-analitis berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara link and match, mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada perubahan relasi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang merupakan kumpulan individu-individu dengan sistem nilai, pola relasi, sikap dan perilaku tersendiri sehingga kelak konsep-konsep rasional-apliktif di masyarakat tidak terdapat benturan.

Kedua, pelayanan prima menjadi satu tuntutan penting bagi seorang perawat di era modern. Tidak sederhana untuk mewujudkan tenaga kesehatan yang professional, harus (a) memiliki pengalaman pendidikan kesehatan, (b) kompeten dalam melaksanakan praktik kesehatan yang bermutu dan manusiawi (good clinical practice), serta (c) menerapkan sistem dan cara pelayanan kesehatan yang bermutu serta beretika (good clinical governance).

Ketiga, ribuan lulusan tenaga professional keperawatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat sampai di kampung-kampung terisolir sekalipun, wajib dibekali pemahaman kultur masyarakat setempat dalam pendekatan relasi sosialnya. Latar belakang mahasiswa dari berbagai suku, agama, budaya yang berbeda dididik menjadi tenaga kesehatan profesional. Heterogenitas latarbelakang para pemuda yang adalah mahasiswa dibekali sejak dini, agar kelak mampu berdifusi dengan lingkungan tempat pengabdiannya tanpa gap relasi sosial.

Bahkan ketika obat-obat kimia yang disediakan di puskesmas atau puskesmas pembantu di desa-desa tidak ada sama sekali, tindakan prefentif dilakukan dengan obat-obat tradisional setempat tanpa mengurangi standar kualitas pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Untuk itu para mahasiswa dibekali dengan mata kuliah transcultural mendic dengan tujuan dimaksud.

Lingkungan Jasmaniah Menentukan Stategi Pertolongan Medis

Dr La Jumu mereduksi lingkungan jasmaniah masyarakat memiliki peran penting dalam pengembagan penyakit. Relasi-ralsi sosial yang tidak pro dunia kesehatan mempermudah penyebaran penyakit. Ia mencontohkan dunia psikotropika, kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat, mengonsumsi air yang tidak memenuhi standar kesehatan dan lain sebagainya.

Bagi Dr La Jumu para perawat sejak dini diberi kesadaran bahwa perlu memperhitungkan faktor-faktor sosial, artinya praktik pelayanan kesehatan masyarakat bukan semata-mata menjadi tanggungjawab para medis termasuk perawat melainkan menjadi kewajiban semua orang dalam relasi sosinya termasuk harus berpijak pada budaya tempat atau locus pelayanan kesehatan masyarakat tempat para mahasiswa mengabdi.

“Bagaimanapun juga para tenaga medis harus dapat membagi perhatian pada masalah lain di luar pengetahuan medis sewaktu-waktu menghadapi pasien. Dalam konteks interaksi seorang pasien menyampaikan keluahannya kepada tenaga medis, para medis tidak harus memahami batasan-batasan yang jelas antara patologis organis, psikologis atau patologis sosial akan tetapi melalui gangguan fisik, seorang perawat didorong mencari solusi melalui pertolongan medis,” demikian Dr La Jumu menjelaskan.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Berbagai Elemen Masyarakat

Selaku pembina upacara di Hari Ulang Tahun Sumpah Pemudah 28 Oktober 2021, Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap, S. Si., M. Pd didampingi Danrem 173/PVB Brigjen TNI Taufan Gustoro, Pangkosek Hanudnas IV Marsma TNI Bonan Bayu Aji, Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Donald Kasenda, ST., S. IP, Pimpinan BUMN, BUMD dan Kepala OPD Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan sejumlah undangan, para mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta, SMA/ SMK dan tidak ketinggalan organisasi kepemudaan dari semua suku yang ada di Kabupaten Biak Numfor.

Dr La Jumu melihat kehadiran Bupati Biak Numfor dan seluruh Muspida pada acara peringatan Hari Sumpah Pemuda, menunjukkan betapa pemerintah peduli dan didukung penuh peran pemuda Biak Numfor dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selaku Pendiri dan Penggagas dua Program Studi Poltekes Kemenkes RI di Biak, Dr La Jumu mengucapkan terima kasih kepada Pemda kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori yang mana lulusan atau output Prodi Keperawatan dan Kebidanan Politeknik Kesehatan Provinsi Papua kelas Biak telah banyak terserap di dunia kerja baik di rumah sakit, puskesmas, Puskesmas pembantu yang tersebar di seluruh pelosok dua kabupaten ini. Peran Pemuda dalam dunia kesehatan sangat dibutuhkan hadir dan hidup di tengah masyarakat yang harus terus berperilaku sehat dalam kesehariannya.

Penulis: Paulus Laratmase