SimpulRakyat.co.id, Maros – Sepuluh mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas yang tergabung dalam satu tim berhasil lolos seleksi Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ke sepuluh mahasiswa tersebut adalah Prodi Kehutanan 2019 sebagai ketua, sementara sembilan anggotanya anggotanya dari Prodi Kehutanan 2018, yakni Tumanan, Marwan Rajab, Isnul Karima Tullah, Nurfadilah Latif, Nirmala Armidha, Marshabilla, Khairunnisa Salsabillah, dan Andi Mustainah Rusli, sementara dari Prodi Kehutanan 2019, yakni Diky Wahyudi.

Tim ini didampingi Dosen Fakultas Kehutanan Unhas, Dr Ir Sitti Nuraeni, M.P.

Diketahui, PHP2D adalah kegiatan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan atau Lembaga Eksekutif Mahasiswa.

Mahasiswa pelaksana PHP2D ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera.

Judul program mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas yang berhasil lolos pada lPHP2D adalah “Pengembangan Kampung Tematik Lebah Trigona Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Desa Rompegading Kabupaten Maros”.

Pemilihan Desa Rompegading, Kabupaten Maros sebagai lokasi dalam melaksanakan kegiatan PHP2D dan latar belakang melakukan budidaya Lebah Trigona.

Program kegiatan budidaya lebah trigona dimulai sejak awal Agustus hingga akhir November dan sekarang masih dalam proses berjalan.

“Desa Rompegading kami pilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan PHP2D karena desa ini memiliki kondisi lingkungan yang masih cukup baik untuk melakukan budidaya Lebah Trigona,” kata Andi Prastiyo ke media ini, Jumat (22/10).

Lanjut diterangkan, Desa Rompegading juga masih berada di kawasan Hutan Pendidikan Unhas yang seiring dengan berjalannya waktu akan dapat menjadi ancaman eksistensi Hutan Pendidikan itu sendiri.

“Melalui program ini secara perlahan diharapkan dapat merubah paradigma masyarakat yang orientasinya merambah hutan dengan menebang kayu menjadi pemahaman pemanfatan hutan lebih holistik, di antaranya pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Hutan merupakan sumber tambang polen dan nektar bagi lebah sehingga tercipta kesadaran memelihara kelestarian hutan yang secara otomatis juga memelihara habitat lebah,” terang dia.

“Melalui program ini akan membawa masyarakat agar lebih fokus memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yaitu salah satunya dengan membudidayakan lebah trigona itu sendiri dan hutan dapat terjaga baik secara lestari dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu secara produktif,” tambah Andi Prastiyo.

PHP2D dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pelatihan dan pendampingan masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan konsep blended, yaitu luring dan daring, namun hampir seluruh kegiatan akan dilakukan secara luring dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat, adapun kegiatan utama dalam program ini, yaitu sosialisasi awal, penyuluhan dan pelatihan, serta pendampingan dan evaluasi.

Beberapa tahapan-tahapan seleksi PHP2D terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap seleksi administrasi, tahap seleksi substansi, tahap seleksi akhir dan pengumuman proposal lolos didanai.

Kegiatan yang telah dilaksanakan, yaitu mulai dari persiapan pelaksanaan, survei mendalam kepada kelompok sasaran, pembentukan kelompok perhutani lebah trigona, sosialisasi kepada masyarakat desa sasaran, pembibitan pakan lebah, perataan lokasi budidaya lebah, pembuatan rumah budidaya lebah, penanaman bibit/ pakan lebah disekitar lokasi, dan pengadaan koloni lebah trigona.

Program pemberdayaan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat kelompok sasaran.

Hal ini diutarakan oleh Jumdan selaku Ketua Kelompok Perhutani Desa Rompegading.

“Semoga kegiatan budidaya lebah trigona ini dapat bermanfaat bagi masyarakat kelompok perhutani dan menambah perekonomian masyarakat setempat serta mengurangi masyarakat dalam berburu lebah liar di alam yang memiliki resiko tinggi,” ujar dia.

Dikatakan pula, Program PHP2D ini, mitra akan dilatih agar dapat membudidayakan lebah trigona sampai pemanenan madu, membuat kemasan produk, memasarkan produk secara online dan membina komunitas agar lebih terstruktur.

“Dengan demikian, kami berharap apabila mitra telah memiliki keterampilan dalam budidaya lebah trigona dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar, hal ini menjadi langkah awal bagi masyarakat desa binaan untuk memulai usaha budidaya lebah trigona sehingga akan tercipta kampung tematik yang mandiri dan peduli lingkungan,” pungkas dia.

Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita